fbpx

Cerita tentang OPTIMAL

Catatan atas meriahnya gelaran OPTIMAL.

Nama-nama rapper baru bermunculan, seorang diantaranya mendobrak sejarah; untuk pertama kalinya album hip hop masuk dalam nominasi ‘Album Terbaik’ pada penghargaan musik paling akbar di Indonesia. Lalu belakangan ada beef antar dua rapper lintas generasi yang lantas membengkak jadi blockbuster bagi publik. Hingga digadang-gadang sebagai momentum yang kembali menghidupkan hip hop lokal.

Setiap cerita dan fenomena terkait hip hop dan sekitarnya akhir-akhir ini tentunya membuat kita secara otomatis memberi perhatian lebih terhadap pelaku hingga komunitasnya. Baik atau buruk, pastinya keberadaan hip hop hari ini perlu dirayakan kebesarannya.

Untuk itu Frekuensi Antara dan Syah Establishment kembali menggelar OPTIMAL, festival musik yang menggandeng berbagai kolektif untuk berpentas di satu area. Dimana kali ini kurasi OPTIMAL terfokus pada kolektif hip hop, RnB, urban, dan drum and bass. Event ini digelar pada hari Sabtu, 1 Desember 2018, di empat outlet yang terletak di Fairgrounds – SCBD, yaitu The Pallas, Lucy in The Sky, The Swillhouse, dan The Goods Diner.

Pukul 8 malam di The Pallas, Rencong alias Dangerdope bersama dengan E-One jadi yang pertama tampil. Keduanya menyambut datang para early risers dengan kolaborasi live beat juggling dan sctrach atas nomor-nomor hip hop yang kental dengan sample jazz serta rare groove. Ethnic, Slide dan MC Liquid Silva mengambil alih setelahnya.

Dilanjutkan dengan estafet mikrofon oleh trio Bless The Mic, Matter Mos, dan Tuantigabelas, yang tampil membawakan karya nya masing-masing dengan diiringi oleh DJ Stan. Termasuk diantaranya kolaborasi Mattermos dan Tuantigabelas dalam membawakan ‘The Lighter Song’.

Crowd yang selama dua jam berkumpul di The Pallas mulai menyebar mengisi outlet-outlet lain. Di Lucy in The Sky yang malam itu jadi milik gerombolan In Effect dan De La House, tampil Gerry Blaze yang bertanggung jawab pada sesi warm up. Sedangkan Soul Menace yang menguasai area The Swillhouse memulainya dengan penampilan dari DJ Sliqq.

Dentuman musik paling berbeda terdengar dari area The Goods Diner. Rupanya kolektif dedengkot drum and bass JAVABASS juga mulai melakukan pemanasan. OSGD ditunjuk sebagai penampil pembuka. Para loyalis dari komunitas yang terbentuk di tahun 1999 itu mulai banyak datang dan segera berjingkrakan dalam iringan tempo cepat.

Lewat terang lampunya, lobby Fairground lantas jadi saksi atas sumringah wajah-wajah yang datang. Area ini berperan sebagai melting pot dari empat outlet tersebut, serta ruang pertemuan silang kolektif yang mungkin sudah lama tidak terjadi.

Kembali ke area The Pallas dimana Boyz Got No Brain sudah berdiri gagah di atas panggung. Unit hip hop senior ini bisa jadi merupakan salah satu nama paling ditunggu-tunggu di gelaran OPTIMAL. Bukan tanpa alasan, mereka sedang jadi buah bibir setelah perseteruannya dengan Ben Utomo dan Saykoji memanas.

Panggilan kepada oposisi sempat dilontarkan, “you said you gonna come” kata mereka. Beruntung bahwa semuanya berjalan dengan baik, pertikaian yang sejatinya dielakan (namun pastinya juga ditunggu banyak orang) tidak berlangsung. Tanpa sulut amarah, crowd justru semakin optimal.

BGNB menutup penampilannya dengan pesan damai bermuatan satire “dari yang tua untuk yang muda. Ariel Nayaka!” teriaknya. Sosok dibalik album fenomenal ‘Cadence Blue’ ini lekas mengudeta mikrofon. Langkahnya ke atas meja sekaligus mengangkat euphoria massa.

