fbpx

Kidclique: Tentang Reklamasi

Serta adat lokal, suara rakyat, dan sedikit sekali hip-hop.

Sore itu Bali sedang seperti biasanya, matahari terik, langit biru dan dihiasi awan putih yang indah. Namun angin sepoi-sepoi terasa lebih sejuk akibat iklim musim dingin  Australia. Waktu menunjukkan sekitar pukul 5 sore ketika datang seorang pemuda dengan motor dan mengenakan pakaian adat Bali santai; kaos bertuliskan Tegal Darmasaba, bawahan kain bercorak khas Bali, dan udeng di kepalanya.

Jauh dari ekspektasi saya ketika akan mewawancarai  seorang rapper yang biasanya berbusana ala Hip Hop. Ia adalah I Gede Windu Sanjaya yang mengaku baru saja pulang dari aksi Tolak Reklamasi di Gedung DPRD Denpasar.  Windu a.k.a Kidclique lahir di Denpasar 22 tahun yang lalu, ia kini sudah beranak satu. Sebagai tolak punggung keluarga Windu punya usaha sebagai supplier arak yang sudah berjalan tiga tahun, tetapi di sisi lain Windu selain menjalani hidupnya sebagai seorang bapak ia juga memilih Hip Hop sebagai gaya hidupnya.

Windu mulai mengenal hip hop sejak tahun 2010-2011-an karena pergaulan. Ia sering bertemu teman-teman yang membuatnya melihat hip hop sebagai sesuatu yang berbeda. Dari situ ia membentuk Madness On Tha Block (MOTB) yang beranggotakan 5 MC dan 1 DJ. Frekuensi Antara ngobrol panjang dengan Windu sampai matahari terbenam.

 

Apa sih yang kamu angkat dari isu-isu yang terjadi?

Lagu yang kami angkat nggak jauh dari soal lingkungan dan sosial identitas. Hip hop kalo dari akarnya itu kan sombong, kayak “my dick is bigger than yours” gitu lah. Tapi kalo di Denpasar lagu yang kita angkat kebanyakan isu lingkungan yang saat ini lagi panas. Karena kan kita mau ngeluarin lagu tuh yang mudah pesan-pesan nya.

 

Seperti apa? Lingkungan?

Kayak reklamasi, penolakan PLTU di Singaraja, kebanyakan sih nyinggung kayak gitu.

 

Sejauh ini responnya gimana?

Kalo sebagian orang awam sih karena dengerinnya cukup cepat kayak gitu ya mungkin ada yang nggak langsung kena, nggak langsung nyampe. Mungkin dia hanya ngikutin musiknya aja, jadinya esensi makna-makna itu belum sampe. Tapi ketika terus dilihat baru memberikan kesan-kesan tertentu.

 

Boleh freestyle satu bait kata tentang reklamasi

“Ranah fiksi akumulasi kondisi…

Paku baja konstruksi…

kubangun megah pulau ilusi.”

 

Bait-bait itu merapal sesuatu kayak “Buat apa sih dibangun beton di tengah lautan  Teluk Benoa? Hanya kamuflase soal revitalisasi. Sebenarnya reklamasi terus buat apa sih? rakyat dikibuli buat hal-hal yang tabu seperti itu.”

Nggak usah lagi main belakang dengan masyarakat! Kayaknya rakyat juga udah liat dengan mata telanjang kalo ini semua kebohongan.

 

Dengan gantinya Gubernur yang sekarang sudah sempat bersurat. Tapi ngga bisa dengan bersurat reklamasi itu di batalin. Kita harus mendesak Gubernur itu, karena Perpres 51 thn 2014 yang dikeluarkan SBY pada akhir  masa jabatannya terus mengubah kawasan Teluk Benoa menjadi kawasan konservasi lagi, dimana sebenarnya wilayah itu tidak boleh dibangun lagi karena ada banyak pura.

 

Sekarang kamu lihat keadaannya gimana?

Pemerintah masih kayak nggak mau disalahkan dan selalu mengelak. Perjuangan rakyat ini nggak mudah, bertahan sampai hampir 6 tahun sampai sekarang ini.

 

Selama 6 tahun perjuangannya sudah sampai mana?

