fbpx

Dokumentasi Aksi Mahasiswa oleh Fadli Aat dalam Black & White

“saya menunggu momen-momen bagus di kolong flyover Taman Ria, karena alasan sentimentil dimana 20 tahun lalu saya pernah berada disana juga untuk menolak RUU Antimiliterisme bersama kawan-kawan dari Forkot” – Fadli Aat

Kemarin, 24 September sejumlah gabungan mahasiswa dan mahasiswi universitas nasional menuntut tujuh poin desakan dalam momentum pengesahan sejumlah RUU yang dianggap problematis oleh publik. Sebagian besar ditujukan kepada rancangan RKUHP terbaru yang dikecam sebagai kesempatan hukum yang dianggap opresif kepada masyarakat. Aksi massa tersebut diwarnai dengan pesan yang mencakup humor hingga pilu. Dalam kesempatan ini, kami menerima rekam dokumentasi oleh Fadli Aat (Diskoria / Kodim in the Riddim) yang berada di lapangan dengan setup kamera analog Canon F-1.

FA: Pemilihan film stock black & white yang tekstur grain tinggi, membuat style dan karakter foto jurnalistik old-school jadi lebih kuat. Kalau boleh tau film stock yang digunakan apa dan kenapa memilih itu?

Aat: Sengaja memang saya memakai film BW, buat memotret momen-momen yang kiranya bakal dramatis. Saya percaya BW jika dipakai dimoment yang tepat akan sangat memperkuat hasil fotonya kelak.

Pemilihan subject-subject yang di capture oleh Mas Aat, prosesnya seperti apa?

Seperti biasa saya berkeliling buat mencari objek yang kira-kira menarik buat diabadikan, uga waktu pengambilannya. Dimana biasanya jam 17.00 sore adalah waktu-waktu krusial disebuah demonstrasi, ‘Apakah bubar damai atau berujung bentrok?’, tapi ternyata kemarin petugas sudah represif sejak [sekitar] pukul 16.30. Kalau saya pribadi, saya menunggu momen-momen bagus di kolong flyover Taman Ria, karena alasan sentimentil dimana 20 tahun lalu saya pernah berada disana juga untuk menolak RUU Antimiliterisme bersama kawan-kawan dari Forkot, dan sempat diabadikan oleh street photographer senior, Bang Erik Prasetya.

Kalau dalam pengamatan Mas Aat sendiri, bagaimana sentimen atau emosi dalam suasana perkumpulan massa yang kemarin terjadi? Apakah sepenuhnya tertangkap dalam dokumentasinya?

Dokumentasi saya masihlah jauh dari kata cukup dan layak, karena keterbatasan waktu dan pengalaman saya, padahal momen yang ada kemarin sudah sangat bagus buat diabadikan. Walau makin malam situasi sudah tak kondusif karena sudah bercampur dengan orang-orang yang tak ada kepentingannya. Pendek kata mulai pukul 19.00 kemarin sudah menjadi massa aksi, bukan aksi massa lagi.

Dari semua frame yang ada dari roll tersebut, mana yang menjadi pilihan pertama Mas Aat?


 


Apakah hambatan-hambatan yang dialami Mas Aat dalam menggunakan medium 35mm, dalam proses dokumentasi kemarin?

Bukan hambatan, lebih kepada pengalaman saya yang masih sedikit untuk dokumentasi momen seperti ini, misalnya untuk focusing yang masih manual misalnya. Namun buat saya sebuah momen jauh lebih mahal daripada ketajaman / teknik foto tersebut..

 

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Seni Berhala Seni, Menghitung Nilai Investasi di Art Jakarta 2018

Seorang pria berjaket kuning mencairkan suasana serius dengan lawan bicaranya s...

Melihat Sisi Positif untuk Skena Jika Kembali ke Jaman Orba

Merasakan iklim politik yang semakin hari semakin dekat dengan 2019, kita harus ...

Proses Soundscaping T-27 Thrive Motorcycles

Sebuah cerita pertemuan dua craftsman yang memutuskan untuk memajukan karya mere...

Aktivitas Foto Prewedding Mengganggu Wisatawan di Bali

Apapun tujuannya, pemotretan prewedding bukanlah suatu hal yang tercela.