fbpx

Terjangkit Virus Piringan Hitam Murah

Bandrol murah adalah kuncinya, bagai umpan di ujung tali pancingan.

 

Awalnya Paper Pot Records sama seperti sebagian besar toko rekaman yang tersebar di seantero Jakarta Raya, punya harga mahal, yang sebenarnya delapan puluh persen dapat diwajari apapun alasan mereka; ketersediaan barang yang langka, biaya pengapalan tinggi sementara dollar naik terus, keluguan konsumen sampai pengultusan jiwa yang berlebihan terhadap album piringan hitam. Semuanya menjadi satu paket mengapa kemudian kita harus merogoh rupiah minimal 200-350 ribu untuk sekadar mendapatkan Let It Be-nya The Beatles atau salah satu dari bejibun album kumpulan hits The Rolling Stones atau The Beach Boys, misalnya. Padahal barang bekas. Itu album-album standar rock klasik yang sesungguhnya sepadan ditukar dengan (hanya) 100 ribu paling mahal bila kita beruntung. Tapi nyatanya kita cukup sial mendekam di negara yang tidak bersahabat untuk urusan plat murah ini. Kendati tidak sampai menurunkan minat buru para kolektor secara signifikan, namun efektif untuk membuat kita berpikir teliti – bibit, bebet, bobot – sebelum benar-benar membeli dengan hati tercekat alias pirit-pirit banyak menawar kelas menengah. Imbasnya, tentu saja, banyak penggemar musik yang kemudian ragu-ragu menyemplungkan diri lebih dalam sebagai pengumpul piringan hitam.

Handika Fardhi – pemilik Paper Pot Records yang berlokasi di lantai 4 Blok M Plaza, Jakarta Selatan mencoba menerobos kebiasaan mahal pasar piringan hitam dengan kampanye Rp. 75.000 per album yang terus digencarkan demi menyebarkan virus penggalian musik fisik kepada khalayak yang lebih luas, dalam artian bukan hanya dilakukan oleh kolektor kelas berat tapi juga para pemula agar stabil mengonsumsi. “Bagaimana caranya orang-orang bisa digging, menyelam – eksplor ke dalam samudera lautan musik,” katanya. Dan bandrol murah adalah kuncinya, bagai umpan di ujung tali pancingan.

Disamping album-album kurasi yang berharga normal (Rp. 300.000 ke atas), 75.000 rupiah dipatok Fardhi setelah mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya adalah perkiraan biaya gaya hidup anak muda sekarang. “Gue lihat kehidupan anak-anak SMA, 75 (ribu) relatif murah karena mereka bisa beli (Air) Jordan dengan harga jutaan, bisa nongkrong di fine dining, atau elo bisa menabung jatah rokok 3 bungkus tapi beli plat dan mendapatkan art berupa gambar dan musik,” sebutnya.

Angka tersebut cukup adil terlepas dari kurasi albumnya yang relatif bagus tidak bagus dengan multi-genre dari Italo disco, chamber, prog, crunk, ye-ye, keroncong dan lain-lain. Ada beberapa nama besar yang sudah akrab seperti Frank Sinatra atau Sly and the Family Stone atau Donna Summer yang bercampur di antara lebih banyak lagi nama asing yang belum pernah kita dengar. Tidak hanya album internasional, namun juga album lokal yang kuno. Tapi itulah seni paling indah dari menggali musik fisik, mengobok-obok barang loak – jika beruntung apalagi pantang menyerah kemungkinan mendapat berlian aneh di tengah kubangan lumpur tidaklah mustahil, dan bila hal itu sampai terjadi, artinya kemenangan mutlak.

“Tidak ada musik yang tidak bagus. Kita bergerak di industri seni kreatif yang tidak memiliki batasan, artinya tidak ada pattern bagus atau jelek. Hanya meninggalkan dua kata: iya atau tidak. Jika elo tidak suka dengan suatu jenis musik tertentu, jangan bilang musik itu jelek. Ingat, dunia tidak melulu tentang diri elo, tapi juga tentang diri orang lain yang akan mencintai musik tersebut,” jelas Fardhi.

