fbpx

Cerita dari Record Store

Tempat nongkrong hingga temuan mengejutkan.

Selamat hari rilisan fisik sedunia! Perayaan yang akrab disebut Record Store Day ini emang selalu jadi ajang yang penting buat para kolektor rilisan fisik musik dimanapun. Selain pergi ke toko dan menambah koleksi dengan rilisan-rilisan khusus Record Store Day, di momen sakral ini kami juga mengajak beberapa teman-teman kolektor rilisan fisik untuk mengingat toko musik paling berkesan bagi mereka.

 

Merdi Simanjuntak (Diskoria)

Record store yang paling memorable buat gue itu justru di Jepang; EAD Record di Kouenji. Awalnya gue tau tempat itu dari kompilasi claremont 56, dimana Yozo Kumitake (pemilik EAD) berpartisipasi sebagai kurator dalam salah satu seri kompilasi tersebut. Akhirnya gue mampir ke Jepang dan bela-belain kesana. Pilihan PH-nya juga diverse dan bagus-bagus; reggae, disco,
edits, house, afrobeat, krautrock, jazz, new age, cosmic rock dan lain-lain. Ditambah ownernya yang sangat friendly. Sampai sekarang sih gue masih favorit banget sama itu toko dan jadi tempat mampir tiap ke Tokyo.

 


Samson Pho (Laidback Blues Record Store / Pas Pas Records)

Wah kalo gue tokonya Lian di Jalsur (Jalan Surabaya) sih. Toko itu jadi kayak meeting point anak-anak yang ngumpulin plat dulu. Hampir tiap sore ada aja. Kalau weekend malah rame dari siang.

Jadi kayak tempat ngopi sambil muter plat sambil digging-digging. Sebelom malemnya kemana gitu biasanya kita kesitu. Setiap ada bongkaran di Jalsur jug kita meetingnya disitu, janjian liat, digging bareng-bareng. Enggak ada  yang rebutan dan malah saling ngoper, haha.

 


Reno Nismara (Crayola Eyes / Studiorama)

Di Jakarta, tidak ada pilihan tepat selain kedai piringan hitam kepunyaan Lian di Jl. Surabaya. Awalnya saya kira stok barang di tempat ini sama saja seperti toko lain di sepanjang jalan. Namun begitu debu ditiup dan rak digali, Lian punya banyak koleksi ajaib. Dia pun murah senyum, jauh dari klise pedagang musik snob seperti karakter Jack Black pada film High Fidelity. Saya pernah ke sana satu hari setelah manggung bersama Crayola Eyes (kebetulan Lian jadi salah satu penonton pada malam itu), dia langsung menyodorkan salah satu 12” single-nya Mercury Rev sambil bilang: “Nih, pasti suka. Setipe sama band elo semalam.” Sampai sekarang, saya menganggap itu sebagai salah satu pujian terbaik yang pernah saya terima tentang band sendiri.

Kalau di luar, satu yang paling menempel di ingatan adalah Licorice Pie Records di kawasan Prahran, Melbourne, Australia. Tempatnya tergolong kecil untuk standar toko musik di sana, namun koleksinya jangan dianggap remeh. Saya dapat Kazemachi Roman-nya Happy End dengan harga yang jauh di bawah pasaran. Istimewanya lagi, saya tidak sengaja bertemu dengan Ricky Maymi (gitaris salah satu band favorit saya, The Brian Jonestown Massacre) di sana—saat saya sedang mengenakan kaus bandnya! Kami kemudian berbincang tentang kancah indie rock di Tiongkok, yang di mana dia kemudian malah memberikan plat Carsick Cars-nya kepada saya walau stoknya tinggal satu di Licorice Pie.

 


Rezky Prathama (Avhath / Double Deer)

Kalo gue masih Monka Magic sih, di Jakarta. Karena gue kerja disana dulu. Dan yang juga spesial menurut gue pasti koleksinya yang enggak terpaku ke satu genre. Kebetulan gue dulu jadi buyer dan dituntut untuk enggak hanya nyari title-title yang gue suka doang. Dari situ akhirnya gue banyak ngulik musik-musik baru. Dari yang tadinya enggak tau malah jadi suka deh.

 


Gilang Aditya (Interrupted)

Lighthouse records di Shibuya. Disitu adalah pertama kalinya gue bisa digging di satu toko dalam durasi 5 jam.

Tujuan gue ke Jepang emang ngincar banget rilisan-rilisan Hydeout Production kayak Nujabes, Uyama Hiroto, dan lain-lain yang susah banget dicarinya. Nah disana baru satu kotak gue digging udah nemu aja Nujabes yang ‘Luv Sic part 1’ dengan harga yang OK banget.

Yang jaga toko juga memperkenalkan artis-artis yang mirip genre nya dengan Nujabes. Yaa total abis 20 biji lah akhirnya gue disana. Yang tadinya ada 10 toko di list digging gue harus gue kurangin karena udah abis duitnya di satu toko ini. Tapi sumpah enggak nyesel.

 


Mayo Ramandho

Tetap di Jalan Surabaya, toko nya Lian. Karena disana sering dapet barang-barang yang ajaib. Pas awal-awal gue buka toko Monka Magic sering banget nongkrong dan hunting di jalan surabaya bareng anak-anak. Gue rasa juga disitulah budaya digging mulai berkembang.

 

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Melihat Sisi Positif untuk Skena Jika Kembali ke Jaman Orba

Merasakan iklim politik yang semakin hari semakin dekat dengan 2019, kita harus ...

Katalis Kota: Sepenggal Sejarah Budaya Dance Music di Jakarta

Musik itu angin, partynya fokus, DJ itu udah kayak foto model dan mungkin Jakart...

Bertahan di Tengah Arus Gaya Hidup Makanan Bersama Bakudapan

“Mungkin aku sudah harus memulai untuk mengurangi nasi yang banyak sekali meng...

Seni Berhala Seni, Menghitung Nilai Investasi di Art Jakarta 2018

Seorang pria berjaket kuning mencairkan suasana serius dengan lawan bicaranya s...