fbpx

Maharani Mancanagara Bicara Soal Seni, Isolasi, Trump, dan Xi JInping

Pandemi dari sudut pandang seorang seniman

Pandemi Covid-19 tentunya berdampak bagi semua orang, apapun profesinya. Tidak terkecuali seniman atau perupa yang  meski dikenal sering mengisolasi diri di rumah atau studio tetap merasakan akibatnya.

Salah satunya dalah Maharani Mancangara, seorang seniman mixed media domisili Bandung yang banyak bermain dengan medium drawing, print dan found object. Ia lewat surel saya sapa dan ajak ngobrol soal perubahan-perubahan yang terjadi selama masa pandemi.

Pembicaraan menjadi semakin menarik karena pengetahuannya yang luas dan pemaparannya yang lugas. Nggak heran kalau Maharani lewat karyanya baru-baru ini menyuarakan soal pendidikan Indonesia lewat artefak-artefak peninggalan kakeknya. Ia juga banyak bereksploriasi dengan sejarah Indonesia dari zaman kuno sampai sekarang.


 

Udah berapa lama enggak keluar rumah?

Sejak himbauan untuk kerja di rumah sih, udah 7 hari yang bener- bener enggak keluar rumah. Selebihnya masih ada keperluan yang emang mengharuskan keluar rumah sebentar.

Dengan self isolation ini bagaimana lo berkarya?

Karena rumah dan studio masih satu atap, produksi karya sih masih bisa jalan, dengan ningkatin standar kebersihan. Tapi lumayan mixed feeling juga sama situasi saat ini, kadang bisa lebih khusyuk, kadang malah jadi mempertanyakan lagi apa yang sedang gue kerjain.

Mungkin nggak kejadian ini berbuah inspirasi untuk lo berkarya?

Mungkin banget sih

Bagaimana lo mengeskpresikan perasaan lo dengan pandemi ini? Paranoid kah? Santai aja?

Kekhawatiran sih ada, terutama orang tua sendiri ya, dan orang- orang lain yang menolak realita kalo pandemi ini ternyata semudah itu penyebarannya. Tapi sikap paranoid juga bukan solusi. Dengan banyaknya berita- berita yang beredar tentang jumlah kasus positif, apa itu virus Covid19, gimana penanggulangan, tips menjaga kesehatan, metode meningkatkan kebersihan, dari yang beneran realistis sampai yang hoax juga ada, tentunya apa yang gue baca atau gue tonton juga enggak akan ada dampaknya kalo ga gue lakukan. Jadi, apa yang sebisa mungkin dan serealistis mungkin sama hidup gue, gue coba terapin untuk diri gue sendiri, dan sekitar gue yang beririsan langsung.

Menurut lo dimana peran seniman dalam memperbaiki suasana selama covid?

Peran seniman sebetulnya bisa macam- macam, ga jauh beda dari peran teman- teman lainnya sih. Tapi yang paling terlihat dengan membantu menyuarakan tentang pandemi ini (ajakan, kritik, berita aktual, solusi) melalui visual- visual dengan gaya masing- masing seniman, kata- kata yang ngena ataupun aksi nyata pemetaan situasi terkini di area- area tertentu seperti yang sedang dilakukan Irwan Ahmett dan Tita Salina.


 

Pemerintah tidak bisa gerak sendiri, ini masalah bersama. Apa yang kurang dari tindakan pemerintah pusat yang sebenarnya bisa saja dilakukan?

Kurangnya koordinasi pemerintah untuk antisipasi pandemi. Masalah di Indonesia kayaknya memang segitu banyaknya yang belum diselesaikan, hingga persoalan menghadapi pandemi ini rasanya belum terkoordinir dengan baik dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah hingga ke warganya masing- masing, meski sudah ada Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) yang mungkin sebelumnya lebih fokus untuk berstrategi menghadapi jenis bencana yang lain.

Hal ini juga mempengaruhi ke permasalahan pengambilan keputusan dan transparansi informasi dari pusat ke pemerintah daerah yang berdampak ke kemaslahatan warganya. Tidak bisa dipungkiri juga akhirnya timbul ide- ide pemerintah daerah yang beragam sebagai bentuk antisipasi, dari yang teoritis hingga realistis, timbulnya ketidakpercayaan terhadap pemerintah, juga kritk dan petisi yang tidak bisa dihindari sehingga membuat munculnya gerakan- gerakan kemanusiaan secara independen yang ramai di media sosial.

