fbpx

Indonesia Bangsa Party (?)

Coba dilihat sejarahnya.

Kerap diartikan sebagai sebuah perjamuan makan minum dalam upaya merayakan suatu kejadian yang istimewa, pesta sudah lama jadi bagian penting dari sejarah kebudayaan Indonesia. Berbagai tradisi tua Nusantara pun ngebuktiin kalau orang Indonesia memang gemar mencipta dan menikmati ritual yang bernuansa meriah.

Pesta dan perayaan memang mudah untuk dinikmati. Didalamnya ada musik, tari-tarian, sampai hidangan yang membuat perut dan hati lebih gembira. Namun yang terpenting dari itu semua adalah keberadaan keluarga, teman, atau bahkan orang-orang lain dengan perasaan yang sama dalam suatu pesta. Hal tersebutlah yang membuat suasana kian menyenangkan.

Kegemaran masyarakat Indonesia terhadap marak pesta dan rasa guyub kayaknya sudah mendarah daging. Megahnya perayaan malam pergantian tahun di berbagai kota di Indonesia bisa jadi salah satu buktinya. Yang meskipun menuai pro-kontra, langit-langit di berbagai titik keramaian tetap dipenuhi kembang api dan suara ledak-ledak petasan.


 


Jadi sebenarnya sudah berapa lama orang Indonesia suka berpesta? Apa penyebabnya? Dan seperti apa cara yang paling Indonesia untuk melakukannya? Menengok kembali ritual dan upacara berbagai suku yang berusia tua mungkin bisa kasih jawabannya.

Sebelum masuknya agama-agama di Tanah Air, umumnya upacara dan pesta dihelat masyarakat Nusantara untuk merayakan masa panen. Tentunya selain pernikahan, kelahiran anggota keluarga baru, penobatan raja baru, atau ucapan syukur pada leluhur.


 

Kitab Nagarakertagama di zaman Kerajaan Majapahit.

Kitab Nagarakertagama yang ditulis di masa keemasan Kerajaan Majapahit (Abad 14) mencatat bahwa kerajaan setiap tahunnya mengadakan perjamuan besar untuk merayakan panen raya. Tampo atau arak yang terbuat dari beras jadi suguhan wajib di setiap gelarannya. Raja-raja, tamu istimewa, dan masyarakat kelas menengah berpesta bersama.

Adat tersebut sejalan dengan masyarakat Dayak Iban, salah satu rumpun suku Dayak tua yang dulunya berdomisili di wilayah Kalimantan Barat. Yang bahkan dari sebelum masa kolonialisme Inggris dan Belanda sudah merayakan Gawai. Sebuah pesta panen yang biasanya terjadi di tengah tahun.

Pesta Gawai sendiri sebenarnya diadakan sebagai momentum untuk meminta berkah dari sang leluhur. Acara tersebut dimeriahkan dengan tarian masyarakat Iban dan aktifitas perjodohan, serta mabuk tuak yang diizinkan dalam kurun waktu sepekan.

Bergeser sedikit ke timur Kalimantan, di wilayah Kutai, tempat berdirinya kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Dimana hingga hari ini masih dilakukan upacara Erau atau Eroh, yang berarti ramai, riuh, ribut, dan penuh sukacita. Upacara Erau sudah dilakukan sejak abad ke-4, dan mula-mula digelar untuk merayakan pergantian raja baru.

Namun setelah melewati berbagai penyesuaian, dalam upaya melestarikan adat istiadat, Erau hari ini tetap digelar setiap tahunnya dengan wajah yang berbeda. Berfokus pada ucapan syukur kepada Sang Pencipta atas hasil bumi, pemerintah Kutai Kartanegara bahkan bisa mengundang 14 negara lain untuk terlibat dalam pertunjukan seni yang semarak ini.


 


Memang ada begitu banyak pesta rakyat yang bisa kita nikmati hari ini dan ternyata sudah berusia sangat tua. Termasuk diantaranya adalah pesta rakyat yang paling populer, malam Takbiran. Perayaan memasuki hari Lebaran dengan menciptakan suara riuh yang mengisi jalan-jalan kampung hingga kota besar.

Di kota Semarang sendiri malam Takbiran sudah dirayakan sejak tahun 1882. Disebut dengan perayaan Dugderan / Dhugdhéran, perayaan sejak zaman kolonial ini memang sudah dimeriahkan oleh mercon dan kembang api. Tidak heran kalau nama Dugderan disebut sebagai nama dari perayaan ini, karena merupakan onomatope dari suara letusan.

Lintas laut dan daratan. Masih ada begitu banyak upacara adat suku bangsa Indonesia yang begitu meriah. Jika sensus BPS di tahun 2010 menyatakan ada 1.340 suku bangsa di Indonesia. Bayangkan berapa kali kita berpesta sebagai masyarakat Indonesia setiap tahunnya? jika paling tidak ada satu perayaan khas pada setiap suku.

Ya, sebenarnya bukan gitu juga sih kesimpulannya. Tapi kalau hari ini kita melihat hebohnya parade kemenangan tim sepak bola suatu tim, mewahnya pernikahan teman, hingga sesaknya lantai dansa, berbanggalah! Mungkin memang Indonesia adalah Bangsa yang suka party.


 

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Perbandingan Visual Cerita Sukses Joey Alexander & Rich Brian

Dalam rangka ngabuburit, kami meluangkan waktu "stalking" akun instagram musisi ...

Memperingati May Day Sebagai Buruh Kreatif

Memperingati May Day bersama Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk De...

Semalam Saja: Kultur Music Disco Di Kota Bertuah

Kolektif bernama "Semalam Saja" bawa musik disco masuk Pekanbaru

Arti Leftfield, Sekedar Genre atau Lebih?

Walaupun sejarah kata tersebut muncul dari olahraga orang asing, yang mungkin en...