fbpx

Japanese Breakfast tuh kayak gimana sih?

Cerita saya yang nonton Jbrekkie sebelum pernah dengar lagunya.

Saya enggak tahu dengan jelas seperti apa musik milik Japanese Breakfast, dan saya memang memutuskan untuk enggak mencari tahu sebelum datang ke konsernya yang digelar di Rossi Musik, Fatmawati pada hari Rabu, 15 Mei kemarin.

Pertunjukan terjadi berkat kerjasama tiga kolektif promotor muda yang gemar mengundang penampil internasional untuk manggung di Jakarta. Mereka adalah Studiorama, Noisewhore, dan Pesona Experience. Kepada mereka penggemar musik indie boleh tersenyum miris karena gaji bulanan terus habis untuk beli tiket konser.

Seperti pengalaman pergi ke konser biasanya, saya berangkat bersama teman-teman dan bertemu beberapa teman lagi di lokasi. Sedikit terlambat karena Jirapah yang ditunjuk sebagai aksi pembuka sudah mulai tampil.

Bergegas masuk ke hall Rossi Musik untuk nonton Jirapah yang memang sudah lama enggak saya lihat manggungnya. Lima langkah masuk ruang pertunjukan saya langsung merasa déjà vu, “Bosen juga ya nonton konser disini terus.” pikir saya. Beruntung, indie rock atmosferik Jirapah cepat menggeser pikiran tidak penting tersebut saat single teranyar mereka ‘Menjamur’ sedang dimainkan.

Dilanjutkan dengan memainkan tiga materi baru, Jirapah menampilkan perbedaan yang cukup signifikan dari karya-karya terdahulunya. Selain berbahasa Indonesia, roster terbaru Kolibri Records ini kini kental dengan unsur alternatif 90an.

Ken dan kawan-kawan turun panggung pukul 20.40. Rundown karet memang udah enggak zaman. Sebagian crowd keluar ruangan untuk merokok atau beli minuman di bar Haro (eks Mondo) di seberang ruang pertunjukan- yang malam itu terasa aneh karena tidak memutarkan musik.

Tepat pukul jam 9 malam JBrekkie muncul diatas panggung. Meski tidak tahu musiknya, tapi saya tahu kalau pesona Michelle Zauner adalah salah satu daya tarik dari proyek musik ini. “Wah, emang kece sih ya doi.” ungkap teman saya ketika lagu pertama dimainkan.

Setelah lagu awal selesai saya langsung menduga kalau ini bukan konser yang tepat bagi mereka yang belum pernah mendengar Japanese Breakfast. Materinya mungkin akan monoton, dan hanya bisa dinikmati mereka yang hafal lagu-lagunya.

Tidak ada yang salah dengan hal itu. Saya justru jadi mengerti kenapa banyak orang punya kecenderungan untuk secara instan menghafal lagu-lagu dari musisi yang akan menggelar konser di kotanya. Karena beberapa band akan terasa lebih nikmat disimak kalau bisa ikutan nyanyi di sepanjang pertunjukannya.

Seperti nomor ‘Boyish’ yang didapuk sebagai lagu kedua dan berhasil menyulap crowd jadi paduan suara. “Oh ini single nya nih ya? Enak juga” tanya saya kepada seorang teman. Hingga lagu ke-tiga dan ke-empat yang terdengar sama. Bosan, konsentrasi saya dibuat kabur oleh suhu ruangan yang panas dan mulut asam butuh nikotin.

Saya keluar ruangan dan bertemu teman-teman yang juga memilih untuk merokok. “Lo dengerin Japanese Breakfast enggak sih?” tanya saya ke seorang teman. “Lagu-lagu dulunya aja sih yang gue dengerin. Yang sekarang malah enggak.” balasnya.

Saya lalu berpikir dan menduga-duga berbagai alasan orang-orang untuk datang ke Rossi Musik malam itu. Ada yang memang penggemar Japanese Breakfast, ada yang hanya pernah dengar beberapa lagunya dan jadi penasaran untuk menontonnya, dan bahkan mungkin ada yang hanya ingin mengisi hari Rabunya dengan kegiatan seru. Apapun itu, tiket  pertunjukan ludes terjual.

Saya kembali masuk ruang pertunjukan ketika Zauner menceritakan pengalamannya makan nasi padang. Ini adalah kesekian kalinya saya mendengar musisi membicarakan pengalaman mencicipi kuliner Indonesia di tengah konsernya.

Sederet lagu kembali dimainkan. Cengkok suara Zauner yang mirip dengan Stevie Nicks (Fleetwood Mac) memang enak didengar, apa lagi berbalut aransemen sederhana nan manis yang membuat tubuh para penonton mengayun pelan.

Akhirnya ada satu lagu yang saya tahu, ‘Lovefool’ milik The Cardigans yang malam itu dibawakan Jbrekkie dengan apik meski tanpa pembaruan aransemen. Paduan suara penonton terjadi lagi.

“We have two more songs. We won’t do encore because there’s nothing from us to hide” ungkap Michelle Zauner pada penonton. “Ah bisa aja si mbak” saya ikut kesengsem. Selanjutnya adalah ‘Everybody Wants to Love You’, salah satu lagu yang sepertinya paling ditunggu-tunggu. Karena intronya saja sudah berhasil mengundang euphoria.

Pertunjukan berakhir. Saya bergegas turun mengantisipasi antrian panjang di tangga 4 lantai. Sembari memikirkan kesimpulan dari eksperimen kecil saya tentang menonton konser musisi yang saya tidak pernah lagunya.

Bahwa ternyata ini dapat menjadi proses pengenalan terbalik. Saya menontonnya dulu dan jika tertarik akan mulai mendengarkan musiknya sesegera mungkin. Namun di sisi lain kesimpulan yang juga muncul adalah pentingnya mencari tahu lebih dulu karya-karya sang musisi. Bukan hanya biar bisa menonton dengan nikmat, tapi juga karena saya seharusnya menuliskan pemaparan yang lebih komperhensif untuk dibagikan disini. Maafin yak.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

STRETCH – Underground Party Secara Literal di sebuah Galeri Seni Kota Bandung

Platform musik elektronik Offset TV, Roofless Club dan beberapa seniman yang ter...

Berasa Model Peringatan Kesehatan, Dadang Minta Royalti

“Saya yakin itu foto saya meski banyak yang meragukannya,” kata Dadang Mulya...

Hibriditas Musik Barakatak

Dari Electric ke Apple dan mereka kembali menari bersama di Yogyakarta, dalam ac...

Semalam Saja: Kultur Music Disco Di Kota Bertuah

Kolektif bernama "Semalam Saja" bawa musik disco masuk Pekanbaru