fbpx

Melihat Sisi Positif untuk Skena Jika Kembali ke Jaman Orba

Merasakan iklim politik yang semakin hari semakin dekat dengan 2019, kita harus menerima bahwa sejumlah besar pilihan pemimpin yang tersedia untuk rakyat Indonesia hanya dibedakan oleh mood.

Kenapa bisa begitu? Okay, kalau kita perhatikan partai politik di Indonesia hanya terpisah dalam dua kategori. Partai yang memiliki ideologi Pancasila atau ideologi agama. Untuk partai yang memiliki ideologi Pancasila, kalau kita liat dari segi visi, misi, atau program memang sama sama aja. Pembedaannya cenderung hanya terkait di ada siapa aja yang di kubu itu. Basi.

Kita sudah melihat hal-hal yang seperti program pemerintah atau ideologi yang dipegang oleh sebuah partai, sebenarnya enggak terlalu penting. Ini lomba popularitas mengenai siapa saja yang paling banyak dikenal dan gimmick apa yang bisa dikomunikasikan ke publik. Lihat saja partai-partai baru yang berperisa orde baru. Sama saja seperti kenaikan vinyl culture ataupun analog photography, yang dijual kepada pengikutnya adalah elemen nostalgia.

Gerakan populis yang menunjung kenyamanan mayoritas konservatif bukanlah sesuatu yang boleh dianggap remeh. Sekumpulan besar orang yang mengeluh mempunyai kuasa yang besar, karena mereka rame. Dan pertumbuhan partai-partai yang membawa vibe orde baru ini, merupakan sebuah reaksi untuk permintaan publik. Menyambut realita yang baru ini, bahwa orang-orang masih ingin hidup seperti orde baru lagi. Kita lihat sisi positifnya.

Cover charge

Kapan terakhir kali kamu clubbing? Berapa biaya yang kamu keluarin untuk mulai weekend? Anggap saja kamu dan teman-temen mau nonton seorang DJ disco papak dari Jepang dengan FDC sebesar IDR 150.000 dan parkir sebesar IDR 5.000 per jamnya dihitung dari jam 10, baru balik sampai tutup kira-kira jam 4 subuh. Habis IDR 180.000 dan belum termasuk minuman yang bisa menunggak pengeluaran hingga dua kali lipat. Nah, tahun 1995 harga IDR 15.000 sudah memastikan masuk ke dalam venue plus minuman, dengan harga minuman di bar yang dimulai sekitar segitu juga. Memang tahun segitu 1 USD = IDR 2.500, tetapi mekanisme bagaimana rupiah menguat lagi seharusnya bukan urusan kita, kalau balik ke Zaman orde baru seharusnya kembali segitu juga.

Tidak ada razia

Hampir setiap weekend di berita ada penggrebekan venue, mau dungeon LGBT berkedok fitness center sampai F&B venue di Kemang. Tidak hanya razia dengan anjing K9 saja, tapi juga ada bus untuk tes urine di tempat plus mobil bak yang siap antar ke kantor polisi terdekat. Pre-reformasi, hampir tidak ada razia, clubber, party goers dengan bebas keluyuran dari Jumat sampai Minggu, senang-senang tanpa pikiran tegang!

Jangankan organisasi masyarakat (ormas) saja yang tidak ada dulu, BNN baru saja ditemukan tahun 2002. Dulu pihak aparat keamanan masih sibuk mengurus anggota partai politik atau mahasiswa yang menuntut keadilan hak asasi, orang lagi keluar malam mana mungkin diurus.

No flashy DJ booth, No shazam

Di jaman itu mixer yang dipakai masih Rane atau Numark, mixer canggih seperti Allen & Heath atau Pioneer belum ada banget, jangankan USB, CDJ belum diciptakan. Jadi lupakan lampu warna warni, auto-sync, laptop atau USB, yang kamu harus bawa waktu itu hanya tas berat banget yang isinya vinyl. Kamu bisa dapatkan hanya lewat titipan dari luar negeri atau toko plat di Gajah Mada plaza yang terbatas banget pilihannya. Karena keterbatasan ini hampir semua DJ punya lagu yang beda-beda, jarang ada yang main lagu yang sama. Kadang label dari vinylnya ditutup sticker biar tidak di contek, karena dulu Shazam belum ada!

Waktu club masih ‘club’

Saat ini yang masuk kategori club diskotik atau superclub hampir sepunah badak putih jantan di Afrika. Yang dimaksud dengan club adalah sebuah tempat dengan sound system & lighting yang layak, dancefloor yang mumpuni dan yang pasti gelap. Bukan sebuah restoran, bar atau lounge atau apa itu lah ditambahin sound system, DJ set, lampu sewaan.

Sekiranya dulu acara atau venue masih memikirkan kualitas lagu yang bisa membawa vibe acara agar memorable, sekarang mereka hanya ingin membawakan lagu yang menarik segelintir orang-orang yang bisa mengeluarkan uang banyak untuk bottle service. Sistem tiket masuk cukup untuk menghidupkan business dunia malam, cost dan perpajakan tinggi bukan masalah yang penting kenal dengan seorang pejabat.

Strategi promosi acara

Sekarang langkah-langkah untuk mengiklankan acara kalian adalah: rapat bareng, lalu memikirkan konsep visual yang unik, nama yang catchy, urutan set-nya bagaimana, cari grafik designer yang sekaligus bisa motion grafik, membuat post instagram & share ke teman-teman influencer. Ini semua dilakukan dengan budget yang bisa membengkak, karena di ekonomi sekarang mana ada yang gratis?

Kalau zaman orde baru dulu, kurang lebih sama tapi bedanya hampir semua proses ini lebih berbentuk fisik. Materi promosi misalnya dicetak sebanyak seribu di tempat fotokopi, harus proof print untuk lihat warna dan bahan yang yang dipilih sudah sesuai atau belum. Tunggu sekitar 24 jam untuk jadi dan di distribusi di toko-toko yang pengunjungnya ramai pada waktu itu, dibagikan ke orang sekeliling mall-mall hingga tempat tongkrongan-tongkrongan roti bakar di malam hari.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Kru Graffiti BTV di Podcast Terbaru GOODNWS

Dalam edisi terbaru podcast #SAYGOODNWS, Goodnws mengundang beberapa anggota kru...

Katalis Kota: Sepenggal Sejarah Budaya Dance Music di Jakarta

Musik itu angin, partynya fokus, DJ itu udah kayak foto model dan mungkin Jakart...

OPTIMAL : Frekuensi Antara Launch Party

Keramaian dan kemacetan pada Minggu malam di Jalan Taman Kemang, 7 Juli lebih op...

Berasa Model Peringatan Kesehatan, Dadang Minta Royalti

“Saya yakin itu foto saya meski banyak yang meragukannya,” kata Dadang Mulya...