fbpx

Konsistensi Wasted Rockers

DIY dan bertahan lama.

Sudah tahu dan pernah membaca Wasted Rockers? Kalau belum biar kami jelaskan sedikit.

Wasted Rockers adalah media musik yang aktif mewartakan pilihan musik-musik tidak populer. Berjalan sudah lebih dari 15 tahun, Wasted Rockers di masa-masa awalnya terbit dalam bentuk media cetak hitam putih berukuran A3 dan didistribusikan secara gratis di 22 kota di Indonesia.

Hari ini Wasted Rockers masih berjalan dengan format digital (WordPress). Jika mengunjungi websitenya kalian akan menemukan sederet rilisan musik yang mungkin belum pernah didengar sebelumnya. Coba aja cek disini!

Penasaran dengan semangat Wasted Rockers yang bisa bertahan sampai hari ini, Frekuensi Antara lewat surat elektronik menanyakan beberapa hal kepada Dede dan Gembi, dua orang dibalik Wasted Rockers.

 

 

Halo Wasted Rockers! Boleh diceritain enggak siapa aja sih yang terlibat di WastedRockers? Selain itu mungkin ada teman-teman lain kah yang ikut membantu?

G: Gue sudah lama banget nggak berkontribusi nyata di WastedRockers, walau kadang masih suka nongkrong di Benhil (WR Store) buat mendapatkan gosip-gosip underground terkini. Sementara, Dede dan Aditbujubuneng masih aktif banget konsisten ngisi blog, buat acara, bahkan ngerilis-rilis rekaman yang mereka suka.

D: Tim Wasted Rockers saat ini tinggal gue (jurnalis), Gembi (Editor), dan Aditya Saputra (desain / layout). Kadang-kadang masih ada teman-teman yang ingin menyumbang tulisannya. Kami selalu terbuka bagi para kontributor.

 

Salut sama Wasted rockers atas konsistensi nya dalam mewartakan pilihan musik-musik yang tidak terekspos! Seserius apa sih sebenarnya kalian ngejalanin ini semua? Pernah punya proyeksi akan jadi seperti apa Wasted Rockers?

G: Pertama kali gue menawarkan diri untuk membantu Dede, di sekitar tahun 2003-2004, gue cuma perlu tempat untuk mengakomodasi temuan-temuan (band, fenomena, atau genre) gue saat itu. Nggak kepikiran juga buat hidup dari menulis musik. Ketemu Dede di kampus, kayak pencerahan; akhirnya gue ketemu teman ngobrol yang nyambung soal musik-musik yang nggak biasa.

Gue dan Dede dulu juga punya concern yang sama; nggak begitu tertarik sama rekomendasi-rekomendasi musik yang diberikan media musik mainstream pada zamannya. Selain itu, kami juga nggak mau terus terjebak sama skena yang “Jakarta melulu”. Makanya, dulu kami senang banget kalau sudah dikirim demo dari band-band di luar Jakarta dan Bandung. Kalau ada demo bagus dari kedua kota itu, kami kayak, “Yang begini ini yang mestinya dibesarin oleh media-media yang established.”

D: WR sedari awal tidak pernah diniatkan untuk jadi sesuatu yang serius, namun semua hal yang kami kerjakan dari dulu selalu serius. Tak pernah terbayangkan Wasted Rockers bisa bertahan hingga selama ini. Mungkin ini bisa disebut passion kali ya. Haha.

 

 

Mungkin enggak sih WR hadir lagi dalam bentuk zine kayak di awal-awal?

G: Mungkin, sudah lama pengen sebenarnya. Gue pernah mengusulkan ke Dede untuk kembali ngerilis Wasted Rockers dalam bentuk newsletter atau zine. Gue kasih saran untuk paling nggak mengumpulkan beberapa ulasan dan wawancara dari edisi-edisi lama, untuk kemudian dicetak lagi dalam satu newsletter/zine ‘baru’. Saran itu sebenarnya gue gulirkan karena gue sudah nggak punya energi lagi buat menulis musik. Beda sama dulu waktu masih muda dan semangat banget.

Tapi kayaknya kalau lihat kualitas penulis musik zaman sekarang, juga kemasan-kemasan zine yang mereka buat, jadi mikir dua kali untuk rilis. Gue ngerasa kurang pede.

D: Sangat mungkin. Faktanya hal tersebut pernah didiskusikan di internal kami pada tahun 2017 kemarin. Tapi masih belum terealisir hingga sekarang. Mudah-mudahan bisa segera dieksekusi deh idenya.


Salah satu edisi cetak Wastedrockers.

 

Kalian ngebuka donasi untuk operasional Wasted Rockers. Penasaran deh, banyak enggak sih temen-temen atau pembaca yang support secara materil gitu?

G: Ini pernah diinisiasi seingat gue, tapi gue belum ngerti sudah sejauh mana. Dede lebih berhak menjawab ini.

D: Tidak banyak. Karena balik lagi, budaya crowdfunding di Indonesia belum populer. Kampanye ini kami lakukan juga sebagai edukasi budaya crowdfunding di Indonesia, karena hal ini di Amerika Serikat dan Eropa sudah merupakan hal umum. Di sana para content-creator memang mendapat dukungan yang tulus dari para followers-nya, berupa uang ataupun barang.

 

Selain format tentunya, apa yang membedakan Wasted Rockers di masa awal-awal dan hari ini? Soal kurasi musik misalnya, ada perbedaan kah?

G: WR di masa awal lebih banyak menyajikan temuan-temuan: band-band apa aja, genre-nya gimana, dari situ kami membantu pembaca untuk kasih rekomendasi musik-musik sejenis.

