fbpx

mulai baca: hardcore soul

Visual kegilaan skena northern soul dan hardcore gabber.

Apakah kesamaan dari skena Northern Soul dan Hardcore di Inggris?  Eksplorasi rasa gairah, kegilaan, dan yang pasti euforianya.

Budaya keluar malam di Inggris sana sangat kuat dalam menyatukan orang-orang dengan selera yang sama dan ketepatan dalam berbagi keinginan untuk mulai sesuatu yang baru. Walaupun dari venue ke venue  banyak perbedaan visi, tapi dimanapun kalian berada , keluar malam adalah sebuah pelarian dari kenyataan, da usaha untuk merasa nberada di ruang yang seperti ‘rumah’ sendiri.

Itulah awal ide yang mempertmukan Ewen Spencer dengan seniman dan DJ Alberto Guerrini di tahun 2017 silam. Sebelumnya Alberto bikin project bernama Gabber Eleganza, sebuah gudang arsip online yang mendedikasikan sejarah skena hardcore. Di tahun 2011 bertemulah mereka dan mulai kolaborasi demi subkultur Inggris.


 


Waktu mereka bertemu, mereka semaleman berbagi cerita tentang dua skena yang bikin mereka nyangkut yaitu hardcore gabber dan northern soul. Selama diskusi mengenai masing-masing latar belakang mereka menemukan sesuatu yang lebih dari kedua subkultur ini. Spencer mengatakan, “Ini anak-anak yang datangnya dari kelas pekerja, kerja keras dan mainnya juga sekeras kerjanya, joget semalaman dengan dentuman yang repetitif”. Ini bukan secara unik hanya ada di Inggris, tapi paling enggak akarnya dari budaya anak muda Inggris. Dari zaman mod di awal 1960an di Soho sampai raver hardcore di Glasgow dan Tottenham, yang pasti keduanya ada banget kesamaan baik dari skena dan budayanya

Hasil dari pembicaraan mereka lahir Hardcore Soul, sebuah publikasi yang merupakan eksplorasi dari dua dunia- gabber dan northern soul- menjadi satu lewat kesetiaan yang sama, ritme kegilaan dan euforia yang sama. Bukunya dipresentasikan dua jenis, yang pertama berisikan foto dari weekender northern soul dan malam hardcore berbarengan. Kedua seri foto diambil pada tahun 1990an yang menggambarkan pengalaman yang otentik dan sangat mendalam, yang menurutnya beda dengan zaman sekarang.

Ia melakuan ini karena tidak adanya pilihan, keseruan yang bertahan datang dari generasi bukan yang riset dan hanya dengan klik. Kita harus jalan dan bertemu orang-orang, ngobrol yang tak pernah selesai dan perjalanan. Menurutnya anak-anak sekarang ingin seperti itu lagi. Banyak orang yang masih ngelakuinnya dan mau ada di perjalanan itu. menurut Spencer banyak orang yang bangun tidur dan sadar kalo kita tidak bisa melawan etika internet dan pergi jauh dari layar untuk bikin sesuatu. Mungkin sebuah pergerakan akan lahir dari situ.


 

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Pendekatan Intim Kolektif di Banjar Campout 2018

Perhelatan kedua dari Banjar Campout kali ini berlangsung di sebuah Area Perkema...

OPTIMAL : Frekuensi Antara Launch Party

Keramaian dan kemacetan pada Minggu malam di Jalan Taman Kemang, 7 Juli lebih op...

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Performativitas Media, sampai ke Dangdut Koplo

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ruang

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...