fbpx

Membicarakan, Asal Kelihatan Boleh Dibicarakan

Banyak sekali zine yang seluruh kontennya adalah gambar, memicu tergesernya ruang bagi zine dominasi teks.

Berjalan-jalan di Malioboro selalu memiliki cerita yang berbeda bagi masing-masing pelakunya. Taman pembatas jalan, jalur pejalan kaki, pedagang makanan, pedagang souvenir, lampu-lampu hingga alat transportasi tradisional, semua bersepakat untuk menciptakan kesan yang romantis, “sangat Jogja”, penuh kenangan hingga kesan yang sangat turistik. Tapi tidak bisa dipungkiri, bahwa Malioboro memiliki sejarah dan keterikatan yang kuat dengan bagaimana Kota Jogja terbentuk. Semua kisah, kritik, cara pandang terhadap Maliboro saat ini dikisahkan dengan sangat komprehensif dalam zine berjudul Asal Kelihatan Boleh Dibicarakan yang digawangi oleh Amarawati Ayuningtyas, Hanz Sinelir, Umi Lestari, Sita Magfira, Yovi Sudjarwo, Zunifah (Uniph).

Asal Kelihatan Boleh Dibicarakan” dibicarakan pertama kali oleh Hanz dan Sita yang berlanjut kepada pertemuan dengan teman lainnya, seperti Amarawati, Umi Lestari, Yovi Sudjarwo dan Zunifah (Uniph) pada awal hingga pertengahan tahun 2018. Ide tentang zine ini berangkat dari ketertarikan personal kepada budaya visual dan bagaimana gagasan visual ini menjadi satu cara untuk membaca fenomena sosial yang terjadi. Upaya menghadirkan semua pencatatan dalam bentuk zine menjadi upaya pembacaan sekaligus pengalaman untuk mengalami budaya zine saat ini yang tentu saja banyak berubah mengikuti perkembangan zaman dan urgensi penciptaannya.

Ada poin penting yang saya catat ketika saya berkesempatan untuk bertemu dengan mereka, yaitu tentang keputusan mencetak yang menjadi satu bentuk kritik terhadap budaya zine saat ini. Banyak sekali zine yang seluruh kontennya adalah gambar. Kecenderungan ini memicu tergesernya ruang bagi zine yang menjadikan teks sebagai dominasi konten, baik dari segi tidak adanya peminat untuk membaca atau minat untuk membuatnya. Lalu, melalui zine ini mereka sedang mencoba untuk hadir dan membaca fenomena penerbitan seperti apa yang sedang terjadi sekaligus menjadikannya sebagai platform untuk mendisiplinkan diri dalam menulis dan pencatatan.



Cara Memulai

Seperti yang telah saya ceritakan di paragrafi pertama, edisi pertama dari Asal Kelihatan Boleh Dibicarakan bertemakan Malioboro. Mereka cukup menyadari, membicarakan Malioboro kemungkinan  terlihat sangat cheesy. Maka dari itu, pemilihan metodologi eksekusi yang tepat menjadi jurus untuk mengatasi cheesiness ini. Mereka memulai dengan metode Jalan Gembira, yaitu aktivitas berjalan kaki dan mencari cerita tentang apa yang ada di sekitar rute perjalanan. Metode ini awalnya digagas oleh Amarawati dan Zunifah. Untuk menjalankan metode ini, tidak diperlukan riset panjang untuk memulainya. Dengan berbekal rasa ingin tahu dan mengandalkan panca indera untuk menangkap semuanya yang terlihat, Jalan Gembira pun bisa dimulai.

Setelah Jalan Gembira dengan berjalan-jalan di Malioboro,  proses pengumpulan konten pun dilanjutkan. Setiap anggota berhak untuk menulis apapun yang menurut mereka menarik untuk digelontorkan kepada publik pembaca zine. Tidak ada pembatasan gaya penulisan atau topik yang khusus dalam proses editorial. Semua bisa membagikan apa saja yang dipikirkan dengan gaya penulisan yang disesuaikan. Setelah itu tinggal bagaimana pembaca meresponnya.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...