Menurut lo gimana  kalau misalnya pandemi ini kejadian di masa kejayaan Orde Baru?

Mungkin kita gak akan ‘sebebas’ saat ini ya untuk bisa (tetap) mobilisasi di kala himbauan di rumah aja udah digaungkan di berbagai daerah, atau kita juga enggak akan bisa bebas baca berita yang semelimpah ini dari berbagai macam media informasi. Mungkin juga kita enggak akan bener- bener tau seperti apa pandemi yang kita hadapi saat ini.

Apakah ini artinya akan lebih baik atau buruk dari sekarang?

Ketika gue udah ngalamin ‘kebebasan informasi’ di era sekarang ini, rasanya akan lebih buruk jika pandemi ini terjadi di era Orde Baru

Pemerintah Cina bisa dibilang hampir berhasil memberantas wabah ini di negaranya sendiri, menurut lo apakah sistem komunis masih efektif?

Sistem pemerintahan di Cina era Xi Jinping menurut gue yang melihat dari jauh ini, terasa sekali sedari sebelum ada pandemi ini beredar dengan memperkuat sentralisasi kekuasaan. Dampak yang yang paling terlihat di Cina daratan (Mainland) yakni dalam ketegasan pemerintah menangani krisis kesehatan terbaru. Meskipun memang diawali dengan penolakan pemerintah Cina terhadap peringatan dini dari dr Li Wenliang akan deteksi awal pandemi ini, (mungkin) bisa terbayar dengan cepatnya penanganan hingga saat ini mulai menunjukkan titik cerah. Kesigapan tersebut pun tidak serta merta muncul secara instan,

Pemerintahan Cina era Mao Zedong telah melalui wabah Hepatitis B, HIV-AIDS, pneumonia SARS, flu burung dan lain sebagainya yang membuat sistem penanganan pandemi baru ini diatasi dengan lebih sistematis. Dari pengalaman itu rasanya dapat membuat keputusan- keputusan yang dicetuskan pemerintah Cina mendapat dukungan dari mayoritas warganya untuk melaksanakan tindakan- tindakan penanggulangan yang cepat.

Presiden Donald Trump menyebut Covid-19 ini “virus China” apakah sentimen bersifat rasis ini menyebarkan kesalahan? Apakah kata-kata yang dilontarkan seorang pemimpin dunia masih se-powerful itu?

Potensi penyebaran kesalahan tentang informasi yang sifatnya medis malah menimbulkan rasis sih iya ya, apalagi dengan permasalahan bilateral antara Amerika Serikat dan Cina juga masih berlanjut, tapi mungkin dampak langsungnya lebih banyak terlihat di Amerika Serikat, karena memang setiap negara saat ini sedang fokus sama negaranya masing- masing. Buat gue pemirsa jarak jauh sih ya melihat sepak terjang celotehan Donald Trump sedari masa kampanye dulu, bisa disaring sendiri kali ya, mana yang memang harus dianggap serius, mana yang bisa dianggap guyonan hehehe

Dikarenakan isolasi ini, media dan internet punya peran penting. Menurut lo bagaimana peran media lokal mewartakan pandemi ini? 

Media memang berperan penting banget ya di saat ini dengan karakter pemberitaan mereka masing- masing. Ada yang judul dan isinya selaras dengan pemberitaan optimis, ada yang nyomot dari media lain, ada juga yang heboh di judul tapi isinya kurang informatif, ada yang melalui broadcast group kantor atau keluarga. Ada juga yang terlalu mengekspos hal yang sebetulnya tidak perlu, seperti informasi ditel mengenai pasien 01 dan 02 beberapa pekan lalu. Ujungnya ya balik lagi sih ke pemirsa dengan filternya masing- masing, mau menyerap media yang seperti apa, mau bersikap gimana, dan mau merespon apa terhadap pemberitaan yang beredar. Sebagai salah satu pemirsa, sebelum mengedarkan berita ke orang lain, menurut gue penting banget untuk aware sama sumber berita, tanggal terbitan berita tersebut, hingga pengambilan kesimpulan, bukan hanya dari pembacaan satu sumber berita saja supaya terhindar dari hoax.

Apakah praktek social distancing di Bandung berjalan dengan tepat, bagaimana lo liat pemerintah lokal menghadapi masalah ini?