Kalau sampai mana ini sudah banyak progress yang di lakukan FORBALI (Forum Rakyat Bali Menolak Reklamasi). Sudah sampai mendesak siapapun yang berada di lingkungan, yang kiranya bisa modalkan semua itu sudah didesak. Menteri Susi bersurat ke presiden lah, sudah banyak cara yang di lakukan. Ini di posisi sekarang ini ngga bisa tinggal nunggu saja terus mendesak-mendesak, karena perlawanan itu akan terus berkobar ketika Pemerintah semakin diam kayak gitu.

 

Kalo lagu kamu yg dirilis ada yg spesifk tentang ini ?

Ironi

 

Ok kembali lagi, jadi sebenarnya apa yang dilakukan oleh Menteri Susi?

Kayak megelak sih. Banyak interviewnya di Yotube, fakta-faktanya udah di bongkar di sana. Kamuflasenya banyak sekali, waktu didesak berkelit-kelit

 

Dampaknya selain aktivitas beragama?

Banyak sekali sih. Takutnya nanti abrasi, kemacetan. Kuta Selatan, Jimbaran, dan Nusa Dua sudah padet banget tuh. Kuta macet banget sekarang di antara itu mau bangun pelabuhan lagi, bangun reklamasi lagi untuk pariwisata. Menurut saya kurang cocok, kurang merata. Di Bali Utara sebenarnya masih banyak lahan seperti di Gilimanuk.

 

Kalo Bali sendiri dari 10 tahun lalu dan sekarang gimana?

Wooo jangankan 10 tahun lalu. 3 tahun ke belakang ini serba pesat, semua-semua makin dipermudah, apa-apa dipermudah. Pembangunan pesat banget. Kita bukan anti modernisasi, cuman kita agak perlu rasa untuk meredam nafsu ketamakan.

 

Kalo kamu liatnya basis-basisnya gimana ekosistemnya?

Semua berjalan dengan aman karena semua berjalan dengan satu komando yang menyiapkan panji-panji.

 

Kalo dari DPRD kamu liatnya gimana?

Kurang sih, nggak bisa jadi jembatan antara rakyat dengan pemerintah. Buktinya saat ini yang regulasi terbaru bisa dibilang angkat tangan, padahal ini aspirasi masyarakat, seharusnya dia menjembatani aspirasi-aspirasi bukan malah didesak. FORBALI itu ke Gubernur dan mencari ketua DPRD untuk klarifikasi tapi sama sekali ngga pernah ditemuin selama 6 tahun.

 

Sampai sekarang pintunya nggak pernah dibuka?

Pintunya sering kebuka, kita udah sampai mendesak ke kantornya. Tapi pas masuk malah terjadi kriminalisasi, dibilang kita nurunin bendera merah putih, kemudian menaikan bendera ForBALI di DPRD.

 

Kamu sebagai seorang MC dan sebagai orang Bali apakah pernah ada halangan dari keluarga atau istri?

Awalnya ada tapi nggak apa-apa..

Kita kan mengadopsi dari New York, kita mengondisikan di sini, banyak terjadi hal-hal lucu, waktu itu kita pernah main di depan kantor Gubernur di atas genset, perform untuk kasih semangat para pendukung. Kita ngerap di atas mobil komando.

 

Selama kamu berkecimpung di hip-hop yang paling berbekas pentas di acara apa?

Saya pernah bareng MOTB di acara ‘Bergerak Bersama’, itu acara  berkelanjutan di tahun 2017.  Kita main semua sama anak punk  HC, krusty, dan di set terakhir semua teman-teman ngumpul rame dan support. Genre itu bukan alasan kita membelah diri, saya Hip hop, kamu punk, jadi satu semua.

Tadi kamu bilang kalau reklamasi dampaknya bukan ke lingkungan saja, bagaimana dengan adat?

Kalo udah adat yang bilang nolak apapun nggak bisa jalan. Banyak dari kasus-kasuk kayak ormas, kalo udah berurusan dengan adat itu nggak akan bisa menang. Walaupun sudah sebanyak apapun punya pasukan kalo udah lawan adat nggak bisa.

Jadi si reklamasi ini banyak hal yang berlawanan, bukan ekosistem saja, banyak yang mengancam kebudayaan. Orang-orang menari disana banyak yang harus membayar,  disana disediakan pertujukan-pertunjukan, jadi ini semata hanya soal uang saja. Mau membuka lapangan kerja? Kita yang punya tanah kita yang jadi budak disana ,masuk kan? Rakyat bali diming-imingi bekerja disana.