Di luar WR, yang gue rasakan, ketika gue menulis musik, tugasnya sudah bukan lagi menyajikan, “Nih, band aneh, nih band langka”, karena di era Spotify, itu sudah bisa didapat dengan mudah.

Gue nggak ngerti fokus Dede gimana sekarang, tapi buat gue sendiri, kalau masih menulis musik, mestinya kurasi sudah harus sejalan dengan kualitas kritik yang jauh lebih baik. Kayak, nggak lagi fokus ke ‘what’-nya lagi, tapi ‘why’, agar kritiknya bisa mendalam. Media kayak Serunai.co dan Jurnal Ruang tuh bisa di level itu, menurut gue.D: Kurasi musik tidak jauh berbeda. Karena konsep Wasted Rockers dari awal memang untuk mengangkat band/musisi muda potensial yang belum populer, dan tentunya jenis-jenis musik yang masih jarang diekspos.

Kalau mau baca tentang band-band lokal populer/mapan mending baca media yang lain saja, kan sudah banyak pilihannya.

 

Ada lagi enggak komunitas-komunitas lokal lain yang kalian rasa punya semangat serupa dengan WR? Siapa aja tuh kira-kira?

G: Gue bisa melihat itu di Anoa Records dan Kolibri Records. Mereka ngerilis materi-materi yang mereka suka doang, sampai akhirnya punya karakter sendiri. Itu yang gue rasakan waktu awal-awal jalanin WR bareng Dede. Bedanya, kami muncul dalam format zine dan newsletter waktu itu.

D: Ada banyak sekali di lokal komunitas seperti WR, tapi semuanya tetap balik lagi ke konsistensi. Seperti seleksi alam saja, yang mampu bertahan lama masih bisa dihitung dengan jari.

 

Gimana sih proses karya-karya lokal bisa masuk ke kanal WR? Apakah memang umumnya dikirimkan ke kalian dan lalu dikurasi? Atau gimana?

G: Waktu awal-awal, banyak mengandalkan networking-nya Dede yang emang udah lebih lama hidup di underground scene. Seiring waktu, networking meluas, pertemanan ama teman-teman yang ngeband, lintaslabel, lintasgenre, sampai ke lingkaran pembuat zine dan newsletter, akhirnya ada masanya kami benar-benar duduk manis, nunggu kiriman CD demo dari teman-teman di mana pun.

Buat gue, gue cuma mau mengangkat apa yang gue suka, dan gue ngerti. Kalau suka, tapi nggak ngerti musiknya, takut nggak tajam. Kalau nggak suka, ngapain ditulis.

D: Beberapa tahun terakhir Wasted Rockers lebih banyak mencari sendiri, ketimbang melihat isi inbox email. Mencari sendiri dan menemukan talent itu lebih menyenangkan ketimbang pasif menunggu untuk menerima kiriman demo/promo.

 

 

Dari yang kalian lihat selama mengurasi musik lokal, adakah trend tertentu yang WR temukan pada karya-karya musik lokal hari ini?

G: Kalau perkara genre, tentunya berkembang seiring makin mudahnya mengakses musik ya. Nggak ada lagi genre-genre aneh yang ‘langka’ sekarang.

Tapi yang bikin gue amazed di musik lokal saat ini adalah soal kualitas produksi yang udah keren banget. Materinya emang beneran keren, terus mikirin sampe ke mixing dan mastering yang pol. Nggak cukup sampe di sana, sampe ke packaging, artwork. Semuanya satu paket utuh yang lengkap. Apapun genrenya.

D: Tren musik di skena musik independen lokal sebenarnya tidak jauh dari tren yang juga melanda wilayah AS / Eropa saat ini. Hanya saja beberapa tren musik di sini ada yang sudah ketinggalan zaman, contohnya: indie-folk / folk revival dan stoner-rock, yang mana trennya adalah 10 tahun yang lalu.

Anak-anak muda di scene alternative-rock lokal kini sedang menggemari musik-musik post-punk revival, 90s indie-rock revival, 90s indiepop revival. Begitu pula dengan scene electronic / EDM lokal saat ini juga sedang keranjingan 90s revival. Ya, siklus 20 tahunan. Sekarang segala yang berbau dekade 90-an seperti sexy kembali.

 

Terus siapa kira-kira musisi lokal rekomendasi kalian hari ini?

G: Band indiepop Surabaya, namanya Humidumi, mereka rilis ulang EP-nya dalam bentuk kaset Maret ini. Di dance music, gue lagi suka Rayka (Bandung), style-nya di area UK bass yang nggak 4/4, embracing heyday of rave scene juga. Gabber Modus Operandi (Bali) juga superintens buat gue. Sarana (Samarinda) makin inovatif tiap live, vibe-nya bagus banget.

D: Untuk artists lokal favorit saya dalam beberapa bulan terakhir adalah: Gaung (Bandung), Bananach (Bandung), KALA (Tangerang), Ocean Chimes (Bandung), Hong! (Tangerang), Pangalo! (Sumatera Utara), Ametis (Bandung), Ping Pong Club (Bandung), Sarana (Samarinda).

 

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Perbandingan Visual Cerita Sukses Joey Alexander & Rich Brian

Dalam rangka ngabuburit, kami meluangkan waktu "stalking" akun instagram musisi ...

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Peristiwa Menonton dengan Semangat Kolektivitas: Café Society

Menghidupi apresiasi film dengan Ruang MES56, Bakudapan, dan Forum Film Dokument...

Kalau Kalian Belum Ke Pameran PARIPURNA di RUCI Art Space Mending Sekarang

DIVISI 62 berkolaborasi bersama RUCI Art Space dalam mempersembahkan sejumlah ka...