fbpx

Seni Berhala Seni, Menghitung Nilai Investasi di Art Jakarta 2018

Seorang pria berjaket kuning mencairkan suasana serius dengan lawan bicaranya seorang eksekutif muda, lewat lelucon kering tentang alibi dan niat masing-masing dalam mengonsumsi seni.

Ada banyak motivasi kenapa orang ingin datang ke sebuah pameran seni; dari milik art enthusiast kelas menengah yang cenderung suka membanding-bandingkan karya, kolektor berkantong tebal dengan selera aristokratnya sampai manusia-manusia awam yang tidak lebih hanya ingin bergaul meningkatkan poin strata sosial mereka. Tidak ada yang salah, semua orang berhak punya alibi dan niatnya masing-masing dalam mengonsumsi seni, termasuk seorang pria berjaket kuning tua. Mencoba mencairkan suasana serius dengan lawan bicaranya, si Jaket Kuning ini berlelucon kering tentang investasi dan istri muda.

Mereka berdua tengah berdiri di selasar ruang instalasi bertajuk 10 For 10 yang secara khusus dibuat oleh Art Jakarta 2018 demi merepresentasikan eksistensi satu dekade kehadiran dalam bursa eksibisi seni.

Dari sebelah kanan tampak “Malaikat yang Menjaga Hankamnas” bikinan Agus Suwage tergantung di dinding, sedangkan di depan menohok jeruji besi milik “The Irony of Ruralism”-nya Eddy Susanto yang megah terdiri dari 9 panel lukisan mengenai evolusi desa. Beberapa pengunjung di sekitaran terlihat ragu-ragu untuk sekadar memasuki keindahan kelamnya. Art Jakarta 2018 sendiri baru saja dibuka secara resmi beberapa menit sebelumnya oleh Maulana Indraguna Sutowo selaku CEO MRA Group yang menjadi inisiator utama pagelaran ini selama 10 tahun terakhir; terdapat 51 galeri dengan 300 seniman bersama kurang lebih 1000 karya dipamerkan untuk 2018 ini.

“Kalau nanti misalnya jadi beli lukisannya si Cagi yang tadi itu ibarat memelihara istri muda, mas,” kata si Jaket Kuning diiringi tawa. “Nilainya semakin lama akan semakin padat dan punya pengalaman.”

“Menurut kamu dia bakal naik berapa kali lipat dalam lima tahun?” balas lawan bicaranya acuh, seorang eksekutif muda berjas berusia mungkin hampir 40 yang tengah mengamati – menikmati gradasi warna dalam rongga ‘389-696-104-554’ milik Syagini ‘Cagi’ Ratna Wulan.

“Seni kontemporer, mas, lagi tren sekarang. Mungkin bisa sepuluh kali lipat, tapi ya kita harus sabar, enggak banyak lagi yang bisa kayak begitu. Dulu Nyoman Masriadi pernah menjual sampai 5 miliar.”

“Ya saya pernah dengar itu,” sahut si eksekutif muda mulai kehilangan minat. Benar saja. Sejenak kemudian kalimatnya dilanjutkan, “tapi saya tidak banyak percaya dengan kurator lokal. Mereka itu para art dealer yang menyamar. Kaleng bekas saja bisa dihargai 1 miliar, sedangkan kita tidak pernah tahu asal usul sejarahnya. Semua yang menentukan pasar.”

“Bukannya itu malah menguntungkan, mas?” si Jaket Kuning menjawabnya balik dengan meluncurkan sebuah pertanyaan.

“Ngaco!” ujar mas Eksekutif Muda itu sedikit menyentak, lalu menguliahi lawan bicaranya dengan cerita panjang lebar sambil terus melekatkan pandangan pada pilar-pilar berwarna milik Cagi. “Justru karena itu harganya jadi enggak punya dasar. Tidak ada standarnya di sini (Indonesia). Nilai-nilainya masih kabur. Berbeda dengan di Eropa atau Kanada, mereka punya institusi yang kompeten untuk menilai karya seni. Sewaktu saya beli Van Gogh, Portrait of Dr. Gachet seharga cuma lima juta dollar, saya merasa itu sepadan karena jelas nilainya, sejarahnya dan infrastrukturnya memang dahsyat. Mungkin sekarang kalau saya jual bisa laku seratus juta dollar. Banyak kolektor benda seni di Indonesia yang mengira karya seniman lokal bisa bernilai tinggi, apalagi kalau mau diinvestasikan. Padahal enggak mungkin, wong, museum dan tenaga expert saja tidak ada. Mungkin ada, tapi, ya itu tadi, saya tidak terbiasa percaya dengan opini lokal. Sekarang ini percaturan kolektor benda seni terbentuk semata-mata karena mekanisme pasar yang tidak punya standar. Karya-karya kontemporer yang katanya ‘lebih peduli publik’ itu bisa berharga gila-gilaan karena pembeli yang menentukan, bukan sebuah lembaga terpercaya. Tidak sehat.”

Si Jaket Kuning manggut-manggut, dia punya satu penasaran yang ditahannya sebentar sebelum benar-benar dikeluarkan untuk dicari tahu. “Tapi, mas,” sergahnya menoleh ke sang eksekutif muda yang tampak puas setelah berceloteh, “benar punya Dr. Gachet di rumah?”

Mas Eksekutif Muda menanggapi pertanyaan itu dengan tenang, tersenyum bak pangeran-pangeran dari Cendana sambil tetap menjaga harkat dan martabat di atas dagunya, “Tidak, tidak, saya cuma bercanda.”

Pudar langsung kekaguman si Jaket Kuning yang akhirnya hanya bisa memasang muka datar dan menyunggingkan nafas seperti babi kelelahan. Hoof. Baginya semua sudah bisa dihitung sekaligus terjawab sederhana sekarang. Jika kalian memang cukup peka untuk membacanya.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memadai Pendengar Psytrance di Jakarta dengan Natura

Lantunan suara bass dan kick konstan berdegup cepat seperti gemuruh suara kaki k...

Semalam Saja: Kultur Music Disco Di Kota Bertuah

Kolektif bernama "Semalam Saja" bawa musik disco masuk Pekanbaru

Bertahan di Tengah Arus Gaya Hidup Makanan Bersama Bakudapan

“Mungkin aku sudah harus memulai untuk mengurangi nasi yang banyak sekali meng...

Peristiwa Menonton dengan Semangat Kolektivitas: Café Society

Menghidupi apresiasi film dengan Ruang MES56, Bakudapan, dan Forum Film Dokument...