fbpx

Iblis & Malaikat Dalam Jiwa Alipjon

Dalam jiwa Alipjon, iblis dan malaikat berjalan bersama. Keduanya saling menggoda dan menerkam satu sama lain

“Siapa elo?”

“Alipjon.”

“Siapa dia?”

“Meteor . . .” sebaris gigi melaju dengan cepat, “yang jatuh dari langit,” cengengesnya.


 

Di Monopoli udara selalu terasa seperti malam hari. Ada semacam memori yang mencegah matahari masuk ke balik kaca-kaca jendela yang kelihatan terus kelabu meski lampu-lampu lobi dinyalakan terang, berseri 24 jam sarang gemerlap. Berwarna kuning dan berpijaran sejenis lagak angkuh sebuah hotel klasik kawasan hiburan para keturunan orang-orang kaya, Taman Kemang, Jakarta Selatan. (baca: kaum modern pragmatik). Setiap wajah yang terpampang di sana mencoba tidak peduli, terlebih untuk satu sore yang terlambat dan lambung baru saja disiram kelakuan jalanan, menungging kapucino panas lalu arak Bali dalam jarak yang tidak berjauhan. Demi menyamakan getaran, begitu bunyi timah flask yang kini kosong. Di ujung sana pintu elevator tersenyum bijak, seakan mengutip nasihat sang pemilik tempat, ‘Orang Miskin Dilarang Mengeluh.’ Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah adegan klise tentang orang-orang pinggiran yang berhasil membuktikan diri dan mengambil alih.

Alipjon ingat pernah ditolak masuk Monopoli tanpa alasan jelas. Bersama gerombolannya mereka terkena tuduhan mata yang cukup menghinakan, pasti akibat selera busana yang dianggap kurang pantas, terlalu gembel atau mungkin bisa jadi kumal. Tapi tidak ada yang mampu dilakukan seorang seniman tak dikenal selain menerima saja penolakannya. Tidak juga memendam benci, Alipjon malah cuek bebek. Baginya semua hal akan tiba bila saatnya tepat nanti. Tidak guna pemaksaan berlebih, biarkan saja kereta meniti relnya sendiri.

Dan kereta itu tengah berhenti sambil membunyikan loncengnya keras-keras sekarang. Tidak sampai setahun setelah peristiwa tertolaknya tadi, Alipjon tengah berdiri di lantai empat Hotel Monopoli, tempat tiga karyanya digantung mengelilingi koridor kamar yang sempit. Gestur flamboyannya terbungkus oblong Chicago Bulls dan rambut jamur warna hitam yang berbandul emas pada daun kirinya. Garis wajahnya kekar di rahang, membentuk tulang kepala yang panjang. Pipi tirus sukses mencetaknya serupa tengkorak Misfits berjalan versi swag. Kharisma Alipjon bertumpu di pundak kepercayaan dirinya yang tinggi. Dia tahu bagaimana caranya bergerak, berbicara, merokok, meringis atau bahkan sekadar menggaruk tanda gelisah.

Sore itu saya memintanya memberi tur keliling pada hari-hari terakhir pameran tunggal keduanya yang bertajuk 100% Made By Sinz & Mistakez. Monopoli didudukinya selama kurang lebih dua minggu. 22 karya dipajang di sana, dalam orak-arik warna cerita hidup sang seniman. Neo-ekspresionis. Seperti Affandi terjebak kemarahan narkotika suburban, lalu dia berhenti makan dan melukis mengurung diri. Bahwa tidak ada yang gelap, cuma terang dan menyakitkan. Alipjon mengerjakan kanvas-kanvasnya dengan gairah menghadapi nyatanya ketakutan.

“Kayak Tuhan,” katanya di hadapan Myself VS Myself. “Masih tanda tanya apakah Dia ada atau tidak. Tapi gue percaya Dia ada . . . karena gue butuh rasa takut, untuk ditembus. Itu fungsi Tuhan buat gue, sebagai pagar atau pembatas, untuk ditembus atau tidak ditembus.”

Kami sedang menatapi wajah hitam primitif berukuran 1,5 m x 1,5 m. Lukisan yang bermakna refleksi penjara bagi Alipjon, di mana seorang teman yang sedang menjadi tahanan mengiriminya sebuah surat dan kaos hasil sablonan sendiri berbunyi ‘Outrage’. Petikan moral paling penting dari lukisan itu terdapat pada tulisan besar ‘Produktiviti’ yang menyeberangi lebar kanvas, menandakan mimpi yang tidak akan pernah padam, meski tubuh terkurung atau tangan terikat atau terjegal langkah kaki – api pikiran akan tetap hidup selamanya.

