fbpx

Hibriditas Musik Barakatak

Piracy and ecstasy, this is how they do it!

Dari Electric ke Apple (jenis-jenis obat-obatan yang menandakan kualitas dari efek pengunaanya) akhirnya menghasilkan lirik lagu Musiknya Asik, lagu yang dipopulerkan oleh kelompok musik Barakatak yang terbentuk di Bandung pada tahun 1991, Zaman dimana Nike ardila dan zarima sepopuler Dian Sastro dan Awkarin. Pada suatu siang di Yogyakarta, Saya bertemu dengan kelompok musik Barakatak di gelaran Indonesia Netaudio Forum 3.0, setelah 20 tahun absen, akhirnya mereka akan kembali memainkan lagu-lagu house music ala Barakatak, mereka adalah Aam, Yayat, dan Didhi. Usia mereka saat ini sudah mulai menginjak setengah abad, dalam perbincangan ini saya memangil mereka dengan sapaan Abah (kakek dalam Bahasa Sunda). Perbincangan dimulai dari bagaimana mereka bercerita tentang Barakatak memulai genre musik ini di tahun 1996. Abah Aam bertutur, pada awalnya Barakatak terbentuk mereka memainkan lagu-lagu pop sunda dari karya-karya Doel Sumbang. Karena ingin melihat pasar musik Indonesia yang lebih luas, maklum pada saat itu belum ada akses semudah hari ini, mereka harus berusaha melihat tren terkini untuk bisa didengarkan secara lebih luas dan mendapatkan kontrak dengan label yang lebih “nasional” (artinya tersebar di seluruh penjuru Indonesia) Mereka mulai melirik genre musik yang menurut mereka musik yang “membahagiakan” seperti arti dari nama kelompok musik ini, Barakatak, dalam bahasa Indonesia Barakatak berarti tertawa terbahak-bahak.

Hibriditas Musik Barakatak

Eksperimen awal mereka untuk lebih mengerti apa itu House Music adalah dengan dengan mencoba mendatangi sebuah diskotik di kota Jakarta. “ketika masuk diskotik, ini musik apa ko keras banget” , ujar Abah Aam pada perbicangan kami siang itu, ya! Di era 96-an house music sangat identik sekali dengan istilah tripping, mendengarkan musik dengan joget mengoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri karena pengaruh Ectasy. Ecstasy adalah sejenis narkoba yang menimbulkan efek rasa senang yang berlebihan, empati, kehangatan dan kegembiraan yang intens. Juga menambah kesensitifan pemakai terhadap musik yang didengarkan, membuat orang jadi lebih terbuka dan memiliki perangsangan efek fisik yang cepat. Ketika ditelan, efek keseluruhannya biasanya menjadi sangat sensitif terhadap sentuhan fisik maupun pada musik sehingga membuatmu ingin menari. Keadaan tersebut tidak lepas dari era dimana ectasy masih digunakan untuk doping untuk bisa menikmati musik sejenis ini. Pada awal penulisan lagu Musiknya Asik, Barakatak menuliskannya dengan lirik “ musik dan lagu sudah On belom ” artinya sudah merasakan belum? Karena lirik “sudah On belum” didengar kurang pantas oleh pihak label, mereka kembali lagi ke diskotik dengan mencari “barang” baru “kalau dulu pake electric sekarang pake apple”, ketika dicoba ternyata “enak!, dibilang enak, ya memang enak! ”, ujar Roni yang sampai hari ini memproduseri kelompok Musik Barakatak. “ Pulang pagi, kami pun langsung take ke studio” dari situlah kemudian lirik Musiknya Asik menjadi populer, dan pada era 96-an mereka yang memulai membuat house music dengan lirik lagu yang bisa dinyanyikan, bukan hanya sekedar dentuman tempo musik 4/4.

