fbpx

Katalis Kota: Sedikit Cerita Tentang Kota Eksperimen Yogyakarta

Begitu Soeharto ‘turun’, pemuda pemudi Yogya meledak melakukan bermacam-macam eksperimen; baik dari seni rupa maupun seni musik.

Pada 1945, Sri Sultan Hamengkubuwono IX sepakat menjadikan Yogyakarta kota yang mengakomodir generasi muda—tempat di mana mereka bisa datang dan belajar bersama untuk membangun Indonesia. Dari situ, Yogyakarta dikenal sebagai Kota Pendidikan—lalu berkembang menjadi Kota Kebudayaan, sampai akhirnya Kota Kesenian.

Maju ke 1998, ketika rezim Orde Baru runtuh, mahasiswa-mahasiswa UGM dan ISI bertemu lalu bersatu untuk revolusi. Paradigma antara Utara dan Selatan Yogya yang seakan bermusuhan pun melebur. Begitu Soeharto ‘turun’, pemuda pemudi Yogya meledak melakukan bermacam-macam eksperimen; baik dari seni rupa maupun seni musik. Karena situasi pada masa itu tidak kondusif untuk mengundang artis dari luar negeri, maka Jean Pascal, mantan Direktur IFI yang dulu bernama Lembaga Indonesia Perancis (LIP), berinisiatif untuk mengadakan festival musik elektronik berjudul Mencari Harmoni. Festival ini dilangsungkan tiga bulan setelah lengsernya Soeharto, di auditorium LIP, dan menampilkan Garden of the Blind, Melancholic Bitch, Six Sick Seek, Performance Fucktory, dan Second Floor. Setelah Mencari Harmoni kedua diadakan, festival ini kemudian berganti nama menjadi Parkinsound.

Pada tahun yang sama, seiring dengan merebaknya pergerakan musik elektronik di Yogya, musik tersebut juga mulai ‘membesar’ secara global.

Ketika pamor musik elektronik mulai ‘menurun’, muncul apa yang disebut club culture. Rave diadakan hampir setiap dua minggu sekali di berbagai tempat, seperti Parangtritis, Kaliurang, bahkan di jalan-jalan daerah Malioboro.

Berbarengan dengan itu, hip hop juga mulai berkembang. Diawali oleh G-tribe, lalu diteruskan oleh Jahanam dan, yang sekarang masih eksis, Jogja Hip Hop Foundation juga kolektif Hellhouse. Dari situ, lahirlah perkawinan antara dangdut dan hip hop seperti NDX aka.

Dan, satu lagi yang menjadi skena kebanggaan Yogya: noise. Bisa dibilang Yogya bagaikan Mekkah untuk noise.

Dari sejarah singkat perkembangan musik Yogya, bisa disimpulkan kalau kota ini menjadi semacam laboratorium raksasa, di mana masyaraktnya saling dekat satu sama lain, guyub, dan maka dengan sendirinya, sering melakukan berbagai macam eksperimen; baik yang lintas disiplin, seperti seni musik dengan seni rupa, atau seni musik saja, dan sebagainya.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...