fbpx

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Performativitas Media, sampai ke Dangdut Koplo

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Sebuah meja persegi empat telah disiapkan di tengah Pendapa Ajiyasa, Jogja National Museum. Pada setiap sisinya, terdapat sebuah kursi dan layar LCD yang saling berhadapan. Satu-persatu dari empat orang yang duduk di sana tengah menjajal kesiapan prasarana yang akan mereka gunakan. Sore itu, 18 Agustus 2018, selepas pembukaan Indonesia Netaudio Festival 3.0 akan dilangsungkan sebuah diskusi dengan format yang lain ketimbang diskusi pada umumnya.

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun. Pergeseran dalam nama pun dilakukan; dari yang sebelumnya bernama Indonesia Netlabel Festival menjadi Indonesia Netaudio Festival. Hal ini terjadi karena ada perluasan spektrum dalam memandang petistiwa dalam budaya digital hari ini. INF merupakan tempat pertemuan musisi, pegiat skena, peneliti, dan pegiat netlabel. Semangat budaya berbagi masih sangat kental terasa di sana.

Dengan mengambil tema “Sharing Over Netizen Explosion”, INF kali ini menyuguhkan pameran seni media yang dikuratori oleh Riar Rizaldi, panggung musik, beberapa lokakarya, pasar barter, serta satu sesi diskusi. Diskusi yang dihadirkan oleh INF dikerangkai dalam tajuk acara yang disebut Performative Talks, hal inilah yang kemudian dapat menjelaskan mengapa format diskusi dan tatanan ruang diskusi diatur sedemikian rupa sehingga tidak nampak sebagaimana diskusi biasanya.

Memetakan Arus Bawah

Nuraini Juliastuti memulai diskusi dengan mengungkapkan betapa bersemangatnya dia kembali diundang pada acara tersebut. Nuning (begitu dia akrab disapa) menceritakan bagaimana dia pernah terlibat pada diskusi INF pertama, di mana dia sedang berjuang untuk menyelesaikan studi S3nya. Dan kini setelah studinya selesai dia merasa sangat beruntung untuk dapat membeberkan amatannya di tempat yang sama ketika dia memulai penelitiannya.

Nuning memulai diskusi dengan melacak kembali apa makna indie dan alternatif yang melekat lingkungan yang banyak terlibat dengan acara yang dihelat INF. Dengan merujuk pada Brent Luvaas, Nuning memaknai indie dengan penjelasan bahwa ia adalah proses redefinisi lokalitas, identitas, tempat, estetika. Lokal tidak hanya terkait dengan tradisi, tapi juga sebagai proses aktif untuk menemukan ulang maknanya.

Pertanyaan-pertanyaan penting pun kemudian dieksplorasi olehnya untuk didiskusikan kembali oleh para peserta diskusi. Seperti bagaimana konsep berbagi dikerangkakan dan dimaterialisasi; bagaimana pengorganisasian dan kelestarian orang-orang yang terlibat di dalamnya; hingga pertanyaan tentang bagaimana prinsip berbagi itu dapat dibutuhkan dan berubah dari hal yang menekan menjadi yang yang membebaskan. Pertanyaan tersebut kiranya penting untuk direnungkan kembali saat ini, di mana proses berbagi tanpa diiringi proses dukungan hanya menjadi hal yang memberatkan.

Setelah Nuraini Juliastuti selesai memeparkan beberapa temuannya, Manshur Zikri memulai diskusi. Dia mengawalinya dengan memberikan contoh-contoh performativitas dalam interaksi media. Dia memutar video yang sedang sangat populer yaitu “Keke Challenge”, bagaimana keterlibatan warganet menjadi salah satu titik utama dalam bahasa media digital saat ini.

Zikri memaparkan dengan sangat baik dimana kita sedang tinggal di era banjir informasi. Hal ini membuat kita merasa tidak terasing karena akses informasi sangat mudah dan terjangkau, tetapi dengan begitu juga kita mengalami problema lain dengan kemungkinan berita palsu yang mengacak-acak isi kepala.

