fbpx

Loci Memoriae: Catatan Ingatan Kurniadi Widodo Bersama LIR

Memori atau kenangan seringkali menjadi mesin waktu bagi sebagian orang untuk kembali ke masa lampau.

Memori atau kenangan seringkali menjadi mesin waktu bagi sebagian orang untuk kembali ke masa lampau. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak sekali produk-produk budaya seperti musik, film, makanan yang tercipta dari penjelajahan ke masa lampau. Ada banyak alasan untuk membawanya kembali ke masa saat ini, namun tidak sedikit juga yang meyakini bahwa memori itu bersifat linear dengan masa sekarang. Banyak juga yang mengkaji tentang bagaimana memori ini bekerja, mulai dari mempelajari polanya hingga mempelajari metode yang paling tepat, seperti apa yang dihasilkan oleh memori. Salah satunya adalah metode yang disebut Loci.

Loci diambil dari Bahasa Latin, yang berarti tempat atau lokasi. Metode ini digunakan untuk meningkatkan jumlah ingatan melalui upaya visualisasi dan pengaktifan kinerja spasial memori. Menurut upaya pencarian makna, memori spasial bertugas untuk merekam situasi atau lokasi tertentu yang pernah kita alami. Jadi, bisa disebut menelusuri memori melalui perasaan dan situasi yang terekam dalam ingatan kita; setelah itu akan muncul beberapa visual yang menggambarkan memori tersebut.

Dalam pameran fotografi Kurniadi Widodo yang diadakan di Kedai Kebun Forum dan dikuratori oleh LIR, Wid (panggilan akrab Kurniadi) bersama LIR mencoba untuk mengumpulkan kepingan-kepingan yang tidak utuh dari ingatan Wid di masa lalu. Untuk memberi gambaran, ruang pamer dicat hitam sekaligus menutupi sumber cahaya seperti pintu dengan kain hitam. Lalu, di dalamnya ada tiga karya foto hitam putih dengan pigura kayu natural berukuran cukup besar–saya tidak bisa memberi ukuran pasti tapi sepertinya berkisar antara 100×60 cm. Di tengah ruangan ada satu meja dengan penutup kaca yang biasa kita temukan dalam museum berisi beberapa album foto. Fungsi meja ini memang untuk melindungi arsip-arsip atau benda berharga dari sentuhan tangan pengunjung sekaligus menjaga kelembapannya. Jadi, bisa dibayangkan betapa berharganya foto-foto di bawah kaca tersebut. Selain itu ada empat panel lightbox yang berisikan foto-foto double exposure dominasi potongan-potongan surat kabar. Dan, karya paling ujung, di dekat teks pengantar, adalah slide show dari beberapa kumpulan foto Wid. Semua dihadirkan dalam hitam putih. Hanya bagian arsip foto saja yang berwarna, karena Wid tidak mengubahnya.

Menurut perbincangan dalam artist talk, Wid menyatakan bahwa ia memotret semua foto dalam pameran ini tanpa memiliki rencana untuk memamerkan. Bahkan, inisiatif berpameran pun muncul bukan dari Wid, melainkan dari LIR sebagai kurator. Namun menurut pandangan saya, Wid telah berhasil menunjukkan bahwa aktivitas memotret dilakukan atas dasar kesadarannya mendokumentasikan, menciptakan arsip, dan membantu memori spasialnya mendapatkan gambaran tentang masa yang akan datang nanti. Mungkin, memang tidak semua aktivitas memotret sebagai fotografer harus dihadirkan ke ruang publik dalam bentuk pameran.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Sarana Wakili Samarinda di Nusasonic: Crossing Aural Geographies

Sarana, unit dark ambient experimental asal Samarinda, Kalim...

Eksplor Instagram: Moses Sihombing

Akun-akun instagram fotografer favoritnya.

Ekspresi Warga Indie Mixtape Vol.1 dari Prontaxan

Sederet lagu indie lokal versi funky kota siap menggoyangmu ...

Filmtypes: Database Film 35mm

Bikin eksplorasi jadi makin seru.