fbpx

Screening Katalis Kota Yogyakarta: Sejarah Musik Eksperimental yang Kian Merebak

Merekam Perjalanan Musik Eksperimental di Yogyakarta.

“Jogja memang menjadi kota untuk bereksperimen”. Begitu ungkap Jean Pascal, mantan Direktur IFI-LIP sekaligus saksi perkembangan musik di Yogyakarta. Katalis Kota Yogyakarta hadir merekam perjalanan musik eksperimental di Yogyakarta. Dalam dokumenter pendek ini, ada beberapa rekaman wawancara sekaligus arsip video tentang musik eksperimental di Yogyakarta. Semua terkemas manis dalam video berdurasi 36 menit. Lokasi peluncuran video ini dipilih di Ruang MES 56 (salah satu ruang alternatif yang juga menjadi saksi perjalanan musik eksperimental); dilengkapi dengan hidangan sedap dari Whaton House.







Linimasa perkembangan musik eksperimental dimulai pada 1998, tahun lengsernya kepemimpinan Soeharto atau biasa dikenal sebagai Era Reformasi. Era Reformasi bisa disebut sebagai awal perjalanan dari beberapa gerakan alternatif. Hal ini disebabkan karena perasaan bebas setelah terbelenggu. Bagaimana tidak, pada era kepemimpinan Soeharto (Orde Baru) tidak bisa dengan leluasa untuk berpendapat dan menciptakan gerakan tertentu. Lalu, ketika reformasi datang, keluarlah segala hasrat terhadap gerakan-gerakan alternatif dan salah satunya adalah musik.

Marjuki dari Jogja HipHop Foundation menggambarkan situasi “bebas” pada era reformasi. Empat bulan setelah lengsernya Soeharto, Dia dan teman-temannya mengadakan festival musik elektronik. “Wah, waktu itu aku bawa komputer ke atas panggung, dan semua orang bilang kalau aku akan mengerjakan skripsi!”. Begitulah Marjuki menggambarkan kebebasannya untuk bereksperimen pada era reformasi. Saking bebasnya, Jompet (seniman) sempat menggesek-gesekkan pita kaset untuk menggantikan bunyi yang dihasilkan dari turntable. Cerita ini didapat dari beberapa dokumentasi video yang masih tersimpan dengan baik.







Jika membicarakan musik eksperimental dan Yogyakarta, tentu saja tidak terlepas dari gambaran party. Teman-teman dari Energy Room, Casual Dance hingga Wok The Rock sebagai kurator, musisi, dan seniman turut menceritakan bagaimana budaya party ini berkembang dan beririsan dengan musik eksperimental. Wowok (panggilan akrab Wok The Rock) mengungkapkan bahwa party yang ideal adalah party yang tidak hanya mengakomodir kesenangan saja, tapi bisa juga mewadahi orang-orang yang ingin bertemu, berbincang, dan berdiskusi. Energy Room dan Casual Dance juga menceritakan bagaimana mereka membawa budaya musik elektronik ke telinga teman-teman yang telah terbiasa dengan musik pop pada era 2000-an. Pada akhirnya, musik elektronik berhasil mengambil hati beberapa orang. Tentu saja, musik pop juga memiliki porsinya sendiri. Mungkin lebih kepada tidak ada yang berambisi mendominasi, melainkan menjadi satu kesatuan yang bersinergi satu sama lain di Yogyakarta.



 

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...