fbpx

Apresiasi Internasional dan Kedewasaan Bermusik Bagi Stars and Rabbit

“Stars and Rabbit itu adalah bagaimana Elda menyampaikan positive energy ke banyak orang.”

Dua klip video terbaru Stars and Rabbit, “Little Mischievous” dan “Any Day in The Park” meninggalkan pertanyaan di kepala saya. Seberapa jauh proses eksperimen yang dilakukan mereka, dan bagaimana semuanya mampu dilakukan dalam kurun waktu singkat. Sepengamatan saya, enggak banyak band yang bisa merespon perubahan dengan cara yang begitu berkelas. Apa lagi jika isunya adalah pergantian formasi.

26 Februari, Stars and Rabbit merilis “Rainbow Isle” sebuah album penuh yang juga jadi manifesto perihal eksplorasi mereka yang tak terbatas. Hasil metamorfosis tersebut juga dipresentasikan secara langsung lewat tur Asia mereka yang diadakan di Tokyo, Taipei, Busan (batal), dan ditutup di Jakarta.

Sebelum menyaksikan penampilan mereka di M Bloc Space tanggal 4 Maret kemarin, saya sempat gangguin Elda dan Didit buat ngobrol-ngobrol soal wabah Corona hingga definisi pendewasaan musik.


 

FA: Selamat buat perilisan album terbaru dan tur Asia nya, ya! Eh kemaren yang di Busan dicancel ya?

E: Iya, cukup disayangkan sih. Kemarin karena masalah virus Corona kita akhirnya enggak bisa main di Busan. Jadi beberapa hari sebelumnya penyelenggara acara memang kabarin kita.

D: Pada saat itu Korea level nya lagi naik ke “Red” maka sepertinya yang nge-cancel itu memang government. Kita sebenarnya enggak dapet lengkapnya sih alasan kenapa di cancel, tapi yang pasti di sana emang lagi enggak diizinkan ada kerumunan.

Tapi di Jepang dan Taipei aman-aman aja ya?
D:
Wah Taipei itu amazing banget sih. Pas di sana kita enggak ngerasain suasana mencekam kayak yang kita denger di media-media.

E: Karena dari awal mau berangkat kita memang open sama semua informasi soal kondisi di sana dan kemungkinan yang bisa kejadian. Jadi yaa kita sih siap-siap aja. Abis mau gimana lagi? kondisinya kok bisa pas banget gitu ya? (tertawa).

D: Selain beberapa kota kemarin kita juga harusnya ada manggung di negara-negara Asia lain, tapi memang harus diinformasikan batal dari sebelumnya.

E: Tapi yang jelas semuanya kondisi di sana lebih rileks dari yang kita pikirin kok. Yaa semoga dengan vibrasi yang kita kasih semua virusnya bisa mental-mental (tertawa).

Tur kemaren jadi tur pertama bareng Didit ya? Buat Elda, apa yang kerasa berbeda?

E: Surprisingly semua terasa sangat alami. Karena aku kenal Didit juga kan udah lama banget, bahkan sebelum ada Stars and Rabbit. It’s different, tapi paling hanya karena formasinya ada yang berbeda.

D: Iya, kalau secara teknis jelas ada yang berbeda. Karena sekarang hal itu yang ngatur memang gue. Meskipun dari album “Constellation” sebagai produser gue udah bangun sistemnya.



Salah satu hal yang banyak banyak dibicarakan orang tentang Stars and Rabbit adalah keberhasilan kalian untuk manggung di berbagai negara. Apakah dari awal pencapaian itu memang didesain sebagai salah satu tujuan dari proyek ini?E:

Di awal kita cuma ngikutin siapa yang ngerespon aja sih, tapi ya akhirnya begitu. Karena kita rasa kalau agak susah penetrasi di sini ya kita coba di mana yang paling responsif.

Nah kebetulan di tahun 2011 pas awal-awal Stars and Rabbit kita coba masukin demo ke MySpace, dan hasilnya justru media dari UK yang pertama kali kita rasa ngasih deeply appreciation. Mereka ngaku suka sekali sama musik kita dan mau interview. Dari situ baru gue terpikir “wah jangan-jangan emang bisa sampe ke sana ya musik kita,” gitu. Baru sejak itu mulai merembet ke mana-mana.

Kita kan memang cari orang-orang yang mau dengerin karya kita with open mind and open heart. Jadi ya what works for us kita follow itu.

Memang apa yang berbeda dari cara audiens internasional mengapresiasi karya kalian?

E: Nah itu lah yang selalu pengen gue coba encourage ke banyak musisi-musisi kita untuk bisa ngedapetin  pengalaman bermusik dan dan tampil di depan orang-orang yang terbuka dan enggak punya ekspektasi apa-apa.

Tampil di hadapan mereka tuh bukan cuma soal bagusnya kualitas teknis atau berasa keren. It’s more than that. I feel like I’m healed, it makes me feel better. It much more than just good or not good, cool or not cool. They were talking about the energy.

D: Walaupun sebenarnya hal itu bisa didapetin di mana aja (tidak harus di luar negri). Itu kan kayak lo lagi mancing ikan aja. Kalau umpan lo besar, ya lo lebih punya peluang untuk dapetin ikan yang besar. Jadi tergantung sebesar apa lo bisa kasih energi itu di atas panggung.

Soal encourage yang tadi Elda bilang, apa kah menurut kalian semua musisi Indonesia perlu menyasar pasar internasional dan menargetkan untuk tampil di luar negeri?

E: It’s not necessary. It depends on the musician on how curious are you for all the experiences, itu aja. Sampai sejauh apa lo mau mengalami itu? dan apa yang sebenarnya lo cari?

