fbpx

Melihat Proses Memudarkan “Merah Muda” Bersama Merah Muda Memudar

Menanggapi Isu Feminisme

Warna merah muda telah memiliki asosiasi makna yang cukup stabil di masyarakat. Antara lain: menunjukkan sifat lembut, mewakili segala sifat dan identitas perempuan, menunjukkan rasa empati dan solidaritas, dan menunjukkan sikap perlawanan terhadap paham yang mendominasi. Semua asosiasi makna tersebut menginspirasi kelompok feminis muda bernama Merah Muda Memudar (MMM). Ada beberapa poin menarik dari kelompok ini dalam hal menanggapi isu feminisme yang akan saya ceritakan di paragraf selanjutnya.

Kelompok MMM dimulai sejak April 2017. Tidak ada lokasi yang pasti untuk menjelaskan lokasi pertama MMM ditemukan. Mereka terpisah-pisah di beberapa kota dan disatukan lewat internet seperti grup WhatsApp atau blog rutin yang mereka hidupi. Bahkan, ada juga satu anggota mereka yang berada di New York. Lokasi yang berbeda-beda tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus memproduksi zine dan menulis di blog.

Semangat awal mereka adalah memudarkan stigma yang melekat kepada warna merah muda. Misalnya, mereka tidak setuju jika warna merah muda hanya diperuntukkan bagi perempuan, atau merah muda hanya ditujukan untuk menunjukkan sisi lembut dan ejekan tertentu. Menurut mereka, inilah titik awal bagi mereka untuk bisa mempelajari dan membicarakan isu feminisme dengan konteks yang sangat dekat dengan diri mereka sebagai mahasiswa atau bagian dari masyarakat yang erat dengan konteks sejarah, sosial, dan budaya.



Kritik utama dari apa yang mereka lakukan dalam Merah Muda Memudar tidak hanya ditujukan kepada budaya patriarki yang sangat mengakar di Indonesia. Melainkan juga ‘turun dari menara gading” feminisme’. Mereka ingin membawa isu feminisme ini lebih dekat dengan sehari-hari, sehingga siapa saja bisa membawa dan membicarakan feminisme ini tidak sebagai satu hal yang mengerikan dan mengancam. Pandangan ini didapatkan dari pengalaman bahwa banyaknya isu feminisme ini dibawa oleh orang dari luar Indonesia. Terkadang, ada beberapa perbedaan bahasa yang membuat isu feminisme ini tampak menjadi satu hal yang berat dan banyak salah pengertian. Maka dari itu, MMM selalu menghindari bahasa-bahasa yang sulit untuk dipahami dan lebih memilih bahasa yang sering digunakan sehari-hari.

Pemilihan zine offline dan online juga didapat dari pertimbangan akses. Kemudahan mengakses pengetahuan tentang isu feminisme adalah salah satu tujuan pencapaian MMM. Mereka tidak ingin isu feminisme yang memang seharusnya berada di tengah masyarakat kita, menjadi seolah-olah jauh dan tak terjangkau. Mengingat budaya patriarki dan macoisme di Indonesia sangat lekat baik di beberapa skena seni dan budaya yang dekat dengan ideologi liberalisme.

Mungkin gerakan dan semangat MMM ini perlu untuk didukung untuk bisa menyeimbangkan kehidupan sosial kita. Ataupun, menciptakan ruang aman bagi siapa saja ketika kita berada di tengah keramaian.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...