fbpx

Cerita Dibalik Sistem Profit Sharing di Jakarta

Kalau collective kamu masih ditawarkan oleh sebuah venue untuk profit sharing. Sebenarnya sistem itu bukan sebuah aturan main yang dibuat venue, tapi oleh para performernya.

Jaman sekarang, sebuah collective, E.O atau promotor seringkali menyulap sebuah tempat F&B menjadi tempat untuk berpesta di siang hari maupun malam hari. Sistem profit sharing menjadi sebuah sistem pembayaran yang paling sering dipakai. Sebuah sistem yang saling menguntungkan kedua sisi dari venue dan pembuat acara. Mari melihat balik kisah tercetusnya sistem tersebut di Indonesia?

Sharing profit adalah sebuah sistem pembayaran yang dilandasi kesepakatan bersama antara venue dan pengisi acara. Dimulai dengan pengajuan proposal dari collective kepada venue entah itu klab, cafe, lounge ataupun restoran. Dilanjuti dengan negosiasi penawaran terhadap policy tempat tersebut akan sistem pembayarannya.

Penawaran yang paling umum adalah pembayaran secara progresif. Semakin tinggi pendapatan dalam malam tersebut, semakin besar pula persenan yang akan didapat dari income venue tersebut. Penawaran yang kedua adalah sistem flat payment. Collective akan mendapatkan persenan sesuai dengan yang deal yang disetujui setelah mendapatkan target.

Sebagai contoh, misalnya sebuah venue memberikan target sales 20 juta rupiah untuk satu malam, apabila telah menembus target tersebut collective akan mendapatkan 20 persen dari berapapun jumlah sales venue tersebut. Apabila tidak mencapai target, maka collective tidak akan mendapatkan apapun. Sebuah sistem yang win-win pada kedua pihak.

Apabila sekarang sistem tersebut sudah banyak diterapkan di restoran, pada awalnya sistem ini mulai diterapkan di klab. Lebih tepatnya pada tahun 1995, Anton dan Hogi Wirjono datang ke Club Parkit di Jakarta Pusat untuk membuat party yang dinamakan Future. Disitulah mereka mencetuskan ide profit sharing terhadap venue tersebut.

“Sebenernya gini sih, dulu tuh budaya sharing profit tuh enggak ada, jadi yang nyiptain tuh kita sebenernya,” ujar Hogi. “Jadi dulu waktu acara kita yang Future, acara kita di Parkit, kita kerja sama aja deh soalnya mereka juga bingung kan gimana. Kita mengambil sharing profit dari sales di bar sama kita juga mengambil dari tiket masuk.”

Sebelum ada sistem tersebut, belum ada wadah dimana DJ (Disc-Jockey) bisa bermain musik sesuka mereka. Terutama untuk musik-musik underground seperti house dan techno. Klab-klab hanya ingin memainkan lagu-lagu komersil yang dapat menaikan sales mereka. Musik yang tidak umum seperti musik underground tidak diterima oleh mereka. Setelah berjalannya acara Future di Parkit, lahirlah budaya underground. Future pun menjadi salah satu collective yang paling dipandang di Indonesia atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Future 10.

Menurut Heru, salah satu anggota Future 10 juga, sistem profit sharing membantu klab-klab yang belum begitu populer atau kurang didatangi pengunjung. Karena venue membutuhkan DJ tetapi tidak mau mengeluarkan biaya banyak untuk membayar pengisi acara tersebut. Dengan adanya profit sharing, maka club tidak perlu repot-repot mencari DJ tetapi pemasukan datang karena ada yang mau mengisi dengan persetujuan bagi untung.

Setelah suksesnya acara di Parkit, lahirnya budaya profit sharing, mulai banyak venue-venue yang ikut bermunculan dan menerapkan sistem tersebut. Industri dance music pun beralih dan budaya underground berkembang sejak itu.

Downey, seorang music director, resident DJ klab Domain dan salah satu anggota Future 10 mengaku senang terhadap perkembangan budaya underground pada saat itu. “Untuk industrinya kalo dalam dari segi sisi underground mungkin ya, dulu gua seneng vibe jaman dulu karena underground ada dimana-mana, dan setiap genre bikin dan punya tempatnya sendiri.”

Sekarang, dari segi klab sampai ke kafe dan restoran, budaya profit sharing seringkali diterapkan untuk collective mengisi acara. Industri musik underground pun sudah berkembang pesat dan menjadi konsumsi orang-orang setiap akhir pekannya. Semua ini dimulai dari dua orang yang ingin memainkan musik yang mereka mau mainkan mengajukan penawaran yang dapat menguntungkan kedua belah pihak. Sebuah “formula yang paling oke,” menurut Hogi Wirjono.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memperingati May Day Sebagai Buruh Kreatif

Memperingati May Day bersama Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk De...

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Semalam Saja: Kultur Music Disco Di Kota Bertuah

Kolektif bernama "Semalam Saja" bawa musik disco masuk Pekanbaru

Berasa Model Peringatan Kesehatan, Dadang Minta Royalti

“Saya yakin itu foto saya meski banyak yang meragukannya,” kata Dadang Mulya...