fbpx

Aktivitas Foto Prewedding Mengganggu Wisatawan di Bali

Apapun tujuannya, pemotretan prewedding bukanlah suatu hal yang tercela.

Pulau Bali cukup terkenal sebagai tujuan pemotretan pre-wedding untuk para calon mempelai yang beragam, baik dari sekitaran Bali bahkan dari luar negeri. Pertumbuhan bisnis ini cukup pesat karena keindahan alam yang tersedia. Tak jarang agensi fotografi bidang prewedding dari luar Bali yang mengadu nasib dan menyorot isu baru di Pulau Dewata.

Banyak tempat wisata yang sudah mematok harga untuk rombongan yang akan melakukan aktivitas pemotretan prewedding. Harganya pun variatif dari ratusan ribuan sampai 2 juta rupiah. Tersedia setting untuk bermacam harga, bisanya di tempat seperti tempat pemandian kuno yang transformasi menjadi tempat wisata sampai museum. Lokasi alam seperti, danau, air terjun, sawah (terasering), dan pantai, harga sewa hanya berkisar di bawah 500 ribu. Itu belum termasuk biaya sewa fotografer, wardrobe, make-up, dan masih banyak lagi. Di harganya yang bisa di bilang terjangkau, pemandangan alam menjadi pilihan banyak para calon mempelai. Bukan karena budget yang pas-pasan, tetapi dengan memilih tempat yang terjangkau, mungkin mereka dapat memaksimalkan props demi hasil yang ciamik. Tak jarang mereka mengalokasikan budget mereka untuk menyewa mobil mobil-mobil klasik sebagai tambahan menarik untuk foto yang akan mereka kenang di masa tua kelak.

Uniknya, pasangan-pasangan yang melakukan foto pre-wedding di Pantai Utara Bali didominasi oleh turis asing. Semakin marak, kegiatan ini mulai mengganggu para wisatawan yang hanya ingin menginjak pasir putih, bermain ombak, atau sekedar menikmati santai sore bersama keluarga. Dalam satu sore di satu lokasi, bisa berlangsung 3 sampai 4 pemotretan foto pre-wedding. Tak jarang beberapa crew dari agensi fotografi yang disewa calon mempelai mendatangi wisatawan untuk meminta bergeser dari tempat mereka sedang menikmati pantai. Mereka mencari latar belakang pemandangan matahari tenggelam yang sudah terkenal indahnya di pantai-pantai Bali bagian Utara.

Pada tahun 2015 silam, terjadi tragedi korban tenggelam di kawasan Tegangalang. Diberitakan, kedua calon mempelai warga negara asing melakukan pemotretan di bibir pantai mengalami kecelakaan yang melibatkan pasang ombak yang tidak diprediksi. Minimnya durasi berkunjung di Bali, ditambah dengan durasi jasa sewa agensi foto pre-wedding yang juga terbatas membuat kedua belah pihak tidak memperhatikan hal krusial seperti faktor pasang surutnya ombak.

Banyak pula calon mempelai yang hanya ingin hasil foto maksimal tanpa melakukan riset terlebih dahulu, mengambil foto pre-wedding di tempat-tempat sakral seperti di Pura/tempat ibadah umat hindu yang banyak terdapat di pantai-pantai di Bali, kurang menjaga ketentuan adat dan budaya. Apapun tujuannya. pemotretan prewedding bukanlah suatu hal yang tercela. Akan tetapi, jika sudah mulai mengganggu ketertiban umum, mungkin sudah saatnya pemerintah terkait melakukan edukasi kepada agensi-agensi fotografi agar saling menjaga ketertiban juga ketentuan adat dan budaya di area pekerjaan mereka. Lagi pula, kita semua (baik yang berencana menikah ataupun tidak) berhak untuk menikmati matahari tenggelam juga, kan?

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Kantor Teater x Chaos Non Musica x Swoofone di Tuck & Trap

Tidak hanya musik noise, tapi ada juga pertunjukan teater dan seni visual.

Seni Berhala Seni, Menghitung Nilai Investasi di Art Jakarta 2018

Seorang pria berjaket kuning mencairkan suasana serius dengan lawan bicaranya s...

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Performativitas Media, sampai ke Dangdut Koplo

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Hibriditas Musik Barakatak

Dari Electric ke Apple dan mereka kembali menari bersama di Yogyakarta, dalam ac...