fbpx

STUDIORAMA Di Lantai Dansa

Ubah haluan atau ekspansi?

Pada bio akun instagramnya terdapat kalimat yang terasa ambisius, “The forefront of alternative entertainment in Jakarta.” Tulisnya. Jika melihat sepak terjangnya kolektif Studiorama memang terlihat pantas untuk melabeli dirinya dengan kalimat tersebut.

Para bujang dara yang mayoritas berdomisili di Jakarta ini sudah bertahun-tahun mewarnai industri pertunjukan sayap kiri di Indonesia lewat berbagai gelaran serial dan keterlibatannya sebagai kurator untuk beberapa festival musik. Penyelenggara pentas musik hidup yang kerap menampilkan musisi-musisi internasional maupun lokal kini sudah jadi citra yang melekat kuat pada Studiorama.

Namun belakangan Studiorama juga aktif mengadakan acara-acara musik dengan format pesta dansa. Sebuah manuver yang mungkin tidak terpikirkan oleh banyak pengikutnya.

Beberapa waktu lalu Frekuensi Antara bertemu dengan beberapa anggota Studiorama, Xandega (X), Jason (J), Sidha (S), dan Irina (I). Kami bertemu untuk membahas pertimbangan mereka dalam menyentuh ranah musik lantai dansa. 


 

Kapan nih rencana bikin acara Studiorama Live lagi?

X: Belum kepikiran lagi sih. Soalnya dulu kita pas bikin Studiorama live karena memang ngerasa belum ada yang bikin pertunjukan live band dengan presentasi yang konsepnya mateng. Tapi belakangan ini kan udah banyak ya, jadi kita coba kerjain yang lain.

 

Emangnya kalau udah banyak yang bikin kayak gitu kenapa? Gimana dengan semangat Studiorama untuk menawarkan pertunjukan dengan pengalaman yang berbeda?

X: Sebenarnya kita memang berusaha se-konsisten mungkin sih. Cuman belakangan kita bareng-bareng reestablish untuk milih ngelakuin yang kita suka dan kita bisa dulu aja.

Makanya belakangan Studiorama lebih sering datengin band dari luar sambil ajak emerging local acts untuk jadi band pembukanya. Terus support beberapa acara yang cukup besar di bagian kurasi, dan ya belakangan suka bikin party.

 

Nah sampai akhirnya sering bikin party tuh gimana ceritanya?

X: Karena emang kita lihat apa yang lagi ramai juga sih ya, khususnya di Jakarta yang lagi banyak banget party. Ternyata belakangan itu jadi hal yang kita suka juga.

Tapi bukan cuma karena itu aja sih. Kita juga ngelihat kan ada banyak jenis musik elektronik yang belum terekspos, akhirnya kita bareng-bareng mau coba angkat mereka yang emang belum kelihatan itu. Harapannya dari kita yang suka lalu orang-orang juga jadi suka.

 

J: Walaupun udah main lama sama mereka tapi bisa dibilang gue baru sekitar tiga bulan lah gabung sama Studiorama. Dan dari kacamata gue yang sebelumnya outsider, gue rasa Studiorama disini bukan sedang shifting, tapi nonjolin sisi edukasi yang selama ini emang mereka lakukan.

Dari dulu gue lihat Studiorama ini terdepan untuk tampilin musik-musik yang baru. Dan di musik elektronik sekarang ini juga harapannya begitu. Karena banyak yang bagus tapi enggak terekspos.

 

S: Pada dasarnya apa yang kita lakuin masih sesuai pakemnya Studiorama, tapi kita lagi ngeluasin kolamnya aja. Refrensi masing-masing kan bertambah, bukan cuma di band ataupun guitar music jadi kita akhirnya bergerak sesuai perluasan refrensi itu. Tapi untuk visinya tetap sama, mau angkat emerging artists.

 

Kenapa baru sekarang? Bahkan ketika party lagi jadi format hiburan yang rasanya over-supplied. Kenapa enggak melakukannya lebih dulu seperti kebiasaan Studiorama sebelumnya?

X: Sebenarnya di awal-awal terbentuk Studiorama udah terinspirasi sama apa yang biasa dikerjain Ojon (Jonathan Kusuma) atau Gerhan yang pada saat itu masih bisa dibilang “tersembunyi” lah.