Mau nggak mau kalau bukan sekarang kita bertahan meredam kerakusan dan nafsu semata, masa depan Bali itu sudah semakin terancam. Apa pun itu sebenarnya harus bisa dikendalikan. Bukan kita yang harus memuaskan hasrat pariwisata lalu kemudian Bali bisa dikenal. Kalau budaya dan pariwisata itu kita jejal abis-abisan nanti generasi selanjutnya dapat apa? Ampas-ampasnya aja? Makanya gerakan rakyat ini bisa bertahan sampai bertahun-tahun dan itu karena dilandasi dengan hati nurani dengan progress yang benar-benar konstan.

 

Yang paling konyol apa sih dari semua ini?

Tempat-tempat hiburan itu sudah di-setting sedemikian rupa. Di Kuta sekarang udah nggak cocok untuk skena apapun, sekarang semua pindah ke Canggu dan Kerobokan dan aku jarang masuk lingkungan itu.

Dulu masih banyak hamparan sawah seperti ini, sekarang udah whooo restoran semua. Aduh kayaknya orang itu mikir punya nafsu eksploitasi yang berlebihan menurutku personal. Lucu, kenapa kita harus ikut-ikutan? di sana rame langsung semua ke sana. Terlalu mudah diseragamkan. Dan sekarang pendatang pun banyaaaaak banget.

Buat yang dari luar Bali, kalau ke sini jangan cuman di daerah pariwisatanya! banyak kok ada tempat-tempat budaya yang bisa kamu nikmatin seperti kecak, atau ke air terjun liat pemandangan. Bukan semata-mata hotel, itu udah basi banget.

 

Menurut kamu budaya udah mulai punah?

Punah sih nggak, tapi minat cari penari aja susah sekarang. Cewe-cewe muda sekarang lebih mengacu ke modernsasi, lebih ke trend. Minat kebudayaannya agak kurang. Misalnya kita punya anak cewe coba ajarin les nari, mungkin kalau dia happy akan diterusin sampe besar.

 

Kalau bisa sampaikan pesan kepada pendatang kira-kira apa?

Ikut juga menjaga Bali supaya keberlangsungan Bali bisa berjalan terus. Lalu tata krama dan sopan santun, sebisa mungkin tidak buang sampah sembarangan karena apa yang pernah kita lakukan kita akan merasakannya kembali karena hukum karma  kental banget. Apa pun yang kita tanam itu yang kita tuai.

 

Modernisasi yang buruk itu seperti apa?

Ketika modernisasi itu tidak transparan, tidak memberikan dampak kejelasan pada banyak orang.

Ketika sudah jelas modernisasi itu untuk apa, seperti untuk akses atau apa pun lah yang memudahkan kita, itu kan jelas tujuannnya. Tapi ketika tidak jelas apa kita harus menerima modernisasi itu? bukti modernisasi itu menyanggupi  seperti  reklamasi Teluk Benoa, kenapa saya bilang itu tidak transparan? masyrakat tidak diberikan informasi publik kayak gini-gini, siapa di balik itu , studi kelayakannya udah jelas apa belum?

Semakin lucu aja kayaknya politisi dan investor seperti main kucing-kucingan sama rakyat padahal dia tuh berhadapan sama rakyat.

 

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Angsa Hitam yang Menggabungkan Musik dan Custom Automotive

Melihat penetrasi elemen musik kolaborasi Thrive dan Kimo Rizky di website custo...

Pendekatan Intim Kolektif di Banjar Campout 2018

Perhelatan kedua dari Banjar Campout kali ini berlangsung di sebuah Area Perkema...

KOLEKSI: Lagu Indonesia Langka dalam Koleksi Merdi Diskoria, Indo Cosmic hingga Guruh Anti Narkoba.

Untuk seorang kolektor vinyl seperti Merdi Simanjuntak, berbagai ragam bentuk pe...

Katalis Kota: Sepenggal Sejarah Budaya Dance Music di Jakarta

Musik itu angin, partynya fokus, DJ itu udah kayak foto model dan mungkin Jakart...