fbpx

Raum: Tentang Memori Kolektif

Cerita dari Timur Jawa

Beberapa hari belakangan hampir seluruh kota di timur Jawa disinggahi hujan, Surabaya yang bernasib sial terkutuk kemarau panjang harus rela dibuat muram. Bergeser ke selatan, kota kecil teduh bernama Malang juga diguyur hujan dan menetap cukup lama. Tulisan ini bukan perihal laporan cuaca akhir-akhir ini di Jawa Timur, tetapi akan menggambarkan bagaimana dua kota yang berdekatan sepakat untuk meletupkan sebuah rave. Rave yang pantas diingat untuk sepuluh dua puluh atau mungkin tiga puluh tahun kedepan.

Raum diinisiasi secara spontan namun dikerjakan secara serius. Dimulai dari sekumpulan muda mudi dengan preferensi budaya dan substansi yang sama. Sering terlibat dalam obrolan-obrolan konseptual hingga akhirnya berhadapan dengan fakta daripada sekedar menjadi bualan lebih baik dikenang.

Raum secara linguistik bermakna ruang, nama ini diperoleh dari kosakata bahasa Jerman. Di balik nama sederhana itu terpercik semangat dari beberapa orang yang mulai jenuh dengan kondisi pesta di Surabaya dan Malang. Susahnya berkompromi dengan manajemen club yang memposisikan organizer dan kolektif sebagai sapi perah atau kebosanan berpesta di dalam club, sisi kolam renang, atau di atas bangunan pencakar langit menjadi alasan utama. Bergerak dari kondisi tersebut, Raum memposisikan diri sebagai antitesa dari stagnasi itu. Membuat rave secara otonom tanpa melibatkan mereka yang birokratis dan yang terpenting melangkah jauh dari gaduhnya perkotaan dengan demikian tempat yang tepat adalah alam.

Rave adalah perihal perayaan hidup, sebuah prinsip yang dipegang teguh oleh Raum. Untuk apa membuat rave jika berada di dalamnya justru menjadi sebuah beban? sehingga tidak ada lagi yang bisa dirayakan. Selama dua hari berada di tengah pegunungan menghirup udara segar menjauhi perkotaan yang kian tercemar oleh ambisi dan ego warganya. Menginjak tanah kering ataupun lumpur basah, berdansa bermandikan terik matahari dan derasnya hujan. Melupakan kondisi badan, membaringkan diri selama dua hari berkemah seadanya, bertegur sapa dengan kawan dekat atau mereka yang baru dan larut dalam obrolan hingga akhirnya berbagi ruang untuk berdansa lepas. oh…. tentu tidak lupa dengan “sharing is caring”.

Terlihat utopis memang, tapi inilah impresi yang tumbuh ketika berada di tengah Raum. Sebuah rave bukan hanya berbicara musik dan pesta namun terdapat sikap dan semangat untuk melampaui perihal individualistis.

Rave ini berkelidan dengan masalah pendanaan maupun teknis. Kendala di sisi pendanaan menarik untuk dibahas, mulai dari susahnya menutup ongkos produksi tanpa bantuan sponsor. Sehingga mengandalkan penjualan tiket adalah solusi wahid untuk menutup kebutuhan produksi (terimakasih untuk 130 orang yang menyisihkan uangnya untuk membeli tiket), menyewakan lapak kepada kawan untuk berdagang (hormat untuk roemah kantja), hingga berkongsi dengan merk dagang sandang asal Surabaya, Fundamental Fantasy sebagai salah satu upaya menambal utang kepada penyedia sound, genset, ataupun tenda. Seperti yang dijelaskan diawal paragraf permasalahan teknis turut mewarnai penyelenggaraan Raum, sound yang macet saat rave berlangsung, genset yang datang terlambat, tenda yang kurang, jika permasalahan ini harus diuraikan secara lengkap maka penulis khawatir satu paragraf tidak akan cukup.

Hari itu suara yang terdengar di Bedengan tidak hanya dengung serangga, nyanyian para katak, lirih angin, rintik hujan, gemercik aliran sungai. namun ada manipulasi bebunyian dari cdj dan sound yang terus bergemuruh selama 14 jam tanpa henti. Seluruh penampil berhasil merekonstruksi suasana melalui dentum khas mereka, secara tidak sadar merepresentasikan darimana mereka berasal. Ada momen yang cukup menarik yang membuktikan bahwa rave ini memang bersifat komunal, ketika mas Ones membantu membuat kabel roll dan larut dalam becandaan khas Jawa Timur seakan semua punya beban yang sama agar rave ini berjalan lancar.

Banyak kisah terekam pada gelaran Raum, Jika kalian berpesta di Raum maka kalian akan sangat setuju jika mereka yang datang adalah mereka yang saling bertanggung jawab mulai dari penampil hingga pengunjung. Banyak yang terkapar karena terlalu banyak minum atau menelan substansi lain namun merekelah orang-orang yang sadar bahwa bersikap baik kepada alam adalah keharusan. Sampah di depan tenda dibawa pulang masing-masing seiring dengan pengalaman menyenangkan selama dua hari, tidak ada barang yang hilang, tidak ada yang mengeluh sendalnya terbenam lumpur atau pakainnya kotor, semua ingin berdansa dengan nyaman sehingga tidak ada waktu untuk ribut dengan hal remeh atau sekedar mengeluh.

Raum merupakan sebuah pengalaman kolektif mereka yang ada didalamnya, ada kawan yang ditinggal oleh rombongannya karena terlalu asik terlelap, ada kawan yang teler hingga acara usai dan berakhir menjadi konten, ada kawan yang rela tidur di depan pos untuk sekedar memastikan tenda aman, ada kawan yang terus bergoyang sementara yang lain mulai letih, ada pembuktian ambisi beberapa orang, ada keyakinan bahwa dengan segala keterbatasan yang namanya hasrat harus dituntaskan, dan tentu ada kenangan yang layak untuk diceritakan beberapa tahun kemudian. Jika Raum adalah sebuah pertaruhan di kolong langit maka hasilnya adalah menang.

 

ditulis untuk semua yang berhasil mewujudkan Raum, semua yang hadir, semua yang berbagi energi, dan jika esok tidak ada lagi Raum setidaknya mereka yang ada disana dulu bisa berceloteh “kami pernah ada disana”.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Pendekatan Intim Kolektif di Banjar Campout 2018

Perhelatan kedua dari Banjar Campout kali ini berlangsung di sebuah Area Perkema...

Detroit Pistons, Techno, dan Trump Menurut Joe Casey dari Protomartyr

Diskusi Bebas Problema Kota Detroit, Techno, Punk Dan Sedikit Trump Bersama fron...

Kalau Kalian Belum Ke Pameran PARIPURNA di RUCI Art Space Mending Sekarang

DIVISI 62 berkolaborasi bersama RUCI Art Space dalam mempersembahkan sejumlah ka...

Seni Berhala Seni, Menghitung Nilai Investasi di Art Jakarta 2018

Seorang pria berjaket kuning mencairkan suasana serius dengan lawan bicaranya s...