fbpx

Kapan Bubar, Teenage Death Star?

Cerita dari 28 hari silam saat menyaksikan Teenage Death Star.

Satu lompatan berharga tiga kaki di pusara kepala. Persetan dengan larangan berselancar yang dikeluarkan panitia penyelenggara, acara tempat kerusuhan itu berlangsung di lobi Hotel Monopoli pada 28 hari yang silam, karena sudah seharusnya mereka tahu konsekuensi yang bakal terjadi bila Teenage Death Star diundang bermain. Begitu seru Alvin Yunata, gitaris tambun yang belum apa-apa telah meneror ribut kerumunan penonton ketika Super Lover digeber sebagai nomor pembuka. Gitarnya diacung-acungkan bersama jumawa tameng perut yang ikut dibawa merangsek menantang ke depan. Nyali dipancing menarik urat paha, meletakkan sebotol bir yang tumpah dan pergi menerjang gelombang sikut yang berterbangan, sehingga pada saat lagu berikutnya, All That Glitters Are Not Gold dibawakan keadaannya telah benar-benar berantakan; singkirkan sekuriti dari bibir panggung!

Teenage Death Star adalah nama lain dari sebuah kekacauan yang diharapkan. Musik mereka sia-sia. Bertahan hidup hanya dari 9 lagu yang habis kita makan sejak Longway To Nowhere diterbitkan sedekade silam. Sial, 2008 ternyata sudah sepuluh tahun yang lalu, dan selama itu tidak banyak yang pernah dilakukan band ini selain, tentu saja, menciptakan panggung-panggung rusuh bercindera mata yang lebam dan ponsel raib. Teenage Death Star mengabadikan diri sepenuhnya pada nafsu duniawi, berperilaku asal-asalan – lupakan si lincah Gerald Situmorang dan nasihat orang tua, ini giliran para amatir yang beraksi. Kasih gaduh, kemampuan minim, bikin bising di mana kort yang salah menjadi sebuah kemuliaan berseni.

Lalu mau apa?

Dalam sesi wawancara dengan wartawan Rolling Stone bernama Soleh Solihun, Alvin pernah mengungkapkan mengenai keseriusan karir bandnya ini. “Teenage, mah menurut gue kayak anak-anak lagi piknik. Piknik alam bawah sadar. Anjir, main musik, tuh enak banget. Maunya begitu,” sebutnya. Perhatian terbesar mereka ada pada tingkah laku, sementara kemahiran berada di urutan ke-115 jauh setelah seteman gitar yang fals dan 5 miligram timah bekas. Ditambah pemahaman kurang ajar bahwa latihan hanya berlaku untuk band baru, jadilah Teenage Death Star yang tahun ini berusia 16 tahun corong bagi anak-anak pelanggar aturan. Energi yang ditawarkan begitu mentah, sementah membayar Heineken di Monopoli dengan kombinasi recehan lecek gocengan dan cebanan.

Dan Monopoli untuk sebenar-benarnya bukanlah lantai yang cocok untuk menggelar panggung Teenage Death Star. Dalam perjalanan ke sana, ilusi tequila murahan membayangkan kejadian menyenangkan tentang gelas-gelas yang pecah atau wajah marah sekuriti atau perbuatan tidak senonoh seperti menyelundupkan anggur, tapi yang terjadi adalah Sir Dandy ‘Achong’, vokalis begajulan mereka yang membagi-bagikan segepok pecahan dua ribuan untuk mengganti biaya parkir sepeda motor para fans. “Kami tidak butuh duit! Kami band kaya!” teriaknya dari gelap kacamata sambil terus membuang lembaran Pangeran Antasari ke udara.

Sementara Firman Zaenudin, sang dramer terlihat gatal, tanpa butuh aba-aba dari personel lainnya intro hi-hat-snare dimainkannya untuk memulai I’ve Got Johnny In My Head. Selanjutnya terserah Achong: dia melempar mikrofonnya ke penonton yang liar berebutan seperti sekumpulan fakir hiu lapar. Itu satu dari dua lagu Teenage yang ‘berprestasi’ karena dipakai sebagai soundtrack film Janji Joni (Joko Anwar, 2005). Yang lainnya adalah Absolute Beginner Terror, muncul di film Catatan Akhir Sekolah (Hanung Bramantyo, 2005) – lagu penyulut huru hara paling ampuh yang pernah dirilis generasi sakit 2000-an. Alvin akan berlutut ‘menyuci’ senar-senar gitarnya hingga putus pun di malam itu demi mempersembahkan badai feedback terbaik bulan ini.

Dengan diskografi cuma sealbum, Teenage pasti tidak punya koleksi lagu yang banyak. Biasanya mereka suka membawakan “Louie, Louie” versi Aibon untuk memperpanjang durasi tampil, atau mengulang lagi lagu-lagu yang sudah dimainkan, tapi tampaknya tidak kali itu. I Kiss Your Sister in the Kitchen dan 21st Century Boy meluncur dengan Achong banyak makan gaji buta karena mikrofonnya tidak habis ditarik paksa oleh penonton. Titel terakhir yang digelontorkan untuk menutup panggung Other Festival adalah The Death of Disco Rabbit.

Sebetulnya menyaksikan Teenage Death Star lekat dengan kebosanan bila dilakukan terlalu sering. Para fans sudah hafal, lagunya itu-itu saja dan band ini tidak berkembang sama sekali – satu-satunya progres yang terjadi adalah ketika beberapa tahun lalu sempat mengeluarkan album eksperimental ketimuran yang aneh dan absurd berjudul The Backyard Tapes Early Years 88-91 dalam jumlah kaset terbatas. Tapi tampaknya tidak ada keberatan atau mungkin seperti hal idolanya, fans tidak ambil peduli. Selama Alvin Yunata masih belum bisa menyetel gitarnya sendiri dan Sir Dandy tidak pernah mampu mengerti lirik yang dibuatnya sendiri, para fans akan tetap berdiri di depan panggung, menunggu untuk diprovokasi. Hingga akhirnya daripada menuntut lebih banyak kepada band ini, lebih baik bertanya saja: sampai kapan mau begini terus? Kalian sudah tua, nihil tiada tara.

Sebagai catatan, panggung Teenage Death Star malam itu tidak diperkuat bassis Satria NB yang tengah berada di negeri Cina dan gitaris Helvi Sjarifuddin yang tidak kunjung tiba karena masih terjebak macet sejak sore di Tol Cipularang. Akibatnya turun membantu secara dadakan Vincent Rompies pada bass dan Tony Dwi Setiaji dari The Brandals di gitar.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...