fbpx

Nongkrong Malam Ala Orang Sanur di Pan Tantri

Saudara Sebotol

Di Sanur, jam 10 malam sudah terasa sepi. Tidak lagi banyak turis yang berjalan kaki di kanan-kiri jalan. Malam itu saya janji untuk bertemu Om Saylow (Bale Bengong), Eka (Scared of Bums), dan Wayan (Swoofone)—teman-teman di Denpasar. Memasuki ujung Jalan Pungutan, terlihat banyak sepeda motor parkir di pinggir gang. Suara musik reggae dan suasana pesisir lengkap dengan dekorasi bagian-bagian jukung yang sudah tidak terpakai. Pan Tantri, begitu tertera tulisan di papan kayu besar penanda warung arak ini. Semua kursi penuh diisi pelanggan setia Pan Tantri yang sudah buka sejak jam 7 malam. Warung ini sudah berdiri sejak 2014. Tapi, Ungit Desti, atau akrab disapa Pak ‘De, sudah berjualan arak sejak 2013. Berawal dari setiap pulang kampung dari Karangasem selalu membawa arak, akhirnya—karena bujukan teman-temannya—dibukalah Pan Tantri.

Arak yang dijual di Pan Tantri adalah buatan keluarga Pak ‘De di Karangasem. Arak ini dibawa dari Karangasem dan disimpan di gentong gerabah di dapur Pan Tantri. Makanan yang dijual pun beragam. Aneka olahan ayam, babi, dan makanan laut, dimasak dengan bumbu bali; segar dibuat setiap harinya. Kisaran harga dari 15 ribu sampai 35 ribu membuat pelanggan betah berlama-lama ngobrol di warung ini. Hubungan erat yang dijaga oleh Pak ‘De dan nelayan di daerah sanur, membuat Pan Tantri memiliki persediaan makanan laut yang segar. Setiap pagi Pak ‘De menjadi yang pertama untuk menyapa nelayan yang baru datang dari laut di pelabuhan Sanur. Beliau pun kadang turun sendiri untuk memilih bahan-bahan yang akan disajikan nanti malamnya di Pan Tantri. Begitupun dengan para peternak ayam dan babi. Tidak hanya sekedar hubungan bisnis. Pak ‘De memastikan supaya keseimbangan antara kebutuhan dan permintaan tetap seimbang. Sejalan dengan pola pikir adat Bali.





Biasanya, satu botol arak bisa diminum oleh empat orang. Ditemani dengan es gula, sloki arak berputar searah jarum jam. Bergiliran minum dan bertukar pengalaman ataupun sekedar ngobrol sambil menikmati Sop Mercon Gurita. Ketika saya bertanya menu apa yang paling laku di Pan Tantri, Pak ‘De menjawab: Telur Ikan. Ada olahan bumbu bali dan bumbu merah. Katanya bagus untuk kesehatan vital pria dan kesuburan wanita. Juga untuk pertumbuhan otak balita. “Banyak yang bungkus atau pesan lewat Go-Food itu ibu-ibu rumah tangga yang punya anak dibawah lima tahun,” begitu ujar Pak ‘De. Nama Pan Tantri sendiri berasal dari istilah kebudayaan di Sanur. Tantri itu nama anak Pak ‘De. Jadi, Pan Tantri berarti Bapaknya Tantri. Sampai di resep-resep makanan yang dijual di sana, Pak ‘De yang meracik sendiri. Selain jago minum, beliau juga jago masak dan bela diri. Dulunya Pak ‘De adalah atlet Pencak Silat daerah.

Kultur minum orang Bali berawal dari pendatang Tionghoa sejak jaman kerajaan Bali kuno di Kintamani dan Karangasem. Para pendatang mengajarkan penduduk sekitar untuk membuat arak. Bedanya, kalau di negeri Cina sana arak terbuat dari beras ketan. Tapi, di Bali terbuat dari air kelapa. Fungsi arak yang awalnya dipakai sebagai syarat persembahyangan, bergeser menjadi untuk dinikmati juga. Seperti ketika Hari Raya Galungan dan Kuningan. Tradisi minum arak ketika berkumpul dengan sanak saudara, kini sudah kian umum. “Maksudnya untuk upacara (sembahyang) yang dipakai sedikit, tapi sisanya, kan, banyak. Nggak mungkin dibuang,” ujar Om Saylow sambil tertawa. Kalau di daerah pedesaan, arak diminum sebagai penambah stamina. Petani-petani Bali biasa meminum satu sloki sebelum pergi ke ladang. “Kenapa pada saat Galungan, kala kita berkunjung ke rumah-rumah saudara atau teman, kita selalu disuguhkan arak? Bukan teh atau kopi? Karena, arak dikenal sebagai pemersatu hubungan. Apapun yang ada di dalam unek-unek di kepala kalau sudah minum arak, pasti keluar. Kaya curhat jadinya,” tambah Pak ‘De. Sejalan dengan tagline Pan Tantri: Saudara Sebotol—yang diambil dari judul lagu Begundal Lowokwaru, sebuah band lawas yang berasal dari daerah di Malang bernama Singosari. “Saudara Sebotol ini maknanya luas sekali,” ujar Pak ‘De. Tidak peduli orang kaya, miskin, kasta. Toh, kalau sloki berputar, orang kaya tidak mungkin dapat giliran sekali minum lebih dari satu sloki. Semua dapat sama banyak.





Kesuksesan Pan Tantri tidak semata-mata karena arak dan makanannya yang enak. Tapi, juga karena support dari macam-macam komunitas di Denpasar. Banyak acara-acara yang Pan Tantri support. Dari mulai acara kampus, acara komunitas, atau pun acara STT (Sekar Truna-Truni atau yang biasa kita kenal Karang Taruna). Sampai sekarang masih banyak artis-artis lokal Bali yang masih nongkrong di Pan Tantri. Terlihat dari obrolan kami di malam itu yang beberapa kali terhenti karena pelanggan yang mau berpamitan kepada Pak ‘De yang ramah dan selalu berterima kasih pada kehadiran mereka. Hubungan baik yang Pak ‘De jaga selama ini dengan orang-orang disekitarnya lah yang menurutnya adalah kunci sukses dari warung sederhananya.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...