fbpx

Sejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era Digital

Melihat kembali sejarah masuknya majalah subkultur anak muda di Indonesia dari 1960an sampai 2010an dari rock ‘n’ roll dilarang oleh pemerintah, budaya gondrong, rocker, ‘free spirit’, disco, breakdance, rollerskate, heavy metal, hardcore, punk, indie, britpop, grunge, surf and skate, club culture, rave culture, street culture dan dunia gemerlap semua di catat dalam majalah. Berikut kira-kira majalah yang berpengaruh menurut kami.

  1. Sejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era DigitalSejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era Digital
  2. AKTUIL

    Jauh sebelum nama-namabesar rocker seperti Rollies, Ucok AKA, Sharkmove, Duo Kribo, Fariz RM, Panbers, God Bless, Guruh Gypsy dicari banget piringan hitamnya atau re-pressnya. Pada tahun 1967 terbit Aktuil yang didirikan Denny Sabri. Bisa dibilang Aktuil pada masa itu majalah musik yang paling berpengaruh dari covernya yang manis, bonus poster yang menghiasi kamar remaja Indonesia di masa itu.

    Sejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era Digital

    Walaupun pada tahun 1963 di Yogyakarta ada Diskorina, tetapi kurang ngangkat seperti Aktuil. Kontribusinya terbesar mengundang Deep Purple ke Jakarta pada tahun 1975 di Stadion Utama Senayan (sekarang Gelora Bung Karno).Menurut ayah saya, pelanggan Aktuil sempat menyaksikan konsernya, pada waktu itu dibuka dengan lagu ‘Bagimu Negeri’ yang dimainkan oleh John Lord (keyboardist), pada saat itu belum pernah ada konser band rock sebesar Deep Purple. Lucunya setelah konser itu jumlah eksemplar yang sebelumnya masih di angka 30.000 sampai akhirnya turun menjadi 3000 kopi saja di tahun 1978 lalu diambil alih Editor. Aktuil yang menjadi kitab musik untuk anak muda di zaman 1970-an akhirnya wafat.

    “Sebagai majalah yang mengandalkan pemberitaan musik, majalah itu harus meyakinkan pembacanya bahwa musik yang diliputnya adalah penting. Maka, untuk membuatnya penting, musik harus ditaruh di tempat terhormat. Harus punya kesan serba besar, serba hebat dan serba spektakuler. Aktuil telah berhasil menyulap dirinya jadi panggung gemerlap. Berita yang ditulisnya tidak selalu harus dipercaya, yang jelas ceritanya harus memukau.” [KOMPAS, 28 Juli 1991].

    Sangat jauh dari pemikiran digital pada saat itu, tapi dengan kemajuan teknologi yang sangat muktahir bisa Langsung dinikmati, terima kasih kepada Irama Nusantara yang sudah mengumpulkan arsip majalah Aktuil.

    Sejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era DigitalSejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era Digital

    HAI

    Di masa kejayaannya Aktuil ada kompetitornya, bernama MIDI (muda mudi) yang lebih konservatif & tulisan yang berbobot, tidak mampu menyaingi Aktuil yang banyak dengan poster, di tahun 1977 MIDI mati begitu pula dengan urat ijin terbitnya kemudian digunakan grup Gramedia lahirlah majalah Hai, yang berkepanjangan dari Hiburan, Amal dan Ilmu. Masih dengan tim yang mengerjakan MIDI. Dengan konsep yang lebih segar, Arswendo yangmemimpin redaksi Hai, memuat komik, sinopsis cerita videosilat dan banyak referensi televisi, Sekitar tahun 1987, Arswendo mundur dari hai, mulai tahun 88 Hai mulai merambah menjadi remaja pria dengan semboyan bacaan paten. Begitupun dengan saya yang mulai beranjak menjadi remaja mulai stop berlangganan Bobo, mulai berjakun, berpindah ke Kawanku, mulai tumbuh jembut baru akhirnya HAI, tidak lama setelahnya langganan Kawanku distop karena kurang cool, yang setiap hari Selasa ditunggu kedatangannya oleh kloper koran

    Di tahun 1990an Hai mulai membahas musik, era grunge sudah mulai masuk begitu pula dengan NBA. Tahun 1993 HAI mengadakan NBA tour bernilai US$3000 berangkat ke Amerika untuk menonton pertandingan di New York, Cleveland dan Los Angeles ditambah rangkaian tur wisata seperti bertahun baru di Disneyland naik ke puncak World Trade center. Selain menjual paket tour ini HAI juga mengadakan kuis, saya iseng ikut dengan memakai postcard HAI Bon Jovi, entah kenapa saya yakin menang dan benar kejadian.