“…Di bilang enak ya memang enak, di bilang asik ya memang asik ,yang enak enak ya pasti asik, yang asik asik ya pasti enak, memang asik, memang enak, goyang nya asik kalo ada musik …”

Pembicaraan kami berlanjut dengan bahasan tetang apa yang terjadi masa kini, saya bercerita sedikit tetang lagu-lagu mereka yang kembali di putar di lantai dansa anak muda millenials, sebut saja Disko Pantera (Jakarta) atau Mega hits Selection (Yogyakarta) para selektor yang rajin memeriahkan pesta dengan musik dari Barakatak. mereka tetap melontarkan pertanyaan yang lugu dengan menanyakan “ trus mereka mendengar lagu kami, sambil “berobat” juga ?” ujar Abah Yayat, saya menjawabnya dengan “tidak pakai apa-apa” hari ini pesta udah nggak pake Narkoba. Sudah ada hampir seperempat abad gap generasi yang terjadi, memakai narkoba terlalu identik dengan akan di cap penjahat, berbeda dengan jaman mereka dulu, ini hanya sebuah benda yang apapun yang terjadi ini semua tergantung pemakainya, mereka pun cukup santai dan kasual membicaran bagimana saat itu narkoba menjadi bagian dari proses penciptaan karya mereka. Kondisi jaman tidak mungkin akan tetap sama, sama dengan musik Barakatak hari ini, dengan musik yang sama dan ditambah dengan campur tangan Internet. Musik Barakatak menjadi sangat cair, sudah tidak ada campur tangan Ecstasy lagi, musik mereka bisa dimainkan sesuai dengan jaman dan kondisi hari ini, walau secara musikalitas mereka tidak mengikuti trend musik EDM terkini atau musik-musik yang diputar di channel musik sekarang. Musik Barakatak hari ini bisa punya rasa yang sama seperti saat dimana saya hari ini masih euphoria mendengar Underworld – Born Slippy, musik Barakatak sudah menjadi sangat hibrid berkat souncloud, youtube dan medium net audio lainnya, liat saja mereka sudah mulai di endorse oleh brand street wear lokal kenamaan untuk kostum manggung mereka.

Hibriditas Musik Barakatak

Piracy Dillema, popularity and other stuff

Barakatak populer di masa lapak VCD dan DVD bajakan menjadi media distribusi yang paling terbuka dan bebas, bukan berarti bebas dari satpol PP ataupun para label rekaman dan para musisi yang berteriak tentang pembajakan. Tapi pada era itu lapak-lapak penjual VCD dan DVD bajakan adalah tempat dimana musik Barakatak mendapatkan telinga pendengarnya, saat saya mengunakan seragam putih biru, musik mereka sering saya di dengar di banyak lapak vcd bajakan dan musik mereka masih terdengar sangat familiar oleh saya sampai hari ini. Walau pada kenyataanya di awal tahun 2001 setelah mereka merilis lagu Mayahi, Barakatak mengalami disorientasi secara bermusik karena tergerus era industri musik digital dan pembajakan, tapi Pada hari itu Minggu (19/08) Barakatak menjadi penutup konser musik yang digelar oleh Indonesia Netaudio Festival 3.0, dan sudah seperti yang saya tunggu dan harapkan, malam itu meriah semua bahagia dan bergoyang dengan irama house music ala Barakatak. Seusai penampilanya di INF 3.0 Barakatak berencana untuk merilis ulang albumnya bersama dengan salah satu netlabel di Indonesia, Yes No wave. Ternyata dilema tentang pembajakan, dan sistem tandingan yang coba ditawarkan di net label justru pada hari ini sistem lama membantunya untuk menjadi bentuk baru, lupakan tentang label rekaman dan hak cipta, seperti yang diucapkan oleh Roni produser dari Barakatak “ musik sebaiknya dibuang (gratis), dan melibatkan banyak orang”

Last shout Out, kita tunggu rilisan lagu terbarunya, Kang Roni sempat mebagikan cerita tentang keinginanya untuk me-remix lagu Ebiet G ade yang cukup spiritual itu dengan ketukan house music ala Barakatak, apa yang akan dikatakan netizen yang terhormat, saya jadi tidak sabar untuk melihat kolom komen di media sosial. Semoga sukses dengan rilisan baru dan gratisnya dan terima kasih Barakatak atas malam yang membahagiakan.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Make: Analog Fotografi bersama Fadli Aat di Jalan Surabaya

Di segmen kali ini menantang Aat untuk merekam gambar dengan roll film Salak, se...

4 Tontonan untuk Mengalihkan Kita dari Narasi Teror dan Radikalisme Berita Nasional

Daripada mengikuti berita mengenai terrorisme yang tak kunjung henti cuman men...

Proses Soundscaping T-27 Thrive Motorcycles

Sebuah cerita pertemuan dua craftsman yang memutuskan untuk memajukan karya mere...

Kru Graffiti BTV di Podcast Terbaru GOODNWS

Dalam edisi terbaru podcast #SAYGOODNWS, Goodnws mengundang beberapa anggota kru...