fbpx

Mengatasi Depresi Cara Gianluigi Buffon

Enggak semua orang menjadikan tantangan sebagai motivasi. Tapi juga, enggak semua orang bisa jadi Buffon.

Masih banyak kesalahpahaman terhadap kesehatan mental di Indonesia. Walaupun isu kesehatan mental sudah mulai mendapatkan sorotan, hidup sebagai pengidap gangguan mental masih repot. Karena untuk sekitar 15,6 juta orang depresi di Indonesia pengobatan atau terapi tidak mudah. Diselingi banyaknya kasus diagnosa asal-asalan, glorifikasi gangguan mental, dan tentunya praktek pengobatan sendiri, penderita gangguan mental masih harus keluar uang banyak atau paling enggak lewat jalur BPJS yang agak ngantri untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat. Kalau itu bukan solusinya, mungkin jawabannya ada di Gianluigi Buffon.

Kiper nomor satu di dunia ini—ya, ini sebuah fakta mutlak, bercerita di video interview yang dirilis oleh The Players Tribune tentang perjalanannya menghadapi depresi. Dalam ceritanya, saat umur 25-26 tahun ia mulai merasakan gangguan fisik yang pada awalnya dikira letih saja. Namun hasil cek medis berkata sebaliknya, dokter pengurus Juventus mendiagnosa Buffon dengan tanda-tanda depresi. Saat ditawari anti-depresan Buffon menolak.

Dalam interview tersebut, ia menyatakan bahwa ia kehilangan tujuan dalam tim utama Juventus saat itu. Di kisaran umur segitu, Bufffon mengangkat piala scudetto di tahun 2002 dan mungkin kemenangan memang bukan segalanya. Karena dalam ceritanya gangguan mental menghalangi kegiatan harinya, dalam kehidupan pribadi dan sepak bola.

Kami merangkum dan mencoba untuk menginterpretasi cara Buffon mengatasi depresi. Cara-cara ini memang bukan untuk semua orang, karena semua penderita gangguan mental memiliki latar belakang pribadi yang berbeda-beda. Dan jelas aja, enggak semua orang bisa seperti Buffon.



Hidup Sederhana.

Sebuah kunjungan ke pameran Marc Chagall di sebuah museum di Turin yang menjadi titik pencerahan awal untuk Buffon. Tepatnya, sebuah lukisan berjudul “The Promenade” oleh Chagall memantik inspirasinya. Dari ratusan lukisan yang dipajang, lukisan yang untuknya terlihat sederhana membuatnya bahagia.

Rutinitas hariannya membuatnya bosan. Menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk latihan dan pulang. Mungkin sederhana disini bukan hemat atau efisien waktu, tapi menikmati hal-hal kecil yang mungkin terlewat kalau kita berjalan secara autopilot. Kembali lagi, kita bukan Buffon dan kita enggak tinggal di Turin. Hal-hal kecil disana mungkin lebih menarik. Tapi enggak ada salahnya untuk memperhatikan momen-momen yang sepintas berlalu dalam hidup, diserap dan dipahami.

Komunikasi, jangan dipendam.

Gangguan ini langsung ia ceritakan kepada dokter tim utama Juventus. Memang, enggak semua orang punya dokter yang dibayar untuk menjaga kesehatan harian. Tapi bibit yang harus diperhatikan adalah Buffon bercerita dan berkonsultasi, tepatnya kepada dokter spesialis sains olahraga, dan akhirnya dirujuk ke pengobatan psikiatri. Disini kuncinya adalah dokter, kesehatan mental bukanlah sesuatu yang aman untuk diduga-duga. Dengan diagnosa asal-asalan, bisa berlanjut ke pengobatan sendiri yang asal asalan. Jadilah seperti Buffon, tolak anti-depresan sebelum memahami betul kebutuhan dan akibatnya.

Ceritalah kepada orang-orang terdekat. Karena dalam posisi orang yang mengalami gangguan kesehatan mental, bahkan Buffon cerita ke anggota keluarga dan teman-teman untuk meringankan beban. Mungkin dari pendapat orang lain kita dapat sebuah perspektif baru untuk menghadapi masalah-masalah kecil yang mungkin terlihat besar karena gangguan depresi.

Gunakan kreatifitas, stimulasi otak, dan memposisikan diri.

Kreatifitas mungkin enggak selalu bersifat artisik. Jelas, ini seorang kiper tim bola yang membahas. Tapi Buffon membicarakan kreatifitas sebagai satu elemen penting yang membuat manusia hidup. Membedakan kita dari binatang dengan memecahkan masalah sulit dengan gabungan akal dan intuisi.

Buffon mencoba untuk mengenalkan stimulan baru dalam rutinitas harian. Ada benarnya, keluar dari zona nyaman dan menghadapi situasi baru memberikan tantangan kognitif yang mungkin menjadi acuan untuk pemecahan masalah. Enggak semua orang menjadikan tantangan sebagai motivasi, tapi pergerakan itu penting dalam fase depresi. Karena kalau diem-diem aja enggak menyelesaikan masalah.

Sebenarnya, enggak bisa dilupakan bahwa banyak faktor eksternal yang menjadi elemen pemicu depresi. Namun dalam kasus Buffon, setelah lama menjalani hidup dengan perspektif yang nihilis, perubahan terbesar terjadi saat ia mencoba untuk memposisikan diri dengan pandangan yang baru. Memilih untuk menghadap gangguan mental ini sebagai sebuah tantangan dan mencoba untuk bergerak dalam pengambilan keputusan sehari-hari dengan posisi yang memahami diri sendiri. Enggak menjadikan gangguan mental sebagai hambatan.

Tapi kembali lagi, enggak semua orang bisa jadi Buffon. Jadi kalau tips ini kurang cocok, mungkin kamu bukan fanatik bola.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.