fbpx

Di tengah Rusuhnya Thamrin

Pergi bekerja mendekati kerusuhan.

Beruntung untuk kalian yang diberikan izin bekerja dari rumah pada 22 Mei kemarin. Karena beberapa dari para pekerja masih harus melaksanakan tanggung jawab pekerjaan pada saat kerusuhan terjadi. Salah satunya adalah Bobby Mandela, pria yang bekerja di daerah Thamrin, titik panas lokasi demo. Berita kekacauan Ibukota tidak menyurutkan niat Bobby untuk tetap meluncur ke tempat kerja, mengingat sudah menjadi tugas Bobby sebagai awak media untuk berada ditengah-tengah massa dan meliput hal tersebut. Ya, lokasi demo adalah tempat kerja Bobby pada hari itu.

 

Apakah kantor lo meliburkan pegawai di tanggal 22 Mei?

B: Kebetulan kantor gue media, jadi mau separah apapun nggak akan libur. Lebaran aja nggak libur apa lagi peristiwa gede kayak gini, nggak mungkin libur juga. Mungkin pegawai lain kaya account executive dan lainya libur tapi untuk announcer, program director, atau operator harus standby- apalagi ini radio.

 

Apakah kantor lo meliburkan pegawai di tanggal 22 Mei?

B: Jangankan pagi 22 Mei, kemarin tanggal 21-nya juga gue udah kepikiran kalau besok gue harus mampir ke sana. Karena ada dasarnya gue memang suka ke tempat yang bahaya. Kaya waktu bom Sarinah kebetulan kantor gue di lantai 8 gedung itu. Padahal gue telat bangun terus temen gue nelpon “Kantor di bom nih”, gw langsung berangkat. Gw suka aja ke tempat bahaya ngga ngerti deh kenapa, adrenaline-nya mungkin.

 

 

Ada persiapan khusus untuk berangkat ngantor hari itu?

B: persiapan gue standar aja, gue tau bakal basah jadi ya bawa kaos ganti sama handuk. Terus pastinya powerbank, charger, dan kamera buat foto-foto. Paling sama odol karena ada gas air mata, tapi biasa gue minta orang aja. Oh sama minum dan rokok juga, karena dari pengalaman gw dua barang itu susah didapet, nggak ada yang jualan soalnya.

 

 

Berdoa dan pamit orang tua dulu ga sebelum jalan?

B: Doa orang tua nggak ada sih, cuma gue ngasih tau besok mau ke demo. Mereka udah ngerti, karena gue emang biasa pergi ketempat-tempat bahaya selama ini, tugas jurnalstik laah kerennya (tertawa). Padahal mah pengen nonton orang ribut aja  sekalian live report untuk siaran.

 

Lo nggak parno sama sekali emang?

B: parno sih biasa aja sejujurnya. Paling sama batu, molotov gitu-gitu aja kan? Soalnya gue juga di belakang pasukan huru-hara. Oh tapi gue takut ada bom bunuh diri sih dikerumunan polisi. Itu yang paling gue takutin- jd gue agak aware sama orang yang bawa tas. Itu doang nano spesial gue kemarin pas 22 Mei, selebihnya kalau batu dan Molotov, nggak sih. Namanya juga rusuh.

 


Pas sampai kantor, gimana keadaan di sekitar sana?

B: Gue sampai kantor sehabis makan siang. Naik MRT turun di dukuh atas. Dari dukuh atas ke kantor jalan kaki karena jalanan dari bunderan HI sudah ditutup. Pasukan Brimob baru turun dari truk, ratusan jumlahnya. mereka bawa bodyguard, legguard, elbowguard segala macem kaya stormtrooper gitu. TNI baru datang rame-rame, dan massa di perempatan Sarinah udah full banget. Ada satu mobil diatasnya ada yang lagi orasi.

 

Isi orasi-nya apa?

B: Kalau gue denger yaa cuma membakar semangat para pendemo aja.  Mereka teriak curang lah, dizolimi lah.

Menurut gue akan lebih elegan kalau isi orasinya lebih ke penjelasan struktur atau bukti otentik yang lalu dijabarkan. Tapi kalau gue denger kemarin isinya cuma membangun emosi aja, membakar semangat, dibikin berkobar-kobar.

 

Kapan lo sadar demo itu akan rusuh?

B: Dari awal gue udah tau itu bakal rusuh, apa lagi setelah ngeliat dari berita di TV kemarin gimana. Perkiraan gue dan orang-orang disana sama polisi, rusuhnya pasti abis buka. Kenyang abis makan kan tuh- walaupun nggak tau juga sih mereka pada puasa apa nggak. Dan  abis solat Isya baru deh kejadian, kaya bom waktu aja pasti bakal meledak.

 

Gue liat di IG story lo jalan dengan santai dan dapet KFC. Emang di sana enggak mencekam?

B: Mencekam banget, takut sih takut. Apa lagi ketika lo tau batu gede-gede kena tangan pasti bakal bikin cedera- terus banyak kaca, dari belakang dilempar botol dan gas air mata. Mencekam banget kaya perang.

Tapi anehnya di depan perempatan Sarinah depan Bawaslu kan jebol tembakan-tembakan pakai kembang api macam harry potter tuh, eh giliran gue ke jalan Sunda depan Theresia biasa-biasa aja. Depan kedutan Perancis juga santai aja ada yang makan nasi goreng, makan sate padang, nasi bungkus, ngopi, tapi giliran gue ke Sarinah intense tuh. Ambulans bolak-balik, banyak korban gas air mata, padahal cuma berjarak berapa ratus meter doang.

 

Lo udh berapa lama sih ngantor di Sarinah? Bedanya pasca pemilu 2014 dengan sekarang apa?

B: Gue ngantor di Sarinah dari 2011 terus 2016 gue cabut, baru tahun ini masuk lagi. Bedanya? beda banget, dulu ya nggak rusuh, maksudnya nggak sampai segini. Yang sekarang massanya lebih banyak, lebih marah. 2014 kurang lebih sama tuntutan mereka tapi yang sekarang lebih rusuh.

 

Ada harapan yang mau disampaikan untuk para pendemo?

B: Ya gue harap para pendemo atau perusuh akan diberikan kehidupan yang lebih baik secara ekonomi, moral, pengetahuan. Mereka dapat memakai teknologi dengan bijak, mendapatkan kesempatan yang sama, lebih tenang hidupnya bisa liburan, diberi kesehatan, dan bahagia.

Menurut gue kalau mereka sudah tercukupi dan bahagia seharusnya mereka tidak emosi dan semarah itu. Semoga mereka kedepan lebih bahagia dan lebih baik kehidupanya. Kalau semua udah bahagia kan ga mungkin rusuh.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Kantor Teater x Chaos Non Musica x Swoofone di Tuck & Trap

Tidak hanya musik noise, tapi ada juga pertunjukan teater dan seni visual.

Angsa Hitam yang Menggabungkan Musik dan Custom Automotive

Melihat penetrasi elemen musik kolaborasi Thrive dan Kimo Rizky di website custo...

Detroit Pistons, Techno, dan Trump Menurut Joe Casey dari Protomartyr

Diskusi Bebas Problema Kota Detroit, Techno, Punk Dan Sedikit Trump Bersama fron...

Kalau Kalian Belum Ke Pameran PARIPURNA di RUCI Art Space Mending Sekarang

DIVISI 62 berkolaborasi bersama RUCI Art Space dalam mempersembahkan sejumlah ka...