fbpx

Predator Seksual Kembali Seliweran Dalam Skena Musik.

Dominasi pria dalam skena bukan menjadi alasan.

Kabar buruk seperti belum enggan pergi minggu ini. Setelah kabar tentang virus Covid-19 yang bikin heboh dalam dua minggu terakhir, dengan segala pengaruh nya terhadap aktifitas kehidupan kita.  Kabar buruk tambahan datang ke kancah independen berkesenian, mungkin berita ini luput dari mata kita karena tenggelam oleh berita-berita mengenai pandemik.

Lagi dan lagi, kasus pelecehan seksual terhadap perempuan terjadi kembali. Sesuatu yang tidak dapat ditolerir sekalipun berkesenian memegang pakem kebebasan. Kali ini bukan sekedar “cat-calling” yang sering terjadi di gigs kecil maupun festival, ini lebih seratus kali lipat lebih parah daripada pelecehan verbal. Bahkan narapidana dalam lapas tidak bisa menolerir perlakuan ini: pemerkosaan.



Kejadian ini terjadi di tiga kota sekaligus Tangerang,  Malang, dan Bandung. Tambah menyedihkan lagi pelaku bukanlah penonton tetapi sang idola, seseorang yang seharusnya memberikan contoh baik kepada pengagum-pengagum nya. Kasus di Tangerang dilakukan oleh musisi expermental/noise dengan nama Samparrr atau juga dikenal dengan Bijan Faisal. Parahnya pelaku melakukan pemerkosan terhadap 8 perempuan bahkan disebut pelaku sampai lupa ketika ditanya jumlah dan nama korban yang menandakan adanya korban-korban lain. Kemudian kasus di Malang dilakukan oleh vokalis dari salah satu band asal kota pariwisata timur Jawa tersebut yaitu Dio Verryaji Primananda biasa dipanggil Tambun. Kasus ketiga terjadi di Bandung dan dilakukan oleh Zulfikar Azahari Mahmud yang aktif sebagai vokalis dari band MH, memainkan dalil “mental illness” untuk melancarkan aksinya.



Sangat disayangkan kasus pemerkosan harus terjadi di kancah berkesenian kita yang seharusnya menjamin kenyamanan dalam berekspresi. Memang prilaku seseorang tidak dapat diafiliasikan dengan kegiatan berkelompok tapi imbasnya terhadap kelompok jelas adanya. Meskipun langkah-langkah dari kelompok yang terhubung dengan pelaku sudah dilakukan, seperti label dan kolektif yang menaungi Samparrr memutus hubungan kerja ataupun kelompok berkesenian kota Malang meminta Tambun untuk angkat kaki dari segala aktifitas berkesenia di kota tersebut. Tetapi hal ini tidak lantas menjadikan predator seksual dalam skena hilang.

Tidak bisa dipungkiri memang kancah berkesenian kita masih di dominasi oleh kaum adam, bahkan hal ini menjadi lelucon diantara kita dengan sebutan “sosis party”. Tapi tidak lantas menjadi tempat tidak nyaman bagi teman-teman perempuan dan menjadikan itu sebuah alasan untuk melakukan perbuatan menyimpang. Mari kita bersama menjaga skena berkesenian kita bangun dan cintai dari intaian predator seksual. Ingat! hal ini juga wajib dilakukan diluar kegiatan berkelompok dan harus ditanamkan dalam aktifitas sehari-hari.

PS: Jika kalian mengetahui predator seksual disekitar kita masukan mereka kedalam daftar nama ini.


Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.