fbpx

Cerita Rave Pinggiran Polandia di Era 90an

Melawan keresahan dengan techno sekenceng 140 bpm

Setelah pecahnya Uni Soviet di awal 1990-an, Polandia juga mengalami reformasi dari kekuasaan pemimpin bertangan besi. Akhirnya Meledak lah kebebasan berekspresi dalam berseni dan musik. Termasuk skena rave yang semakin liar lewat berbagai inovasi seru para pemuda pasca reformasi tersebut.

Polandia memang sudah punya reputasi yang kuat dalam seni visual dan desain grafis. Pada saat itu seniman-seniman juga banyak yang tertarik dengan rave, sebuah subkultur yang merupakan simboli kebebasan. Begitu pula kebersamaan secara komunitas mengawali masuknya kapitalisme yang diambil alih oleh swasta.

Fenomena ini di dokumentasikan dalam film bertajuk ‘140 Beats Per Minute- Rave Culture and Art in 1990s Poland’ yang menceritakan perannya rave dengan pengaruhnya “pop” dalam kesenian Polandia di tahun 1990an. Tate Modern berkesempatan menayangkan film yang berisi wawancara-wawancara dengan berbagai figur rave penting pada saat itu hingga sekarang.

Salah satu kurator film 140 BPM, Lukasz Ronduda yang juga figur utama pada dokumenter ini juga pernah mengadakan pameran pada tahun 2017 silam dengan judul yang sama di Museum Warsaw. Dimana diceritakan bahwa keberhasilan skena yang terjadi sekarang adalah berkat ideologi yang tercipta karena peran rave zaman dulu.

Judul ‘140 BPM’ sendiri dipilih karena tempo musik techno yang dimainkan saat itu. Techno merupakan kunci dari rave dan acara-acara underground di Polandia yang seakan-akan menggiring perubahaan iklim politik dan sistem ekonomi pada saat itu. Di sisi lain mereka menyatakan keresahan pada saat terjadi akselerasi sosial dan teknologi melalu rave party!

“Diawali dengan energi yang optimis dan berhubungan kuat dengan terbukannya dunia barat yang memperkenalkan kapitalisme.” jelas Ronduda. “Pada saat itu semuanya bersatu karena lambat laun akan menjadi bagian dari Eropa modern dan globalisasi. Naif banget.”

Karena ditentang oleh budayawan elit Polandia, maka rave muncul di daerah-daerah kecil di pinggir kota. Budaya rave sangat kuat hubungannya dengan realita kapitalisme baru, tapi yang menarik juga yang terjadi di Polandia pada tahun 1990an justru pembangunan di pinggir kota. Ini faktor yang penting untuk diskotik-diskotik di desa-desa kecil terutama bagi budaya petani. Abstrak banget dan sangat berhubungan erat dengan gerakan tubuh dan terlihat modern dan kebarat-baratan begitupun aspek dari kehidupan pedesaan(rural).

Saat ini ekosistem rave di Polandia sudah sangat maju, hibrida dari bentuk sebelumnya secara global. Walaupun dulu tidak begitu dianggap, namun sekarang dikonsumsi oleh insan-insan kreatif kosmopolitan dan masih berkembang di kota-kota besar. “Di Berlin dan Inggris budaya rave sudah sangat jelas, tapi di Polandia sudah menjadi tradisi kalau rave di pedesaan dan terkenal brutal. Kami tertarik tentang bagaimana rave lokal dan rave global bersatu di Polandia. Ini merepresentasikan konflik masyarakat Polandia” cerita Ronduda.

Ok penasaran pengen nonton? Tunggu saja di festival-festival film atau acara pusat budaya Polandia kota kalian siapa tahu film ini diputar.

 

 

 

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

SCURBS! Merilis ‘SCRBS 002’

Kece-kece juga nih editsnya.

Human Traffic mau ada sekuelnya!

The weekend has landed!

Selamat Datang di Jungle Dance!

Pesta eksotis di Samarinda.

In Bed With: Young Marco

Hubungan Young Marco dengan Indonesia.