Mungkin aja sih kita emang put different meaning on things. Jadi ya sekali lagi it’s not necessary but it would be lovely. It makes your mind rich.

Tampilnya seniman atau musisi di luar negeri sering disebut-sebut sebagai misi kebudayaan. Kalian sendiri punya enggak hal-hal tertentu yang kalian lakukan buat tunjukin budaya Indonesia pas tampil di luar?

D: Kalau secara spesifik bicara soal budaya, yang kita bawa itu ya memang budaya pop, bukan budaya Indonesia. Tapi bagaiamanapun kita kan bawa nama Indonesia, dan dengan kehadiran kita di tanah mereka, cara kita berkomunikasi dengan mereka, itu kan sedikit banyak adalah budaya ya.

Jadi unsur budaya yang kita bawa bukan dalam bentuk performance, tapi bagaimana kita membawa diri kita di rumah mereka.

E: Secara intentionally tidak ya (membawa budaya Indonesia). Tapi ya I was raised here, dan cara approach yang paling tepat adalah seperti yang Didit sampaikan tadi. Jadi ya mau ditempatkan dimanapun juga pasti ketauan kalo mbak’e ini ya dari Jowo (tertawa).

Tapi kalau lewat musiknya Stars and Rabbit, misalnya dirasa tepat ya suatu saat nanti why not? I love gamelan so much, tapi kan enggak mungkin aku paksakan pakai gamelan kalau memang tidak sesuai sama kebutuhan musiknya.



Oke, ngomongin album baru kalian nih, “Rainbow Isle” yang menunjukan perubahan yang begitu besar. Dan sering kali evolusi dari karya-karya baru musisi disebut sebagai sebuah pendewasaan. Tapi menurut kalian sendiri apa sih definisi pendewasaan dalam bermusik?D:

Bukan masalah dewasa atau enggak, tapi buat gue pertama kali Elda ngajak gabung (dengan Stars and Rabbit) dan mau ada album baru ya memang harus ada progress. Tapi bentuknya itu bisa apa saja.

E: Pendewasaan itu ku rasa beriringan juga dengan my state of being. Itu beriringan dengan my point of view dan all the experience yang terjadi.

Some people don’t like change, mereka negerasa cukup ada di posisi mereka sekarang. Tapi kalo gue, I always looking for change, I want to keep evolving. Jadi buat gue ini kayak spiritual maturity juga. Dan itu semua pasti berpengaruh juga sama musik kita.

Kalau di “Constellation” gue membayangkan gue nyanyi di atas bukit, dengan kekuatan sebesar mungkin, sekarang gue harus membayangkan bagaimana gue jadi orang yang sudah tua danmencari cara untuk senyamannya gue menceritakan sebuah kisah.

Di album ini gue enggak lagi berusaha membuktikan apa-apa. This is a tribute for what we are capable of. Dan terhadap apa yang gue dan Didit sudah pernah alami. Dan itu artinya kita naik kelas, itu adalah progress.

Berarti semua dibuat secara natural banget ya? Emang gimana proses pembuatan lagu yang biasanya kalian lakukan?

D: Kita biasanya mulai semuanya dari lirik, jadi tergantung mau nulis lagu tentang apa. Gue sebagai produser ngebebasin Elda untuk berekspresi. Nah gue mengarahkan; misalnya lo nulis lagu tentang “A” berarti ekspresinya paling jauh ya “B” atau sekalian jauh langsung ke “Z”. Art itu kan gitu ya, satu tambah satu bisa seratus.

Buat gue dalam musik itu “King” nya itu adalah lirik. Musiknya nanti bisa ngikut, mau dark misalnya? Atau vibrant? Misalnya.

Di kolom komentar Youtube unggahan dua single terbaru gue melihat perdebatan tentang versi Stars and Rabbit terbaik menurut masing-masing pendengar. Yang lumayan lucu adalah kecurigaan beberapa orang bahwa evolusi Stars and Rabbit terjadi karena enggak mau lagi terasosiasi dengan folk senja yang sedang jadi bulan-bulanan. Gimana tanggapan kalian?

D: Loh kan tadi Elda udah bilang. Semua itu memang hasil dari perjalanannya dia, cerita-ceritanya dia. Bukan suatu hal yang sedemikian rupa dibuat untuk jadi gini atau gitu.

E: Untungnya gue bukan orang yang baca dan perduli dengan komentar-komentar apapun. Pernah ada masanya sampai akhirnya gue inget sekali pas beberapa tahun lalu gue manggung, ada seorang yang bisa dibilang penggemar Stars and Rabbit ngomong satu hal yang membuat gue tau bahwa hal yang gue lakukan adalah hal yang benar. Dia bilang “Dengerin lagunya mbak Elda itu bikin aku ngerasa kalau semuanya itu jadi possible.” Dan mengingat itu bikin gue merinding.

D: Jadi intinya kalau bicara soal Stars and Rabbit itu bukan bicara soal musik Folk atau apapun itu. Stars and Rabbit itu adalah bagaimana Elda menyampaikan positive energy ke banyak orang.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Iblis & Malaikat Dalam Jiwa Alipjon

Dalam jiwa Alipjon, iblis dan malaikat berjalan bersama. Ked...

Sejarah Subjektif Budaya Sneakers Nasional

Seperti hal-hal lain. Sneakers dan budayanya terus berubah.

Nyoto Tiap Hari Dalam Setahun

Kisah perjalanan Endo mengeksplor soto setiap hari.

Ngobrol Bareng Chaos in CBD

Produser bersaudara yang ugal-ugalan.