fbpx

Kelompok Penerbang Roket di Galaksi Palapa

Mendengar dan memahami rilisan terbaru Kelpmpok Penerbang Roket

Kantor berita kami kedatangan kirimian paket. Bentuknya seperti kemasan tembakau sintetis yang belakangan efek bahayanya kerap diperingatkan oleh media massa. Di sampulnya tertulis “GALAKSI PALAPA” (For promotional use only). Oh, ternyata ini memang barang yang kami tunggu-tunggu, berita rilis mini album terbaru dari Kelompok Penerbang Roket.

Ini harus spesial. Galaksi Palapa harus mampu membayar tanggung jawab atas keseriusan aktifitas pra peluncurannya. Bukan hanya itu, sejauh ini Galaksi Palapa menjadi satu-satunya judul album yang relevan dengan nama Kelompok Penerbang Roket. Sepatutnya menjadi masterpiece.

Sudah sejak tahun lalu Galaksi Palapa digadang-gadang sebagai “concept album”. Sebuah narasi tentang tiga antariksawan yang pergi ke galaksi palapa untuk menemukan tempat hidup yang lebih layak dari bumi.

Dengan memahami cerita tersebut copy cakram padat pun kami putar. Track pembukanya adalah “Ekspedisi 69”, space rock instrumental dengan babak-babak progresi seksi. Mendengarkannya sambil membolak-balik buku sketsa ilustrasi Galaksi Palapa yang dikaryakan oleh Gunkbudi, seniman asal Banjarmasin, memantapkan status sang intro sebagai anthem lepas landas. Di penghujung lagu terdapat permainan drum bergaya hard rock ala “Teriakan Bocah,” disusul suara sequence sebagai upaya medley menuju lagu ke-dua, “Dusta.”

Vocal muncul cepat di lagu ini. Mengulang-ngulang pertanyaan retoris “mengapa selalu ada dusta?” Entah dusta apa yang ditemukan ke-tiga astronot sesampainya di angkasa luar. Atau bisa jadi ini tentang dusta-dusta yang ditinggalkan dari tempat asal mereka? Vocal hanya muncul tidak sampai menit ke-dua usai.

Selanjutnya adalah kolaborasi ketiganya yang kembali ber-space rock ria, menginvasi angkasa luar dengan repertoar padang gurun. Dari komposisinya, ketiga astronot seakan masih melaju ketempat yang lebih tinggi. Hingga pada akhirnya semua harus melambat –lebih berhati-hati. Seperti segera memasuki lapisan atmosfer planet lain yang pastinya memicu turbulensi. Apa mereka akan segera mendarat? Dimana?

Di satu ruang yang mereka temukan dapat menjadi solusi untuk kemaslahatan dunia, yakni Galaksi Palapa. Bukankah itu kabar gembira? Tersebutlah track urutan ke-tiga itu dengan judul “Berita Angkasa” sama dengan nama label rekaman yang menaungi Kelompok Penerbang Roket.

Single Berita Angkasa sebenarnya sudah dirilis tahun lalu, berikut video clipnya. Jika pada versi terdahulunya hanya berdurasi sekitar tiga menit, kini di Galaksi Palapa nomor tersebut enam setengah menit panjangnya.

Yang ditambahkan adalah petualangan instrumental psikadelia sarat distorsi. Menggebu-gebu lalu menipis-nipis. Menyisakan detak-detak konstan- untuk  sekali lagi, jadi langkah estafet menuju track selanjutnya, “Alfa Omega”.

Ini adalah track paling berbeda dari sejarah penulisan lagu Kelompok Penerbang Roket. Hanya berlatar repetisi piano elektronik, bunyi-bunyi moog, dan slide gitar ala Gilmour. Pada bagian akhirnya ada 14 detik suara kerumunan orang bernyanyi-nyanyi yang lalu hilang. Seperti mendengar suara riuh supporter yang menyanyikan “You’ll Never Walk Alone”, anthem milik klub sepakbola Liverpool di penghujung lagu “Fearless” dari Pink Floyd. Dengan lirik yang terdengar spiritual, Alfa Omega menawan telinga pada titik ketinggian yang ekstrem.

Akhirnya, timbul lah suara yang paling membumi, ketukan drum motorik pada intro lagu terakhir yang bertajuk “Ironi.” Track yang sangat kental dengan nuansa kraut ini merupakan nomor dengan durasi terpanjang, yakni lebih dari tujuh menit. Dengan lirik yang layaknya orasi dan drum roll ala serdadu perang di penghujung lagu, KPR tetap menutup Galaksi Palapa dengan konteks perlawanan. Hal ini mengundang rasa nostalgia pada gaya rilisan-rilisan awal mereka.

Selesai sudah lima lagu diputar. Galaksi Palapa sungguh adalah petualangan yang dahsyat, wahana yang menegangkan. Coki (vokal/bas), Rey Marshal (gitar) dan Viki (drum), sekali lagi telah sukses menghasilkan rilisan yang berkualitas tinggi.


 

Mini album ini sudah tersebar dalam format CD serta Piringan hitam. Dan belum direncanakan untuk dirilis dalam format digital

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Band-Band Ini Saya kenal Lewat MySpace

Lokal, independen, berjaya di era MySpace.

Menanggapi Nominasi Grammy 2020

Masih diisi nama itu-itu saja, Tyler layak menang.

Suka dengan Parasite? Coba tonton film-film ini!

Bersiaplah untuk drama psikologis dengan thrill yang sama, a...