Pintu yang terbuka lebar bagi warganet untuk turut andil dalam memproduksi informasi dan posisinya sebagai prosumen (produsen dan konsumen sekaligus) juga memiliki dua mata pisau. Ia dapat hadir sebagai alternatif informasi, tapi juga bisa sebagai reproduksi dari kebohongan atau kepalsuan informasi. Eksplorasi Zikri mengarah rekomendasi untuk warganet agar lebih aktif dan lebih sadar dalam pendayagunaan informasi yang meluap. Keberadaan informasi digital yang tersebar luas juga memerlukan fungsi pengarsip yang dapat ditempati oleh warganet. Dari sana dapat dibayangkan lebih jauh proses produksi pengetahuan yang baru.

Diskusi yang dihadirkan oleh INF kali ini tidak hanya menawarkan satu eksperimentasi dari jenis bentuk fisik atau tatanan ruang bagaimana diskusi tersebut dikelola saja. Akan tetapi secara tematik, pembicara yang dihadirkan juga terbaca memiliki kamar amatan berbeda yang kemudian dikomunikasikan bersama dalam satu ruang. Dari contoh bagaimana Nuning dan Zikri sudah dapat dilihat bagaimana pengejawantahan ide tentang arus bawah menjadi diperluas dan tidak mandek pada diskusi musik alternatif atau indie saja.

Hal ini ditambah lagi dengan pembicara ketiga, yaitu Irfan Darajat yang mengangkat amatan tentang dangdut koplo. Irfan memaparkan bagaimana dangdut koplo dapat bertahan hidup dengan mekanisme yang unik dan keterlibatan aktif dan organik dari setiap manusia yang terlibat di dalamnya.

Mengambil landasan dari penelitian yang dilakukan untuk studi S2nya, Irfan memaparkan ada hal yang menarik yang diamati dari dangdut koplo. Muaranya adalah relasi kuasanya dengan musik dangdut yang telah mapan dengan pola industri besar, dan Rhoma Irama sebagai ikonnya. Dangdut koplo hadir dengan pola produksi lagu yang semena-mena—menyanyikan ulang lagu yang sudah lebih dahulu populer dengan aransemen musik dangdut koplo, pola distribusi yang lepas dari patron industri besar—jasa shooting dan penjual VCD lapak, hingga identitas musikal yang berbeda dari dangdut sebelumnya. Dangdut dalam hal ini, memiliki potensi perlawanan yang besar dan sekaligus memiliki potensi untuk dikomodifikasi secara lebih besar lagi.

Membangun Kesadaran Bersama Tentang Budaya Berbagi

Sekilas, warna yang dihadirkan dalam tema yang diangkat masing-masing pembicara ini terlihat sangat beraneka rupa. Tapi jika dirangkai dalam bingkai diskusi semangat budaya berbagi, yang mana ini adalah konsep dasar INF hal ini menjadi menarik.

Komunitas INF dan musik indie atau gerakan alternatif yang dipaparkan oleh Nuning memiliki kesadaran untuk mengelola budaya berbagai ini dengan imajinasi tentang kesetaraan dalam berbagai pengetahuan. Kemudian dibenturkan pada kenyataan yang dihadirkan oleh Zikri yang memindai kegagapan warganet dalam menghadapi banjir informasi, dan tawaran pengorganisasian organik dan revolusioner dari dangdut koplo tapi rawan komodifikasi industri.

Untuk itu, penyikapan atas pengelolaan yang ideal yang dibayangkan oleh INF tidak dapat serta merta mengambil pola-pola yang dipaparkan oleh Zikri maupun dalam dangdut koplo. Perlu ada dialog yang terus-menerus dilakukan dalam membayangkan ekosistem berbagi yang dibayangkan. Bukan kemudian menghakimi antara satu dengan yang lain, melainkan dapat membaca praktik masing-masing agar dapat memindai dimana kekurangan dan kelebihan pola pengorganisasian dari fenomena sekitar.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...

Kru Graffiti BTV di Podcast Terbaru GOODNWS

Dalam edisi terbaru podcast #SAYGOODNWS, Goodnws mengundang beberapa anggota kru...