Dia mengaku punya koleksi 63.000 keping piringan hitam yang siap jual, dan setengahnya masuk ke dalam katalog kampanye murah tadi. Sejak dilancarkan pada sekitar Juli kemarin Garage Sale 75 Ribu/plat telah diperpanjang dua kali. Yang periode ini masih akan berlangsung hingga 18 November 2018, dengan penambahan paket donat (baca: plat tujuh inci) 3 keping 100 ribu rupiah dan diskon 50% untuk album-album pilihan staf Paper Pot Records.

Hasilnya dinamis. Efek bola saljunya makin membesar. Akibatnya kalangan yang berkunjung ke sana sangat beragam. Ketika dikunjungi pada sebuah siang di hari Minggu tampak gerombolan remaja kisaran SMA/kuliah sedang menyisir katalog album di rak, silih berganti dengan paman-paman yang tengah bernostalgia, ikut juga istri-istri mereka, ada pula beberapa musisi, hipster akut dengan kacama bulat dan celana khaki katung dan kumis lancip Friedrich Nietzsche yang sedang mecoba pilihan albumnya di tiga turntable yang tersedia, lalu ekspatriat, sederet teman-teman sampai dua jelita berjilbab.

Demi memancing animo kemudian Fardhi memanaskan suasana dengan mengadakan lelang dadakan. Album Mob Rules milik Black Sabbath era Ronnie James Dio ditawarkan langsung pada pengunjung, harga mulai dibuka di angka 20.000 rupiah. Pemuda gondrong menaikkan tawaran jadi 50.000, tak lama dilawan 75.000 oleh seorang bapak berkepala botak – naik lagi ke 100.000, si gondrong tak mau kalah hingga akhirnya mentok di hitungan tebus 150.000 rupiah milik sang pemuda. 150.000 untuk sebuah album Black Sabbath tidaklah buruk untuk masa resesi menjelang akhir bulan.

“Penting banget untuk tetap membeli fisik di era digital ini karena piringan hitam punya durability paling panjang, timeless kalau kita bisa menjaganya. Barang-barang yang diproduksi di tahun 80-an masih bisa dinikmati sampai sekarang di tahun 2018. Menurut gue, piringan hitam itu adalah bentuk fisik yang paling baik karena kesolidan suaranya, dan saat elo membelinya ada memori di sana, entah untuk didengarkan atau sekadar dipajang,” ucap Fardhi yang mengaku tidak memiliki akun layanan musik streaming.

Paper Pot sendiri termasuk pemain baru di bisnis piringan hitam. Fardhi memulainya setahun lalu. Sebelumnya dia berjualan di gerai penjualan mobil miliknya di Blok M. Katalognya adalah koleksi pribadi yang dipukul rata Rp. 50.000 per album. “Tujuan utama Paper Pot bukan hanya tentang keuntungan, tapi penyebaran virus (piringan hitam) supaya kalian ikut terjangkit dan menjadi pelaku serius,” tutur Fardhi.

Puncak tren piringan hitam telah terjadi pada 2015 lalu ketika 9,2 juta keping album terjual di seluruh dunia, naik 300% dari masa kejayaan di era 60-an dulu. Selepasnya, penjualan piringan hitam dirasa naik-turun. Tidak sampai tergerus memang, tapi perputarannya tidak lagi seramai tiga atau empat tahun lalu. Justru hal tersebut dinilai berdampak positif sebab ekosistemnya dapat terfilter dengan baik. “We keep the flames,” kata Fardhi, “record store harus kembali ke akarnya, yaitu interaksi sosial. Makanya gue mengadakan (bazar) 75 ribu itu supaya orang datang digging dan saling mengobrol tentang musik yang kalian cintai.”

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Midnight Runners-“Kuda Arab” Release Party

Rangkaian Social Hub Bandung yang ketiga.

Perilisan Ulang Album “Titik Api” dari The Gang Of Harry Roesli.

Album pendobrak musik kontemporer Indonesia.

Barefood: Rilis Plat ‘Sullen’

Boleh juga nih warna vinyl nya.

Turntable Kok Melayang?

Bukan sulap bukan sihir.