fbpx

Hulaween: Pesta Dansa Kematian, Barakatak, dan Semangat Rakyat

Kota Bandung merayakan selebrasi kultural musik elektronik yang bertepatan dengan perayaan Halloween

Jumat pekan lalu (26/10), Kota Bandung merayakan selebrasi kultural musik elektronik yang bertepatan dengan perayaan Halloween. Tidak seperti perayaan musik elektronik yang marak dilakukan setiap akhir pekan pada umumnya, kali ini lantai dansa dipenuhi beragam ‘makhluk’ dan karakter fiktif—begitu surealis. Orang-orang berlomba-lomba untuk menampilkan totalitas dandanan mereka tentunya karena hadiah yang ditawarkan untuk kostum terbaik. Verde Resto and Lounge menjadi host acara yang bertajuk Hulaween Volume 2, sebuah pesta kostum yang dinanti-nanti oleh generasi muda. Hari itu Hulaween mengundang Bosborot, Midnight Runners, disc jockey terkemuka di ranah indie-electronic dari Kota Bandung; Barakatak dengan format live set; dan Pemuda Sinarmas dari Jakarta, seorang cassette jockey yang meromantisasi lagu-lagu Indonesia pada era ‘80-an hingga ‘90-an dalam playlist-nya. Suasana tersebut pun dibuat semakin hangat dan meriah berkat lighting berupa laser dan visual mapping bernuansa ‘90-an di belakang panggung dengan warna yang begitu kontras, memberikan kesan kitsch.


Midnight Runners, dengan kostum petugas Palang Merah Remaja, bermain di atas panggung untuk memanaskan lantai dansa dan dilanjutkan oleh Bosborot. Sampai tiba saatnya Barakatak, sebagai penampil utama, dipanggil ke atas panggung. Barakatak adalah salah satu legenda hidup sebagai pelopor musik ber-genre Funky Kota atau funkot yang berhasil mengawinkan musik house dengan unsur dangdut. Mereka mulai naik daun pada awal ‘90-an, ketika musik dance floor to floor mulai dinikmati oleh generasi muda di Indonesia pada saat itu, dan terkenal dengan single berjudul “Musiknya Asyik” juga “Maju, Maju, Maju”. Kata “Barakatak” dalam Bahasa Sunda sendiri berarti “tertawa keras” atau “terbahak-bahak”. Barakatak menjadi icon akulturasi pengaruh budaya barat dengan budaya tradisional Pasundan. Oleh karena itu, Barkatak sangat dinantikan oleh ‘makhluk’ dan ‘siluman’ di pesta Hulaween. Keempat personel Barakatak naik ke atas panggung menggunakan rambut palsu berwarna putih—lengkap dengan face painting putih dan kacamata hitam—sambil membawa microphone. Wajah mereka terlihat sumringah, karena mungkin rindu dengan sambutan meriah yang diberikan audiens. Kostum yang dipakai memberikan kesan sangat kebaratan, begitu kontras dengan lagu-lagu dibawakan dengan lirik yang menjunjung tinggi jujurnya kearifan lokal.


Performa dibuka dengan “Jurig”, yang berarti hantu dalam Bahasa Sunda, untuk merayakan pesta dansa kematian malam itu. Kemudian disambung dengan “Bunga Jalang” dan “Buka-bukaan”. Sejak awal performa, penonton sudah sangat padat memenuhi lantai dansa, berjejal bersama hingga berdesakan di bibir panggung. Saat “Bandung Bergoyang” dilantunkan, Barakatak mulai menggerakan tubuhnya seirama dengan gerakan Tari Jaipong dan melontarkan sorakan khasnya “eee.. aa!!” seperti dalam acara-acara bajidoran yang biasa ditemukan di pesta rakyat Jawa Barat. Setelah itu, dilanjutkan dengan lagu hits mereka; “Musyiknya Asyik” dan “Maju Maju Maju”. Lantai dansa dibakar membara. Mulai terlihat beberapa orang mulai diangkat ke atas pundak temannya. Ternyata “Maju Maju Maju” menjadi tembang penutup malam itu dan Barakatak turun dari panggung. Para ‘siluman’ dan ‘makhluk’ bersorak untuk meminta encore sebagai perwujudan atas ketidaksiapan mereka atas sebuah perayaan romantisme yang dihentikan ketika suasana sedang membara. Akhirnya, Barakatak kembali naik ke atas panggung sambil menyanyikan “Oaeo”. Malam itu memberikan sebuah suasana yang jarang sekali ditemukan di sebuah lantai dansa masa kini, karena kearifan lokal Kota Bandung jarang sekali ditemukan dalam pesta remaja di akhir pekan; dinikmati publik secara meluas dan datang dari beragam strata sosial dapat berpadu untuk sesederhana menikmati musik.


Segelintir orang mulai berjalan keluar dari lantai dansa menuju meja masing-masing ketika Barakatak selesai tampil. Sampai akhirnya Pemuda Setempat mulai menawarkan kembali suasana romantisme yang sudah terbangun, lantai dansa mulai menyesak. Pemuda Setempat mulai memainkan lagu-lagu yang dapat dinyanyikan semua orang, seperti Chrisye, Ari Lasso, dan sebagainya, dengan menggunakan cassette tape. Tidak lupa juga menggunkan pensil sebagai pemutar pita kaset ketika ia sedang beraksi untuk me-mixing lagu satu ke lagu lainnya. Lantai dansa kembali dipanaskan. Bahkan terlihat beberapa orang melakukan crowd surfing dari depan meja cassette deck, digiring melewati atas kepala ‘siluman’ di lantai dansa. Pesta terus berdentum hingga hampir pukul 4 pagi. Hulaween telah sukses memberikan sebuah kesan yang hangat dalam sebuah pesta—telah berhasil memadukan keragaman latar belakang penikmat musik—di atas lantai dansa.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...