fbpx

Jonathan Pardede: Proses Demi Proses

Keseriusan dan pandangannya akan ketidaksempurnaan.

Jonathan Pardede atau yang lebih akrab dipanggil Jojo adalah produser dan musisi elektronik yang cukup dikenal lewat proyek Sunmantra. Ia juga akan bertindak sebagai salah satu kolaborator dari karya kontestan Tunes From Tomorrow yang terpilih.

Lebih dari sekedar hobi, Jojo menjalankan aktifitas bermusiknya dengan sangat serius. Berikut obrolan Frekuensi Antara dengan Jonathan Pardede.

 

Gimana sih sebenarnya awal mula ketertarikan lo sama musik elektronik?
Jadi gue pas SMA udah mulai kerja sebagai roadies. Buat beberapa band kayak Monkey to Millionaire, Bayu Risa, dan Santamonica. Dari situ gue mulai tertarik sama karya-karya nya Joseph Saryuf (Iyub). Apa lagi musiknya dia di proyek Santamonica, karena bisa dibilang musik elektronik yang pertama kali gue denger secara live ya Santamonica.

 

Lewat itu semua gue juga akhirnya bisa kenal sama Dipha. Gue liat bagaimana dia dan Iyub main, produce musik. Gue mulai bisa ngebaca karakter mereka masing-masing di musik elektronik.

 

Di masa itu lo sudah main musik?
Iya, pada saat itu gue udah main gitar. Tapi semakin sering main sama mereka gue makin ngulik synthesizer juga. Karena gue lihat yang menarik dari synth adalah gue bisa bikin suara apa pun yang gue mau.

 

Gimana ceritanya sampai akhirnya memilih musik sebagai full time job?
Dari masa gue jadi roadies gue mulai lihat gimana sebenarnya dunia musik. Gue lihat apa yang sebenarnya orang-orang di sekitar gue lakukan. Ada yang jadi player untuk musisi-musisi, ada yang jadi produser. Dan itu bikin gue mikir kalau orang sebenarnya bisa survive di musik. Intinya cuma satu, harus bikin sesuatu yang unik.

 

Soal kesejahteraan hidup gimana? Jadi pertimbangan lo juga untuk milih terjun penuh waktu sebagai musisi?

Itu sih nggak ya. Yang gue liat di sini nomor satu adalah passion nya. Dari situ juga gue akhirnya memutuskan untuk ambil kuliah Audio Engineering, di mana gue makin nge-shape lagi skill dan pandangan gue soal musik. Sampai akhirnya ada kesempatan buat lanjut kerja di luar, di Sigma Sound Studio, Philadelphia.

 

Ngerjain apa tuh di sana? Dan berapa lama di Philadelphia?

Gue di sana selama dua tahun, jadi Recording Engineering. Kerjaan gue kurang lebih memonitor musisi-musisi yang lagi rekaman di sana.


Sampai di situ perjalanan lo di musik kayaknya terdengar mulus ya. Tapi ada nggak sih momen yang bikin lo ragu sama apa yang lo kerjain?

Gue sih selalu percaya buat ngelakuin apa yang gue mau. Coba deh lo bayangin, di dunia ini kan ada miliaran orang dan semuanya punya keunikan sendiri. Pasti semua orang punya sesuatu untuk di offer ke dunia ini. Dan apa yang gue lakukan lewat musik gue atau pun dengan Sunmantra adalah suatu yang gue anggap sebagai kontribusi untuk dunia ini.

 

Secara keseluruhan proses yang lo lewatin ini susah nggak sih mnurut lo?

Semua pekerjaan pasti ada susah nya. Tapi selama ngerjain nya dengan seneng, pasti ilang rasa susah nya. Karena lo akan nikmatin semua proses nya.

 

Lo banyak terlibat dalam berbagai kolaborasi. Menurut lo seberapa penting sih kolaborasi dalam musik?

Penting, karena itu membuat gue dewasa. Ketika lo ketemu musisi lain lo belajar tentang apa yang mereka punya dan apa yang lo nggak punya, begitupun sebaliknya. Kolaborasi itu kayak studi banding. Lo harus ngegabungin nyawa lo dan nyawa mereka.

 

Apa kah lo punya pakem tentang proses kolaborasi yang paling ideal? Misalnya dalam penulisan lagu.

Gue lebih open sih. Gue lebih suka kalau kita bisa dengerin bareng-bareng materinya dan selanjutnya gue olah. Oh iya, gue juga ga suka kalau harus menghilangkan karakter dari si kolaborator tersebut.

