fbpx

Katalis Kota: Sepenggal Sejarah Budaya Dance Music di Jakarta

Musik itu angin, partynya fokus, DJ itu udah kayak foto model dan mungkin Jakarta nggak begitu happy suasananya.

Jakarta sekitar tahun 1990-an ada club seperti M-Club, Fire, Ebony dan banyak lagi di daerah Kota. Sayangnya pada masa itu DJ hanya bekerja sebagai operator. Pasang lagu apa aja yang lagi hits di radio atau club anthem—dan yan paling sering dimainkan Night Train remix lagu milik James Brown atau Funk Phenomenan-nya Armand van Helden.

Sampai akhirnya Anton Wirjono yang terinspirasi dari kawannya sekaligus partner bikin kolektifWill Higgs. Setelah itu acara-acara rave dan hidup kita yang semu berubah, hanya karena mereka mengadopsi scene yang pada waktu itu hidup di San Fransisco. Tragisnya Higgs meninggal kecelakaan motor, “Dia ngomong pas sehari sebelum graduation gue. Gue bilang gue habis graduate mau balik ke Jakarta mungkin, kerja. Dia bilang gue harus nerusin yang kita bantu bikin di sana ke Indonesia kalo gue balik. Gue bilang belum tahu bisa apa enggak. Besoknya dia meninggal,” cerita Anton.

Akhirnya Anton memutuskan kembali ke Jakarta membawa perubahan. Pada tahun 1995 ditawarkan seorang teman menjalankan sebuah klub malam yang tidak terurus dengan wallpaper vintage bernama Parkit di Jl KH Wahid Hasyim Menteng. Sejarah tercatat, pengaruh party scene di Parkit menjadi epidemik muncul DJ-DJ muda lahir, 1998 pindah ke Bengkel Nightpark dan mulai rave party bermunculan. Spirit-nya bermulai dari hanya teman-teman yang kenalnya di party mulai bermunculan kolektif-kolektif. Sampai sekarang masih ada yang bertahan, ada yang reuni dan adapun yang hilang. Begitu juga insan-insan di dalamnya sebagian besar memang muda di zaman itu saja, ada yang memilih hidup dalam Tuhan, ada yang hijrah berhenti mendengarkan musik, yang jadi gila pun ada; juga yang jadi guru instruktur ibu hamil dan guru meditasi.Chitra Subiyakto yang dulunya designer flyer party sekarang menjadi fashion designer internasional dan budayawan dengan Sejauh Mata Memandang-nya—dulunya rajin ravin‘ juga. Beberapa ikon lama meninggal dunia. Sementara ada yang masih aktif, baik itu bekerja di dunia gemerlap dan sesederhana menikmatinya saja walaupun tidak mengikuti perkembangan industri ini, dalam kata lain masih nyangkut di masa kejayaannya. Perjuangan ini masih belum selesai sampai sini saja, ‘legacy’ yang di teruskan generasi-generasi berikutnya.

Tujuan Katalis Kota adalah mengdokumentasikan perjalanan subkultur kota-kota di Indonesia. Katalis Kota menceritakan persona-persona yang hidup di kultur club Jakarta membangun dari party-party underground sampai ke rave culture sampai akhirnya superclub masuk, seiring berjalannya rave mati, dance scene mengarah ke industri sampai akhirnya festival-festival besar dengan DJ-DJ internasional ternama. Semakin besarnya industri, perlawanan dari kolektif-kolektif yang menjamur dari hip-hop sampai disco, belum merasa puas disitu saja. Produktivitas masing-masing individu mulai mempelihatkan talenta mereka baik di taraf nasional maupun internasional.

Ambil posisi nyaman di rumah atau dimana pun anda berada, subscribe and press play. Semoga benambah wawasan dan sedikit bernostalgia.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...