Alipjon punya pengalamannya sendiri tentang bui. “Cuma tiga hari,” akunya. Akibat kedapatan memiliki sejumlah pil penenang. “Macam-macam,” katanya. Teman TO, kena gerebek, ditodong beceng, gelang borgol, tahan berak – tahan kencing, 16 derajat – masuk jeruji, habis seratus juta, pindah rehab. Sampai kini Alipjon tetap berpikir kalau penangkapannya tersebut tidak masuk akal. “Gue pemakai drugs, yang notabene merusak dirinya sendiri. Gue enggak merusak orang lain, enggak merusak negara. Kalau mau pake silakan, kalau enggak, ya sudah. Gue cuma pengguna, gue bukan kriminal. Kriminal itu kalau merusak orang lain.” cetusnya.

Rasa takut menjilat tengkuknya saat delapan agen narkotik meringkusnya di sebuah kamar kost tahun lalu. Darahnya menggelegak tapi (lagi-lagi) tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima penangkapannya. Belakangan dia membuat kesaksian atas kejadian tersebut lewat goresan Pistol Testify dan Hidup Baru. Dua karya yang – bersama seekor arwana merah jambu bernama Witness melengkapi episode ACAB-nya. Di balik terali  besi ketika itu dia mengingat banyak hal, tapi hanya satu soal yang sibuk dipertanyakannya kembali, yaitu keadilan. Kini dia menjawab. “Tidak ada lagi keadilan. Semuanya sudah kosong selama koruptor dan keluarganya masih pada bisa party. Mereka yang merusak negara. All you see is just snakes and fakes.”

Di dunia ketika semua orang dapat melakukan kesalahan, satu-satunya kejahatan yang paling kejam adalah ketika kita tertangkap – di masyarakat yang penuh maling ini, satu-satunya dosa yang paling besar adalah ketika kita melakukan kebodohan. Kalimat barusan dipinjam dari Pendeta Hunter sehingga satu-satunya pelajaran yang paling bisa didapat Alipjon dari kasus penangkapannya adalah cuma, “gue harus lebih pintar,” dia tertawa, “supaya enggak ketangkep lagi.”

Lahir di Jakarta pada 10 Desember 1992, Alipjon tidak menyelesaikan sekolahnya di Institut Kesenian Jakarta. Dia keluar dari sana tahun 2010 karena berseberangan pendapat dengan dosennya. Nalurinya terlalu bebas untuk terus tunduk pada ajaran teori. Talenta mentah Alipjon kemudian, tentu saja, berkembang vandal atau beberapa orang suka melegalkan istilahnya dengan nama grafiti jalanan. Tagging liar merupakan habitatnya dahulu,  jadi pantas bila warna-warna yang langganan dipakainya keluar tak beraturan; dominasi kuning terang, ungu tua, merah muda, hijau Stabilo, oren malas, bira-biru dan abu-abu funky persis rambut Dennis Rodman.

Sekali-kalinya dia bermain gelap adalah ketika menguaskan trilogi The Angel – In Between – The Demon. “Mungkin gue kayak Bob Marley. Lagu-lagunya bisa bikin orang senang padahal bercerita tentang kesengsaraan dan peperangan. Warna-warna gue menjelaskan semuanya. Keburukan enggak harus selalu berwarna hitam, kadang-kadang yang terang malah kelihatan lebih buruk,” ujar Alipjon.

Kurator 100% Made By Sinz & Mistakez, ilustrator sekaligus vokalis Seringai, Arian13 memberi impresinya dengan mengatakan karya-karya Alipjon kali ini berkesan intens dan keotik, “. . . Lukisannya juga marah, sebuah ekspresi yang kita semua bisa rasakan dan bersinggungan. Situasi politik Indonesia terkini memancing kegelisahan dan amarah Alipjon, menyampaikan sejumlah cerita mengenai bagaimana intoleransi, rasisme, fasis relijius dipotret di Indonesia.”