Himbauan untuk pembatasan kegiatan diluar rumah sudah mulai diumumkan oleh walikota sejak 14 Maret lalu. Social distancing di Bandung disekitar gue mulai berjalan perlahan namun belum sepenuhnya dipahami dan diterapkan warganya, kegiatan-kegiatan publik memang sudah ditiadakan, akademi pendidikan sudah mulai melakukan pembelajaran jarak jauh, kantor- kantor juga mulai bekerja dirumah (meski ada yang tetap beroperasional di kantor), jumlah kendaraan pribadi juga sudah mulai berkurang. Fasilitas publik seperti kendaraan umum masih beroperasional, beberapa supermarket mulai menerapkan protokol kebersihan dengan memberikan masker dan sarung tangan karet untuk para kasir, beberapa pasar tradisional masih beroperasional setelah dilakukan penyemprotan disinfektan dari pemerintah. Panic buying juga masih ada, namun kebijakan- kebijakan pengelola toko dengan pembatasan jumlah pembelian masih dirasa efisien. Beberapa masjid masih melakukan kegiatan shalat Jum’at (dengan pengurangan durasi khotbah) meski sudah dihimbau oleh walikota Pak Oded untuk ditiadakan. Jadi begitulah adanya untuk keadaan social distancing disekitar gue…..

Untuk kedepannya apa yang lo liat dengan outbreak ini?  

Outbreak ini menurut gue bagian dari siklus kehidupan untuk menyeimbangkan keadaan alam dengan manusia.

Sedikit banyak tentunya pola hidup masyarakat akan berubah, jadi lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri dan juga peduli membantu sesama. Namun tidak bisa dipungkiri, ekonomi masyarakat juga mayoritas mengalami penurunan. Pemerintah harus melaksanakan bukti nyata atas kebijakan untuk bisa menjamin kebutuhan dasar warganya hingga pandemi ini bisa teratasi.

Apakah ini nantinya jadi sebuah normal yang baru?

Pasti sih, dari protokol peningkatan kebersihan dan kesehatan, setidaknya 20% dari kebiasaan baru yang diterapkan jadi nempel di masyarakat yang bertahan. Untuk ranah kerjaan juga jadi terbiasa untuk menggunakan fasilitas berbasis teknologi. Untuk pemerintah juga (seharusnya) jadi sigap untuk menanggulangi bencana.

 


 

Boleh ceritakan tentang karya lo yang berjudul “Wanasuteji”?

Itu part dari pameran tunggal di Bandung 2018 kemarin. Gagasannya itu gue bikin sebuah cerita fiktif berjudul Hikayat Wanatentrem dengan pendekatan fabel untuk menceritakan tentang pengasingan tahanan politik di Pulau Buru. Wanatentrem itu sebuah pulau yang gue buat dari padanan “wana” Itu hutan, “tentrem” Itu tentram. Wanasuteji itu berarti stage yang tentram. Stage disini bermakna panggung, yaaa panggungnya cerita masa lalu itu.

Prosesnya gimana waktu ngerjain ini bagaimana dapat informasi dari kakek lo?

Awalnya trigger dari buku harian kakek. Trus jadinya melakukan perjalanan ke Surabaya, tempat kakek pertama kali ditangkap. Dan wawancara ke beberapa ex-tapol disana. Sampai saat ini proyek tersebut masih berlanjut sih hehe.

Jadi hampir semua berhubungan dengan itu ya?
For now, yes

Buku harian kakek lo dapat dari siapa?
Dari pakde hehe, awalnya pengen mengenal beliau yang belum pernah gue temui. Trus cuma dikasih buku harian itu berkerdus- kerdus

Wow, totalnya kira-kira ada berapa banyak dan berapa lama di Pulau Buru? 

Masih banyak sih yg bisa dibahas untuk mengingatkan lagi bahwa persoalan ini ada dan belum ada penyelesaiannya.

Dari penangkapan sampai kembali (tentunya gak langsung ke Pulau Buru ya), hampir 10 tahun.

Kalo lihat karya-karya lo di dominasi dengan warna-warna kayu, charcoal dan bahan-bahan alami,ini prosesnya gimana?

Kayu-kayu dan found object yang gue pakai itu mostly kayu bekas yang gue treatment jadi sesuatu yang baru. Warna kuning dari kayu cukup penting dalam membawa kita untuk throwback ke masa lalu.

 


Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.