Tapi untuk bikin yang seperti ini memang baru berani sekarang. Karena enggak bisa dibohongi kalau antusiasme orang-orang di Jakarta hari ini juga justru yang menginspirasi kita.

 

S: Irisan ke musik elektronik juga sebenarnya udah lama ada di Studiorama. Kayak di awal-awal seri Studiorama Live misalnya, kita pernah ajak Space System dan beberapa musisi elektronik lain buat main.

 

J: Dan bukan berarti kita sekarang enggak coba nawarin sesuatu yang beda. Contohnya pas kemarin pas kita ajak Mobile Girl buat main di Jakarta. Jujur aja gue baru pertama kali denger kayak gimana musiknya dia. Dan emang itu jauh dari standar kebanyakan musik underground yang belakangan banyak dimainin di Jakarta.

 

 

Sejauh ini estetika jadi salah satu hal yang sangat diperhatikan Studiorama. Gimana penerapannya di pesta-pesta yang kalian buat?

J: Kemarin pas kita ajak Anthony Naples untuk main di acara Poise di Zodiac mungkin bisa jadi contohnya ya. Kita kolaborasi sama Oltjikko untuk ngatur dekorasinya lewat flower arrangement. Itu salah satu ide kita untuk kasih pengalaman baru di tempat joget.

Bukan hanya soal estetika sebenarnya, tapi gimana lewat itu semua orang-orang yang dateng bisa ngerasain sesuatu yang berbeda. Yang memorable lah.

 

S: Apa yang kita kerjain kemarin sama Oltjiko juga sebenarnya masih sejalan sama visi kita di awal. Kenapa Oltjiko? Karena memang kita cari bentuk kolaborasi yang belum pernah kita lakuin sebelumnya.

 


Untuk pemilihan penampil ataupun kolaborator. Seberapa besar asas pertemanan mempengaruhi Studiorama dalam mengambil keputusan terkait hal itu?

X: Justru malah terbalik, ada beberapa musisi lokal atau internasional yang kita lihat keren dan bikin kita pengen bisa kenal dan hang out sama dia.

Kalau di beberapa party Studiorama kita masih ajak yang itu-itu aja mungkin karena emang kita masih coba untuk establishing serial event kita, Acension dan Poise. Setelah establish kita pasti bakal lebih perhatiin soal kurasi nama-nama baru.

 

Pergerakan Studiorama bisa dibilang dinamis dan menyentuh banyak subkultur. Bagaimana pandangan kalian soal perkembangan subkultur musik di Indonesia? Adakah yang perlu dilakukan agar hal ini jadi lebih ideal?

J: Kalau berkaca dari negara kayak Jepang, gue ngelihat disana subkultur ada banyak banget. Sangking banyaknya sampai pop culture bhkan jadi subkultur tersendiri. Lain halnya disini yang setiap slice nya masih cukup besar porsinya. Dengan gitu sisi bagusnya setiap subkultur jadi lebih kuat, tapi orang-orang enggak biasa sama suatu hal yang baru.

 

X: Nah itu yang lumayan sering jadi pikiran kita. Gimana caranya sesuatu yang baru bisa diterima sama lebih banyak orang. Dan yang bisa dilakukan cuma satu, konsisten untuk ngelakuin itu semua.

 


 

Studiorama akan bekerjasama dengan NTS, online radio basis London dan menggelar NTS Live pertama di Jakarta. Info lengkapnya bisa kalian dapatkan di akun Instagram Studiorama.

 

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Cerita Dibalik Sistem Profit Sharing di Jakarta

Sekarang, dari segi klab sampai ke kafe dan restoran, budaya profit sharing seri...

KOLEKSI: Lagu Indonesia Langka dalam Koleksi Merdi Diskoria, Indo Cosmic hingga Guruh Anti Narkoba.

Untuk seorang kolektor vinyl seperti Merdi Simanjuntak, berbagai ragam bentuk pe...

4 Tontonan untuk Mengalihkan Kita dari Narasi Teror dan Radikalisme Berita Nasional

Daripada mengikuti berita mengenai terrorisme yang tak kunjung henti cuman men...

Proses Soundscaping T-27 Thrive Motorcycles

Sebuah cerita pertemuan dua craftsman yang memutuskan untuk memajukan karya mere...