 

Kayak kemaren pas collab sama The Hydrant. Kalau bisa karakter nya jadi satu, bukan malah yang kedengeran Sunmantra nya aja atau The Hydrant nya aja. Gue biarin ada gitar nya, harmonika nya. Karena itu emang nyawa nya mereka. Nah apa yang mereka nggak punya baru deh kita bantu untuk bikin lebih wow.


Seberapa yakin sih lo sama industri musik elektronik Indonesia?

Gue sih lihat musik kita lagi hot banget ya. Kita bisa lihat Gabber Modus Operandi yang baru pulang dari CTM Festival dan rame banget dibahas di Boiler Room. Dari dulu juga kita punya Senyawa yang udah mendunia. Mungkin kita nggak sadar kalau Senyawa itu juga elektronik, karena mereka ciptain alat musiknya sendiri.

 

Tapi kedepan nya juga masih banyak banget sih. Yang muda-muda dan baru rilis, kayak Omar misalnya yang baru 21 tahun. Gue juga lagi perhatiin tuh si Dylan, Logic Lost. Dan pastinya Archie, materinya bagus-bagus banget tuh.

 

Ada tolak ukur tertentu nggak untuk ngebuktiin kalau musik elektronik Indonesia udah maju? Baik yang sudah tercapai ataupun belum.

Tolak ukur gue adalah semua orang bisa milih venue masing-masing. Jadi let’s say anak Disco bisa punya club Disco, anak Trance punya club Trance, begitupun anak Techno. Dengan gitu mungkin gue lihat Indonesia sudah maju, karena hal itu ngebuktiin kalau setiap sub-genre udah banyak yang ikutin.

 

Venue jadi hal yang penting buat gue, karena venue bisa nge-shape orang-orang dan culture-nya juga. Tinggal selanjutnya kita panasin aja para DJ atau produser-produser didalemnya buat terus bikin materi sendiri.

 


Menurut lo ada nggak karya yang perfect? Gimana cara lo mendefinisikannya?

Nggak ada sih menurut gue (tertawa). Gue ngomongin dari sisi musisi dan engineer kali ya, di mana musisi pasti ada aja sesuatu yang pengen dia tweak, atau terus tambah-tambahin. Tapi dari sisi engineer mereka pasti nggak pernah puas mixing nya. Jadi pasti ada aja yang berpikir kalau karya itu nggak sempurna.

 

Tapi menurut gue justru karya yang nggak sempurna itu justru bisa nonjolin karakter sound dari si musisinya. Contoh tempo nya yang mungkin kurang sync, atau suara synth yang cut off nya kelebihan. Hal itu justru bikin sound kedengeran makin orisinil.

 

Berarti menurut lo imperfection itu ada ada penting nya juga dong ya?

Yoi, imperfection itu bisa nge-shape sound lo sendiri. Mungkin karena hal itu malah lo akhirnya nemuin genre baru gara-gara sound nya nggak pernah ditemuin di tempat lain.

 

Gue suka kagum sama beberapa bedroom producer, mereka punya ruangan yang nggak di treatment dengan baik, akhirnya suaranya berantakan tapi justru menghasilkan suara baru. Kita yang ngerjain di studio proper malah bisa kaget dan bilang “wah suara apaan nih?” gitu.

 

Jadi intinya imperfection juga bisa ngebantu seseorang untuk nge-shape musiknya.


Minta saran dong buat mereka yang baru mau pelajarin musik elektronik!

Yang pertama harus diinget adalah lo itu siapa, sebelum lo ngeluarin karya. Karena hal itu yang bisa bikin lo berbeda. Dengan gitu lo sadar gimana seharusnya arah lagu lo, sound lo, dan sebagainya.

 

Masih banyak orang yang bikin musik karena mau nyontoh orang lain. Sedangkan kalau lo tau lo itu siapa, lo bisa tau sound yang lo perlu seperti apa.

 

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Proses Soundscaping T-27 Thrive Motorcycles

Sebuah cerita pertemuan dua craftsman yang memutuskan untuk memajukan karya mere...

Bertahan di Tengah Arus Gaya Hidup Makanan Bersama Bakudapan

“Mungkin aku sudah harus memulai untuk mengurangi nasi yang banyak sekali meng...

Cerita Dibalik Sistem Profit Sharing di Jakarta

Sekarang, dari segi klab sampai ke kafe dan restoran, budaya profit sharing seri...

4 Tontonan untuk Mengalihkan Kita dari Narasi Teror dan Radikalisme Berita Nasional

Daripada mengikuti berita mengenai terrorisme yang tak kunjung henti cuman men...