fbpx

Mencoba Pijat Ajaib di Ubud

Menerawang rasa sakit.

Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 9 malam di Ubud, udara di hari Minggu malam kali itu lumayan sejuk. Kami menggunakan teknologi GPS untuk menuju lokasi sang healer yang melegenda- tapi sebelum menuju kesana kami sempat kesulitan mencari canang, sesajen yang banyak ditemukan di jalan-jalan, mobil, toko-toko di sekitar Bali. Karena sebagai timbal balik untuk jasa healer diwajibkan memberi canang. Setelah beberapa warung yang dihampiri akhirnya ketemu satu warung yang masih buka berjualan benda-benda untuk upacara dan keseharian warga sekitar.

 

 

Rumah sang healer terletak di jalan sempit yang tidak jauh dari jalan raya. Bentuk rumahnya seperti rumah-rumah tradisional Bali kebanyakan, dengan pintu masuk seperti pura. Di sebelah kanan pintu ada ruangan terbuka dengan lampu neon yang sangat terang, terpampang juga foto dewa-dewa yang dibingkai dengan rapih, dibawahnya healer dengan nama Ratu Aji duduk bersila tersenyum menerima tamu sambil ngobrol dengan kerabatnya yang juga bersila di samping kanannya.

Dengan mengenakan kain, atasan putih dan udeng, memakai arloji bling-bling berwarna emas, cincin batu akik yang sangat besar, masing-masing satu menghiasi tangan kiri dan kananya. Ia menunggu giliran sembari melihat pasien sebelumnya yang terlihat kesakitan sedangkan Pak Ratu sambil main HP di tangan kirinya menonton video propaganda anti hoax tentang salah satu Capres. Menunggu giliran dengan perasaan yang resah, gugup sekaligus nahan buang air besar sembari akhirnya waktunya saya disembuhkan, mari kita lihat apa yang terjadi!

 

 

Dimulai dengan menyelonjorkan kaki di depan Pak Ratu yang langsung menerawang area seputar jari dan mulai menyentuh dari jari kaki kelingking paling kiri. Tanpa ditanya keluhannya apa, saya lebih memilih diam saja menunggu apa yang akan dikatakan. Setelah ia pegang jari telunjuk mulailah terasa sakit, Pak Ratu tanya, “Ini lambungnya ya? Suka pusing ya?” Tidak lama Pak Ratu juga mengatakan kalau empedu saya juga lemah. “Kamu suka minum-minum ya? Biasanya gimana? sampai oleng? jalannya seperti ini?” katanya sambil meniru pose orang mabuk.

Masih memijat dari kiri ke kanan, semakin sakit rasanya, terkucur keringat menahan kesakitan. Pak Ratu malah menceritakan cerita masa mudanya yang pernah mabuk sampai tidak sadar kecebur sawah sambil tertawa-tawa, sedangkan rasa sakitnya makin brutal.

Akhirnya setelah sekitar 5 menit selesai ia memberitakan pantangannya; untuk dikurangi minum alkoholnya, bahkan enggak usah sama sekali. Untuk proses penyembuhan dianjurkan datang lagi dan biasanya kedua kalinya tidak sesakit yang pertama. Pak Ratu Aji hanya melayani tamu di akhir pekan karena sehari-harinya bekerja sebagai PNS.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Katalis Kota: Party Sejak Dini di Bali

Kalo kalian kira musik di Bali cuman balearic ala beach club...

Penampil favorit kami selama satu dekade DWP

Semoga mereka main lagi di DWP tahun depan.

Enggohoi: Musik Eksperimental dan Obat Daftar G

Ngobrol dengan figur kuat musik eksperimental Denpasar.

KAMMA dan Masalo, duo DJ Belanda Di Barisan Depan Gelombang Baru Musik Elektronik Amsterdam

Wajib kalian Tonton Jika Sedang Berada Di Bali Akhir Pekan I...