fbpx

Pangalo!: Etnis dengan Propaganda Diksi Sinis

Panglo! jadi aset hip hop dengan pengalaman segunung yang bisa membuka mindset orang bahwa hip hop bukan sekadarnya.

Salah satu fresh maneuver kancah hip hop nusantara, Panglo!, rapper asal Samosir dengan racikan filsafat, budaya Batak, dan lirik kritis, memunculkan karakter anarkis.

Folk jadi genre awal Panglo! saat memulai karier bermusik pada 2011. Berbagai karya dihasilkan dengan menciptakan lagu yang membawa namanya trending di kawula pemusik lokal. Enam tahun bermain folk, DNA musik yang mengalir dalam dirinya membawa Panglo! hijrah ke hip hop. Masih memperkuat karakter dengan basic filsafat dan etnik, Panglo! memperkenalkan hip hop versinya dengan lirik yang lebih mengarah kepada realitas kehidupan, kritik sosial, kritik individu. Pun budaya Batak begitu menyengat, mulai dari mulai dari musik yang mengadopsi unsur suara gondang, sarune, dan hasapi, sampai pemilihan nama panggung—Panglo diambil dari Bahasa Batak yang berarti pemberontak. Sangat jelas bahwa melalui musik, Panglo! ingin meluapkan pandangannya terhadap budaya sosial zaman kini dengan lirik kritis dan kesan panggung anarki.

“Menghidupi Hidup” dan “Pemenang” merupakan sample karya Panglo! yang membuktikan keseriusannya dalam berkarya. Terlebih setelah peluncuran album HURJE! Maka Merapallah Zarathustra, bisa dikatakan Panglo! jadi aset hip hop dengan pengalaman segunung yang bisa membuka mindset orang bahwa hip hop bukan sekadarnya.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Mengurai Kritik Musik Hiphop dalam Flip Da Skripz

Flip Da Skripz seperti menjadi “kitab” bagi penggemar hi...

Lightshow di Duklu Coffee Medan

Bangunan kafe ini memantulkan aneka warna di malam hari.

Niki Milala: Motion Graphic Formula Sendiri

Profesionalitas Niki berhasil memunculkan karakter khusus se...

Pilihan Tembang Protes Paling Melantai

Kurang seru demo tanpa lagu