    Bertahun-tahun mengikuti HAI, disitu saya mulai tersirat hasratnya untuk menjadi seorang penulis majalah. Redaksi yang di pimpin Firdaus waktu itu sangat mengena. Mulai masuk tahun 2000-an ya HAI ganti logo yang baru – ya masih bisa dibilang oke, tapi majalah-majalah luar sudah mulai masuk di zaman itu – perlahan-lahan mulai meninggalkan HAI, saya sudahs bertumbuh dewasa dan tidak masuk target market, semakin pintar dan mengenal majalah luar negeri yang bisa didapatkan dengan harga murah pada saat itu.

    Sampai detik ini HAI masih eksis di instagram dan website dengan follower sebanyak 148k dengan nama hai_online.com.

    Sejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era DigitalSejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era Digital

    RIPPLE

    Sejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era Digital

    Tahun 1996 Bandung melahirkan 347, sebuah clothing yang menjadi awalnya budaya distro, sejak itu menjamur banyak brand-brand distro di sekitar Bandung, anak-anak Jakarta pun rela berangkat ke Bandung untuk belanja, Tol Cipularang belum ada, masih lewat Puncak atau Subang. Budaya ini begitu hype dan jauh dari mainstream.Awalnya Ripple dibikin untuk flyer produk 347 sampai transisi menjadi majalah berukuran mini seperti zine dengan konten surf & skate.Sampai merambah ke musik-musik underground lokaldengan bonus kaset, grafismaupun layout yang berubah setiap edisi danterbatasmenjadikannya sangat penting.untuk di koleksi .Di hari-hari terakhir Rippleukuranberubahmenjadi majalah pada umumnya. Gratis, tanpa bonus kaset. Bahkan bisa ditemukan di Gramedia atau toko-toko buku di mall-mall.

    Sejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era DigitalSejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era Digital

    Whatnot

    Setelah saya tahu tujuan hidup saya pada waktu SMP terima kasih kepada majalah HAI dan Ripple, saya dengan sahabat saya Adi yang waktu itu baru pulang studi di Amerika Serikat, saya baru lulus sebagai sarjana FIKOM. Berwacana untuk bikin majalah, tahun 2004 kami bikin whatnot yang tujuannya untuk menemani pembaca pada waktu di WC dengan isinya yang ngehek, nyampah dan tidak penting tapi seksi. Tim awal sempat ada Miebie Sikoki (DGTLNTV), Darbotz dan Kims. Deretan artis dari David Naif, Mariana Renata, Sarah Azhari, Luna Maya & Cathy Sharon dan banyak lagi. Karena satu lain hal kami memutuskan untuk tidak menerbitkannya (Kiri: Untuk pertama kalinya Dummy cover Whatnot unpublished).

    Sejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era DigitalTapi di tahun 2005 Whatnot bersama Footurama dan Tembok Bomber mengadakan street art exhibition bertajuk Medium Rare di Museum Nasional, animonya sangat massive. Setahun kemudian whatnot mengundang Sneaker Pimps untuk menggelar ratusan koleksi sneakersnya dan mengundang Futura, graffiti writer legendaris dan SBTG, seorang sneaker customizer dari Singapura dan Ewok(NYC), grafitti artist. Sejak itu seakan kami menjadi pionir street art Jakarta bahkan Indonesia. Sejak itu banyak street art exhibition dalam tanda kutip, kata “urban” diperkosa sedemikian rupa, sponsor-sponsor besar seperti kesetanan dengan konsep urban kultur ini. Dengan animo sebesar ini lahirlah blog dothewhatnot.com yang menjadi platform street culture paliing bepengaruh di saat itu dan akhirnya ekspansi menjadi creative studio, berubah nama jadi dailywhatnot.com dan tahun 2011-an saya kembali untuk refurbish dailywhatnot.com dan melahirkan charlie-seen.com, situs yang isinya foto-foto party, Sampai akhirnya 2015 whatnot berakhir.

    Sejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era DigitalSejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era Digital

    Juice

    Kilas balik pada waktu fase mendirikan Whatnot tahun 2004, secara tiba-tiba Majalah JUICE. Majalah gratis asal Singapura yang fokus menjadi guide nightlife dan street culture hadir di Indonesia. Whatnot gagal terbit, kebetulan ada teman yang kerja di Juice, saya nekat menawarkan diri untuk kerja di grup Media Satu, penerbit majalah gratis Area, Astro TV Guide. Ok untuk tes masuknya saya di tunjuk untuk wawancara Thomas Djorghi sebagai test case. Pada waktu Thomas sedang syuting sinetron di Duren Sawit, disitu saya wawancara Thomas yang sedang beristirahat di kasur yang besar, sungguh pengalaman yang aneh. Hasilnya saya diterima, dengan pengalaman saya di berkecimpung di dunia gemerlap, memudahkan saya untuk mengadaptasi apa yang terjadi di Singapura sana dijalankan di Indonesia, jelas pada saat itu skena dance yang underground sudah menjadi industri, selain Juice, The Beat dan Freemagz juga banyak membahas skena dance. Dengan network yang ada Juice berhasl menjadi bible bagi club goers, street fashionista, indie band, DJ-DJ ternama dan DJ-DJ muda berbakat.Juice menjadi majalah paling berpengaruh pada masa itu, dari interview DJ-DJ legendaris techno, house, hip-hop

    Sejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era Digitalyang main di masa kejayaan superclub-superclub seperti Embassy dan Centro DJ sampai bikin party-party kecil yang masih bertujuan untuk edukasi genre-genre pada saat it. Setelah 5 tahun membangun, saya memutuskan untuk mengundurkan diri, setelah itu Juice berjalan stabil dengan sistem yang sudah pakem, brand mapping juga sudah jelas. Juice sendiri juga sedikit ‘shifting’ dari yang dominasi dance scene, electronic ke indie-indie band. Sayang 2016 Juice dibunuh digital, print is dead! Sempat mau berubah haluan menjadi digital tapi sudah telat, sampai akhirnya juice hanya dijalani seorang penulis dan satu grafik designer, ukuran pun sudah menjadi pocket size, tidak lama singapura juga berubah haluan menjadi digital walaupun tidak begitu ngangkat, justru Malaysia masih bertahan dengan edisi cetak dan masih gratis.

    Sejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era DigitalSejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era Digital

    SUB

    Ok setelah berhenti dari Juice, saya mencoba menjajal karir di dunia periklanan, tidak lama datanglah dari seorang teman yang dulu juga di Whatnot, bikin majalah yuk! Merupakan cita-cita juga untuk publish sebuah majalah setelah pengalaman sebagai pekerja. Berkat seorang investor kami bikin bimonthly magazine yang tebal dan collectible dengan kertas yang premium, more visuals, less writing. Fashion spreads. Thematic issue, comic strip & bonus sticker pack.

    Sejarah Subjektif Majalah Subkultur Lokal yang Terbunuh Era Digital

    Timnya pada saat itu bisa dibilang dream team disitu ada Angga Adiyatama (Kims) sebagai Creative Director, Seto Adiwitonoyo yang sekarang creative director Satu collective, Joey Christian (fotografer & videografer) Nadia Rachel sebagai managing editor dan Ayla Dimitri yang baru lulus kuliah bekerja sebagai fashion stylist, sebelum bekerja di Elle dan jadi selegram. Brand-brand yang masuk seperti Nike, Deus, Volcom, RVCA, Lee Jeans. Kita buatkan fashion spread yang berintegrasi dengan content video di Youtube.Setelah hanya empat edisi cetak, tim generasi pertama memutuskan untuk bubar karena masalah finansial dan diteruskan oleh tim lain dengan feel dan visi yang berbeda dari konsep awal.

1 Comment

You must be logged in to leave a comment.