fbpx

Apocalypso: Serangkai Usaha Merangkai Bunyi

Dari lokakarya, pementasan, hingga lantai dansa.

Hari Pertama

Tuck and Trap menjadi check point kami yang baru saja pulang bekerja. Dari sana kami berangkat bersama ke Tantra, sebuah ruang kreatif yang menjadi lokasi sesi workshop Apocalypso. Terletak tidak jauh dari Tuck and Trap, kami tancap gas bareng seperti konvoy yang aneh. Dikarenakan para musisi/penampil di Apocalypso yang memakai dan merespon benda-benda tak biasa dan bukan alat musik. Dari kejauhan kami terlihat seperti tukang bangunan.

Dalam sesi workshop, setiap penampil mewakili masing-masing peran dari konsep Apocalypso yaitu IndoNoise. Semua sibuk mengulik bebunyian dan rupa yang akan ditampilkan esok hari di Tuck and Trap. Selain ‘ngulik’, ada pula sesi rekam wawancara tentang ide dan maksud dari Apocalypso. Bersama Studioma yang lengkap mendokumentasikan perjalanan acara Apocalypso dalam 3 hari kedepan.

Hari Kedua

Set panggung yang dari kejauhan sudah terlihat, walaupun kecil tapi membuat orang-orang yang melintas di Jalan Raya Kedampang menoleh dua kali. Hari kedua adalah waktunya tampil. Siap dengan kostum layaknya ilmuwan yang berlindung dari kontaminasi virus berbahaya, satu persatu pun memasuki area panggung. Yang dibungkus plastik putih sedemikian rupa, seakan terlihat seperti laboratorium forensik dimana orang jahat memusnahkan barang bukti.

Grintabachan/Enggohoi tampil pertama. Dalam tema IndoNoise, Ia memilih Indomie untuk di respon. Sebuah sensor suara dimasukan kedalam bungkus Indomie goreng lalu di kremes-kremes, mirip seperti anak kos yang lapar tapi enggak punya kompor. Kasar dan amarah yang didapat dari penampilannya malam itu mungkin juga disebabkan oleh endapan zat pengawet yang terkandung di dalam mie instant yang sudah bertahun-tahun kita konsumsi.

Penampilan kemudian dilanjutkan oleh Jaga-Jaga yang menelepon operator Indosat lalu membuat sampling dari mesin penjawab otomatis provider tersebut. Live sampling dan looping ditambah beat khas Jaga-jaga yang harsh, para penonton pun riuh rendah menyoraki seakan-akan setuju kalau iya; kita sedikit banyak ditipu oleh para penyedia jasa komunikasi. Dilanjutkan oleh Glibly Ninja, yang menggergaji kaleng susu kental manis IndoMilk. Di gergajinya sudah terpasang sensor suara untuk menangkap perasaannya yang berkata “Ini bukan susu, tapi ini gula. Ini bukan protein ekonomis, tapi ini diabetes abis!”

Setelah Glibly Ninja, Putu Kawi pun naik keatas panggung membawa TV flat screen yang menayangkan acara pencarian bakat dangdut yang bukan tentang bakat– tapi lebih tentang lawakan slapstick murah di Indosiar. Putu Kawi dikenal senang menampilkan proyeksi seni visual yang dibuat manual– tanpa resolume, bahkan tanpa laptop, dari tv tuner atau dvd player yang diutak-atik. Juga mengalih fungsi-kan Nintendo DS menjadi chiptune. Kesetrum adalah hal biasa buatnya. Ia mendistorsi tayangan di TV dengan musik noise yg dihasilkan dari static TV itu sendiri.

Penampilan terakhir yang ditunggu adalah dari Soon Crazy. Pria asal Gianyar yang akrab dipanggil Odun ini terlihat berbeda sekali ketika di panggung. Dengan kostum yang sama seperti penampil lain, Ia menutup mukanya dengan plastik keresek putih, menyisakan lubang kecil di depan hidung dan mulutnya untuk bernafas dan merokok. Menenteng kapak yang Ia buat sendiri, dilengkapi dengan sensor suara. Soon Crazy lebih terlihat seperti Jason Voorhees ketika Ia mengayunkan kapaknya ke sebuah sak Indosemen. Hantaman demi hantaman membuat area panggung dipenuhi debu semen, tapi penonton semakin bersemangat.

Setiap ayunan seakan-akan mewakili banyak suara-suara kecil yang hanya ingin hak hidupnya untuk tidak dirampas.

IndoNoise adalah sebuah konsep. Bahwa malam Apocalypso adalah sebuah gerak dalam mengamini bahwa spektrum musik itu terlalu lebar untuk dimasukan kedalam kotak kecil berjudul genre. Tema yang terkesan berat tidak membut penonton beranjak. Karena bagi mereka semua yang ditampilkan terasa terasa relevan.

Hari Ketiga

Di hari ke-tiga Apocalypso pindah ke daerah Seminyak, tepat di kompleks Potato Head Beach Club, Studio Eksotika, sebuah listening room untuk para audiophile untuk menjelajahi tembang-tembang dari Indonesia sampai psych dan jazz new age dari Jepang, perpustakaan bagi pencinta musik-musik yang tidak dapat kita temui di media-media modern saat ini.

Malam ‘Selera Nusantara’ ini dimeriahkan oleh Gero (studioeksotika), Kai (Tantra), dan Munir (Midnight Runners), yang kehandalan nya sebagai selektor sudah tidak diragukan lagi. Malam selebrasi untuk Indonoise disajikan dari tembang Indonesia sampai ke musik elektronik masa kini, mewarnai malam yang cukup dingin untuk pulau ini. Hujan yang menghiasi di ujung acara Apocalypso pun memberikan kehangatan bagi para aktifis dancefloor.

 

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Arti Leftfield, Sekedar Genre atau Lebih?

Walaupun sejarah kata tersebut muncul dari olahraga orang asing, yang mungkin en...

4 Tontonan untuk Mengalihkan Kita dari Narasi Teror dan Radikalisme Berita Nasional

Daripada mengikuti berita mengenai terrorisme yang tak kunjung henti cuman men...

Berasa Model Peringatan Kesehatan, Dadang Minta Royalti

“Saya yakin itu foto saya meski banyak yang meragukannya,” kata Dadang Mulya...

Angsa Hitam yang Menggabungkan Musik dan Custom Automotive

Melihat penetrasi elemen musik kolaborasi Thrive dan Kimo Rizky di website custo...