fbpx

4 Tontonan untuk Mengalihkan Kita dari Narasi Teror dan Radikalisme Berita Nasional

Daripada mengikuti berita mengenai terrorisme yang tak kunjung henti cuman menjual narasi ketakutan, mending meluangkan waktu untuk mengkonsumsi informasi baru yang mengubah perspektif kita untuk menyikapi radikalisme.

Sebuah ledakan bom rakitan di kamar rumah susun sederhana sewa, serangan bom bunuh diri oleh sekeluarga di tiga gedung gereja berbeda di Surabaya, dan sebelumnya; sebuah kerusuhan dimana sejumlah napi teroris menahan penjara markas brigadir khusus paramiliter Kepolisian Indonesia di Depok. Ketiga insiden ini terdokumentasi oleh mayoritas outlet media nasional dan menayangkan hasil aksi kekerasan yang mengorbankan puluhan nyawa, oleh sejumlah tersangka yang menjalani paham radikal.

Jika mengikuti berita yang berlanjut dari akhir pekan lalu pada Minggu (13/5), sejumlah besar media massa secara berlanjut mewartakan rentetan serangan teror yang merenggut sejumlah besar nyawa dari beberapa daerah di Pulau Jawa. Yakni dari Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, dan Kota Depok. Baik media cetak, siar ataupun online akan terus menayangkan informasi terkini tentang apapun yang berhubungan dengan peristiwa yang mengerikan ini.

Dari informasi mengenai The Mother of Satan (nama panggilan bom yang digunakan pada serangan di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya) hingga dugaan popstar papan atas Ahmad Dhani mengenai adanya sebuah konspirasi gelap di belakang aksi teror ini. Apakah sebenarnya penting pendapat Ahmad Dhani tentang aksi teror ini, ya sebenarnya jelas enggak. Tapi konten media secara konstan diterbitkan tiap hari. Orang-orang akan terus mengkonsumsinya juga.

Dalam sebuah video essay buatan Vox Media, dijelaskan bahwa konten berita yang memiliki narasi aksi teror lebih menarik perhatian penonton lebih daripada berita lain. Ini karena rata-rata konsumen media lebih tertarik dengan elemen cerita dibanding fakta atau stasitistik data yang berhubungan dengan berita yang diterbitkan.

Jadi dibanding kalian konsumsi informasi dari outlet media nasional yang sekarang lagi memanfaatkan genetic hardwire otak kalian dengan update berita teror dan panas-panasan paham radikalisme. Mendingan kalian luangkan waktu untuk nonton beberapa dokumenter rekomendasi dari kita, yang lebih berguna untuk menghadapi krisis paham radikalisme yang sedang mewabah di nusantara ini.

The Eagles of Death Metal: Nos Amis

Jelas kita pasti ingat dengan serangan teror di Paris, November 2015. Semua orang di social media memasang filter bendera Perancis di profile picture mereka, itu salah satunya cara untuk orang menunjukan dukungan mereka kepada rakyat kota Paris yang mengalami 137 pembunuhan karena beberapa anggota sel teror yang bersenjatakan senapan laras panjang membantai orang orang mengatasnamakan kepercayaan religi mereka.

Dokumenter ini memperlihatkan perjalanan The Eagles of Death Metal, sebuah band yang saat itu sedang manggung di Bataclan saat aksi teror tersebut terjadi. Cerita dari band garage-glam yang dipimpin oleh Jesse Hughes ini memang menjadi perspektif utama. Tapi mengikuti cerita sang vokalis setelah pengalamannya di Bataclan menjadi orang yang lebih menganut konservatif ala Trumpism merupakan sisi paling menarik dari efek aksi teror pada ego seorang frontman.

The Giant Buddhas

Pada tahun 2001, kepemimpinan Taliban memutuskan bahwa segala bentuk seni atau prasasti prasejarah non-Muslim yang berada di Afganisthan harus dihancurkan. Termasuk sejumlah patung Buddha di daerah Lembah Bamiyan setinggi 34 dan 54 meter tingginya, kedua patung ini diperkirakan sudah berdiri sejak 1500an tahun yang lalu.

Dokumenter ini menjelaskan sejarah dan keterikatan budaya yang ada pada patung patung ini untuk Afghanistan, narasinya mengambil beberapa perspektif; dari penduduk sekitar yang ingin kembali ke tanahnya untuk melihat kekosongan lembahnya, seorang arkeolog yang sedang mencari keberadaan sebuah patung tersembunyi, dan seorang reporter yang meliput proses penghancuran artefak bersejarah tersebut.

A Girl in The River: The Price of Forgiveness

Dokumenter ini mengikuti cerita Saba, seorang perempuan yang pada umur delapan belas tahun yang karena kawin lari; dihajar oleh ayah dan pamannya, kepalanya ditembak, dikarung dan dibuang ke sungai. Lalu selamat.

Cerita ini mengikuti sebuah proses pencucian nama baik keluarga. Hampir setiap tahunnya di Pakistan lebih dari 1000 perempuan menjadi korban pembunuhan oleh anggota keluarganya sendiri karena dianggap melakukan dosa yang besar hingga mempermalukan keluarganya.

Ayah dan Paman Saba akhirnya dilepas oleh aparat kepolisian, karena di Pakistan tindakan kriminal bisa ditidaklanjutkan oleh hukum jika diampuni oleh pihak keluarga korban, yakni mereka sendiri.

Jonestown: The Life and Death of The Peoples Temple

Secara pop-culture peristiwa bunuh diri massal di Jonestown, Guyana merupakan salah satu paling sering di reference. Dari music video Cults yang menggunakan footage asli dari dokumentasi grup tersebut, hingga penggunaan kalimat “drink the kool-aid” untuk menjelaskan seseorang yang memakan paham radikal secara buta-buta.

Memang paham yang di promosikan oleh Jim Jones bukanlah sesuatu yang sebagaimana mengerikan ataupun primitif. Tetapi keputusannya untuk membawa 900 orang lebih untuk mengambil nyawa mereka tetap sebuah misteri, karena apapun jawabannya hilang bersama mereka pada hari itu.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Semalam Saja: Kultur Music Disco Di Kota Bertuah

Kolektif bernama "Semalam Saja" bawa musik disco masuk Pekanbaru

Detroit Pistons, Techno, dan Trump Menurut Joe Casey dari Protomartyr

Diskusi Bebas Problema Kota Detroit, Techno, Punk Dan Sedikit Trump Bersama fron...

Seni Berhala Seni, Menghitung Nilai Investasi di Art Jakarta 2018

Seorang pria berjaket kuning mencairkan suasana serius dengan lawan bicaranya s...

KOLEKSI: Lagu Indonesia Langka dalam Koleksi Merdi Diskoria, Indo Cosmic hingga Guruh Anti Narkoba.

Untuk seorang kolektor vinyl seperti Merdi Simanjuntak, berbagai ragam bentuk pe...