Karya tommy gun bertajuk Monopolitikz berukuran 3 m x 2 m mengatakan itu semua. “Sekarang agama dijadikan senjata, kita umat cuma jadi peluru. Kalau elo lihat, gue kasih 212 peluru di lukisan itu, dan gue gambar Monas juga, tempat pertemuan ‘mereka’, biar gamblang. Kalau agama cuma dijadikan ajang bunuh-bunuhan doang, buat apa? Respect to each others,” jelas Alipjon.


 

Sebagai meteor, Alipjon memaku obsesi dekonstruksi terhadap dirinya sendiri; demi membangun suatu hal, kita harus menghancurkan terlebih dahulu, baru setelahnya menciptakan keindahan dari kerusakannya. Sebuah hidup baru. Pelahiran revolusi. Dan Alipjon tidak bisa dihentikan. Unstoppable Rock N Roll merekam kekerasan hatinya untuk ngotot melukis meski tangan kanannya patah dalam satu trik skateboard yang gagal; dia mengerjakan gambarnya dengan kidal amatir.


 

Jika ingin membuat perubahan besar, sakit yang harus dilalui tidaklah sedikit, kata dia. Karya-karyanya yang diilhami dari masa lalu (segala dosa dan kesalahan) menjadi muara dari proses educate yourself yang difalsafahkan. Atau bahasa gampangnya, independensi diri. Belajar dan juga berkembang secara mandiri.

“Berkontribusilah. Jangan takut membuat kesalahan karena kebenaran pasti timbul dari kesalahan yang sudah pernah dilakukan. Kesalahan mengajari bagaimana caranya elo agar tidak jadi keledai. Gue enggak masalah berdiri di dunia yang salah, gue bisa jadi role model supaya orang tidak mencontoh gue sebagai orang yang salah. Bukan mencontoh gue sebagai orang baik agar tidak menjadi salah,” ujarnya.

Seni adalah pintu yang terbuka di antara realita dan fantasi – the shining grey between black and white, begitu Alipjon memandang dunianya dari dalam. “Ada refleksi di atas warna abu-abu, yaitu perak, sinar dari hitam dan putih,” katanya. Sebagai pemberontak, Alipjon pun memilih masa depan. Sistem tabur-tuai. Masa depannya adalah hari ini, puing yang terbentuk dari gerbong masa lalu yang bodoh dan tak bisa diputar balik. Tapi tidak masalah, Alipjon memanfaatkan. Acha Chaz, perempuan di balik Spaze 23 yang bertanggung jawab atas pelaksanaan 100% Made By Sinz & Mistakez menuliskannya dalam buklet pengantar, “Our legacy will always be unapologetic art.”

Tur kami selesai di depan kanvas Deadfish Demonstration di lantai dua. Terpajang juga di sana Spear Over The Mountain dan Thank You Skateboarding di antara pintu-pintu, pipa langit-langit, pojokan fire extinguisher dan karpet ala The Shining. Menjelang berakhirnya pagelaran, 100% Made By Sinz & Mistakez telah dipajang menyebar di hampir sebagian besar lantai Monopoli, 9 karya di koridor kamar dan 2 yang berukuran 2 meter di lobi bawah. Satu setengah jam lewat sudah: arbal habis dan lidah kami asam menuntut nikotin. Sebuah pertanyaan terakhir pun diajukan.

“Elo merasa sedang mengopi Basquiat, enggak?”

“Banyak orang bilang begitu, cuma gue enggak pernah masalah. Basquiat memang bagian dari hidup. Gue melihat Basquiat seperti gue melihat Picasso dan karya-karya era renaissance. Kalau gue dibilang mirip Basquiat, terus kenapa? Everything is remix.”

Dalam jiwa Alipjon, iblis dan malaikat berjalan bersama. Keduanya saling menggoda dan menerkam satu sama lain. Sang iblis datang menghancurkan, si malaikat hadir menyembuhkan. Suara bising di kepala Alipjon sulit ditenangkan. Maka alangkah lebih baik jika kritik dipersetankan. Kritik cuma debu jalanan, yang sering membuat kita kelilipan, tapi tidak akan pernah sampai menjadi buta.

 

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Mulai Baca: The Mash Up (Hip-Hop Photos Remixed by Iconic Graffiti Artists)

Coffee table book yang menarik buat mulai membaca lagi.

waft lab: Teliti lan Telaten

Parade Cahaya di Lokasantri.

Kulik | Goodrides

Buat yang mau tau lebih tentang dyno motor.

LANTUR | Adhi KZ

Toyota Corolla, Jujuk Margono, dan cerita ketangkep polisi.