Ada drum set di atas panggung. Ternyata milik gerombolan Onar yang setelahnya beramai-ramai masuk seberti team tornado tag serial Smackdown. Tidak diduga, pertunjukan dibuka dengan membawakan anthem klasik yang kembali menjadi salah satu lagu paling banyak di-request di radio, ‘Bohemian Rhapsody’ milik queen. Diteruskan dengan nomor ‘High Tendency’ dari Aryo, lalu disusul lagu masing-masing personel.

Naik satu lantai ke Lucy in The Sky, crowd mulai ramai. Greybox dan Ezra Kunze dengan apik tampil menguatkan medan magnet lantai dansa, meski belum banyak yang tergoda untuk menjajalnya. Begitu juga dengan RANDOM, delegasi JAVABASS selanjutnya yang mengajak serta DFMC dan Yacko untuk beradu celoteh di The Goods Diner. Di ruang ini yang jadi soal bukan jumlah pasang kaki, tapi energi yang tidak terhenti.

The Swillhouse rupanya jadi venue terpadat malam itu. Di dalam interiornya yang bergaya futuristik, Sliqq masih memimpin jalannya pesta. Semakin istimewa dengan hadirnya mc rrrend dan Fangtasis yang tampil secara live. Sangat enerjik, penampilan Fangtasis malam itu diiringi dua orang dancer.

Produser elektronik sekaligus disjoki paling tersohor di tanah air, Dipha Barus lalu memulai pentasnya di The Pallas 30 menit setelah tengah malam. Seperti biasa, ia tampil dengan set eklektik yang padat dengan kejutan. Lantai dansa yang disoroti dominasi lampu merah dipenuhi antusias level tinggi.

Semakin tinggi ketika para kolaborator masuk memeriahkan panggung. Seperti Matter Mos, Nayaka, Monica Karina, Laze, hingga Noise dan Ayub Jonn yang malam itu membawakan hasil kolaborasi terbarunya dengan Dipha, yakni gubahan lagu ‘Cukup Siti Nurbaya’ milik Dewa19.

Malam semakin larut. Waktunya para bintang tamu utama untuk beraksi. Salah satunya adalah legenda hidup drum and bass asal Inggris, ANTC1. Pendiri label Dispatch Recordings itu tampil dengan seleksi-seleksi ngebut dan mengawang. DFMC dan Yacko pun semakin gila dalam memandu pesta.

Lalu ada produser urban music dari Belanda, Flava yang menggoyang Lucy in The Sky. Ia memecahkan kebuntuan lantai dansa yang lama lenggang. Padu padan groove dari kombinasi hip hop, trap, twerk, hingga dance hall menghiasi set nya malam itu.

Sedangkan figur sophisticated nan eksentrik asal Brooklyn, Kitty Cash jadi yang paling ditunggu di The Swillhouse. Produser, DJ, singer, sekaligus model yang tenar lewat serial mixtape bertajuk ‘Love the Free’ tersebut tidak hanya menampilkan sederet musik penuh warna. Ia juga memesona lewat energi nya yang luar biasa.

Di The Pallas, Craze tampil memukau. Pemilik gelar “America’s Best DJ” versi Time Magazine ini mempertunukan level permainan yang berbeda. Lewat teknik scratch nya yang diluar akal, Craze menyuguhkan definisi art of DJing yang sebenarnya. Terlihat crowd tidak lantas menari lepas, sesekali diantaranya menggelengkan kepala. Heran akan apa yang sedang disaksikannya.

Setelah peak hour rampung, giliran para penjuru kunci untuk menutup malam. Jerome dan Muztang di area The Goods Diner, Jeremy Jay di Lucy in the Sky, Dubwill di The Pallas, dan P Double di The Swillhouse.

Waktu menujukkan pukul empat pagi, berakhir sudah gelaran OPTIMAL. Muda mudi yang tersisa lalu mengambil langkah pulang. Beberapa diantaranya dipastikan menuju kedai ramen 24 jam di bilangan Melawai.

Cerita dan momentum yang sama tidak akan bisa terulang. Tapi kiranya OPTIMAL dapat jadi pintu yang terbuka dan mengundang angin segar bagi ekosistem hip hop kita, hingga menjadi alasan untuk kembali merayakannya di waktu yang akan datang.

 

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...