fbpx

Perlawanan Dalam Cahaya

Rangkuman sederhana skena bawah tanah Denpasar dan sekitarnya (‘97-‘00) yang hampir hilang.

Topik ditemukannya telepon selular Siemens tua seorang teman membanting arah obrolan awam saya bersama Jonas Sestakresna menjadi romansa yang terlalu menarik. Adalah tugas akhir program studi Anthropologi untuk Universitas Udayana pada 2000 bertajuk Perlawanan Dalam Cahaya.

“Skripsi ini terinspirasi dari buku Dick Hebdige, Hiding In The Light. Plesetan dari judul bukunya saya beri judul Perlawanan Dalam Cahaya. Saya tidak tertarik dengan skripsi dengan lampiran foto.” cerita Jonas.

“Makanya saya bikin dokumenter. Padahal, saya ndak punya pendidikan tentang perfilman. Saya cuma suka sekali dengan kamera. Banyak dari mereka juga belum awam dan sangat tertarik dengan kamera (Handycam Hi8). Sering saya kasih mereka dan banyak gambar yang diambil oleh mereka,” kekeh Jonas dengan nafas kretek yang kental.

“Aku pikir filmnya jelek, makanya aku ndak mikir panjang.”

“Lah, master-nya cuma di VHS dan entah kenapa saya berikan ke teman punk saya dari Seattle, Amerika. Digitalisasi waktu itu banyak keterbatasannya karena memang menggunakan komputer teman. Wah, pokoknya saya lupa”

“Sampai mungkin sekitar 2015-an, sang teman mengunggahnya ke Facebook sebagai bahan becandaan—pernah muda, pernah underground, dan sebagainya. Tapi, saya lupa lagi, sampe dua hari lalu. Kamu tahu… Itu, loh, fitur postingan masa lalu Facebook yang bikin saya inget dan pengen cerita ke kamu hahaha…”

Banyak yang menarik dari obrolan ini—tentang legenda Total Uyut, salah satu katalis awal wacana bawah tanah Denpasar dengan asupan metal, black metal, grindcore, punk, crusty untuk tersiar yang memicu Jonas membuat skripsi subkultur ini. Kemudian berlanjut ke bahasan Lira Buana, bangunan monumental yang selanjutnya di mana rutinitas lebih sering terjadi, dan beberapa tempat pergerakan di Indonesia lainnya: G.O.R, Gedung Olah Raga, bangunan serba guna warisan Orba (yang harusnya mendapat kredit kalau kita berbicara tentang skena kota hahaha)

Ada topik tentang selalu adanya judi, Lawar Babi, juga penjagaan Polisi Militer, sampai ketegangan-ketegangan kecil—kalau band yang minta bayaran itu selanjutnya biasanya dimisuhi atau dimusuhi.

Namun yang paling menarik untuk saya adalah obrolan tentang atribut; betapa sulitnya mencari piranti dan pernak-pernik pendefinis subkultur ini, sampai membuat beberapa benda, seperti jaket, boots, dan helm milik personal yang menjadi kultus.

Terlalu keren untuk saat itu, terlalu limited, atau terlalu sulit mencari padanananya sehingga terjadi gerakan estafet pinjam-meminjam di antara “siapa yang manggung dia yang pinjam/pake”.

“Jadi, misalnya, band A manggung, pinjam jaket dari personil band C yang manggung dua band berikutnya. Nah, band B nanti meminjam boots dari band D yang masih nanti manggungnya, atau bisa chaos saja: ganti band, pinjam jaket, boots, atau apa saja. Jadi, meski band berganti, atribut-atribut kultus itu tetap berada di panggung. Hahahah…” kelakar Jonas.

Dengan semua kamatirannya, Perlawanan Dalama Cahaya tentu bukan dokumenter ‘proper’ dari mata perfilman. Juga bukan acuan lengkap yang mencakup gerakan subkultur muda di Bali, atau Denpasar khususnya, pada masa itu—apalagi sebagai klaim opini. Karena secara hakiki, Perlawanan Dalam Cahaya hanyalah sebuah tugas akhir antropologi personal yang mencoba merekam semampunya.

“Saya juga baru ngeh, kalau ini bukan masalah penting enggak penting. Tapi, cuma masalah ada di situ dan mencatat apa yang real,” tutup Jonas

Untuk semua kenikmatan selebrasi karya di skena, adakalanya juga kita butuh saksi dan catatan untuk penerusnya.

Terima kasih dan apresiasi tertinggi untuk pribadi hebat yang bertahun terlibat: Lolet & Made Indra, Dumogi Amor Ring Acintya.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Dea Barandana: Idealisme Dan Ketenangan

"Gue cuma bikin apa yang gue suka aja."

Kidclique: Tentang Reklamasi

Serta adat lokal, suara rakyat, dan sedikit sekali hip-hop.

In Bed With: Young Marco

Hubungan Young Marco dengan Indonesia.