fbpx

Kalau-kalau RUU Permusikan Berlaku

Mungkin ini yang bakal kejadian.

Seorang rapper domisili Sukabumi mengirimkan saya email, isinya adalah laporan bahwa dia baru saja menandatangani petisi “Danilla Riyadi #TolakRUUPermusikan DPR RI,” dan ngajak saya ikut serta bertindak sama. Ada satu hyperlink terlampir di dalamnya, menuju ke halaman petisi tersebut.

Memang sudah seminggu belakangan konten perihal RUU Permusikan lalu lalang di media sosial. Penolakannya jadi topik paling santer. Band Efek Rumah Kaca, lewat akun twitternya bahkan mengumumkan 267 nama musisi yang menolak RUU tersebut. Tagar #KNTLRUUP, singkatan untuk Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan yang terdengar nyeleneh turut disebar. Menghiasi setiap argumen penolakan di media sosial.

Setidaknya terdapat 19 pasal yang dirasa bermasalah di dalam RUU Permusikan (4, 5, 7, 10, 11, 12, 13, 15, 18, 19, 20, 21, 31, 32, 33, 42, 49, 50, 51). Deretan pasal tersebut dinilai bertolak belakang dengan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Begitupun idenya secara keseluruhan, yang dipandang tidak memiliki urgensi apapun bagi DPR RI.

Berbagai pengandaian diungkapkan oleh kalangan musisi maupun masyarakat penikmat musik, kalau-kalau RUU yang satu ini disahkan. Begitu pula saya, tidak bisa tidak, pasti terlintas beberapa hal konyol yang bisa terjadi kalau RUU Permusikan lancar berjalan. Berikut diantaranya:

 

Kondisi ekstrem Barakatak. Bisa jadi melejit, boleh jadi dikurung.

Pada bagian penjelasan di akhir draft RUU dituliskan bahwa salah satu permasalahan pada permusikan Indonesia adalah tidak seimbangnya perkembangan musik tradisional dan musik modern. Ketergantungan penikmat musik terhadap mekanisme pasar yang menitikberatkan pada kultur populer disebut sebagai penyebabnya.

Musik tradisional sendiri di pasal 1 ayat 8 dituliskan sebagai musik yang bersifat khas dan mencerminkan suatu etnis atau masyarakat. Nah, kalau gitu budidaya lirik dengan bahasa daerah pada musik modern mungkin bisa jadi salah satu jalan tengah buat permasalahan itu.

Barakatak, grup musik senior asal Bandung, pelopor aliran funkot mungkin pantas jadi agent of change nya. Mereka ngegabungin house music dengan dangdut, pakai Bahasa Sunda, Jawa, dan Indonesia. Pokoknya Barakatak punya banyak alasan untuk menerima dukungan lebih dari mereka yang merancang Undang-Undang ini.

Tapi kalau RUU ini disahkan Barakatak juga bisa saja diberi sanksi. Karena banyak lirik-lirik lagunya yang mungkin dianggap melanggar pasal 5. Yakni memuat konten pornografi, mendorong khalayak umum melakukan penyalahgunaan narkotika, atau ketentuan yang paling enggak jelas; membawa pengaruh negatif budaya asing.

Hal ini bukan hanya akan berlaku bagi Barakatak, tapi juga sederet musisi yang sekali lagi, entah oleh siapa, dan bagaimana pertimbangan nya, melanggar pasal 5 lewat karya-karya nya.

Noise dan Eksperimental Yang Kompeten
Pasal 31-33 mungkin jadi yang paling banyak ditentang. Gimana enggak? Setiap musisi, baik yang ngelewatin jalur pendidikan ataupun belajar secara autodidak harus menghadapi uji kompetensi.

Selain tidak jelas nya anggota lembaga sertifikasi yang ditulis pada pasal-pasal tersebut, rasanya enggak semua tipe musik bisa diuji kompetensi nya berdasarkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman (Pasal 32 ayat 2).

Contohnya adalah musik noise dan eksperimental, yang jika mengacu pada pasal 1 ayat 1 tergolong juga sebagai musik yang dimaksud. Kira-kira siapa yang akan menguji kompetensi dari sebuah eksperimen suara dan bunyi-bunyi bising? Apa tolak ukurnya? Aneh-aneh aja deh.

Playlist remix lagu tradisional

Pasal 42 yang mengatur pelaku usaha bidang perhotelan, restoran, atau tempat hiburan untuk memainkan lagu tradisional mungkin cuma punya satu dampak yang bagus. Yaitu sensasi makan nasi kapau di rumah makan padang dengan iringan lagu-lagu Minang seperti milik orkes Gumarang.

Tapi sisanya? terdengar konyol. Apalagi ketika tempat hiburan (yang tidak dijabarkan jenis nya secara spesifik) juga ditetapkan wajib memutarkan lagu tradisional. Jadi kelab malam akan seperti apa? Kehilangan massa? Atau coba mengumpulkan remix lagu-lagu tradisional biar punya playlist yang tepat? Dua-dua nya terlihat menyedihkan.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...