fbpx

Operasi SenSar dari Rollfast

Ekspresi Alunan Eksperimental untuk Denpasar

Sabtu malam 20 Oktober 2018, Rollfast menjadi salah satu pengisi rangkaian gelaran DenPasar 2018. Pergelaran ini hanya menyediakan 50 tiket, sangat terbatas untuk ukuran penampilan band psychedelic rock yang sudah menghasilkan sebuah album penuh, Lanes Oil Dream Is Pry. DenPasar 2018 diselenggarakan pada 5 Oktober 2018 dan baru saja berakhir kemarin, 4 November 2018. DenPasar bertujuan untuk menangkap berbagai perspektif dalam realitas Bali—yang beragam dan berlapis—melalui pameran bersama, dengan menampilkan karya- karya seniman, desainer, arsitek, dan penampil. Selama pameran ini berlangsung, DenPasar 2018 juga merangkul para individu maupun komunitas kreatif, baik yang berasal dari dalam maupun luar Bali, untuk melibatkan partisipasi masyarakat dalam acara DesignTalk serta kegiatan kreatif lainnya. Melalui pameran, kegiatan, dan pemetaan beragam entitas-entitas sosial dan kreatif, baik peserta maupun pengunjung diundang untuk menyelidiki citra Bali yang telah terbentuk, dan menjelajahi berbagai sisi kehidupan tradisional masyarakat Bali, yakni yang dirayakan dan yang disisihkan, seraya mereka beradaptasi untuk memenuhi tuntutan era kontemporer.


Melangkah melewati penonton yang sedang bergerombol di gerbang area sampai halaman galeri dengan perbincangan dan asap rokok sambil menunggu waktu dimulainya pertunjukan, masuk ke ruang galeri, pandangan mata akan disambut oleh tirai plastik bubble wrap mengelilingi alat musik yang telah tertata rapi. Beberapa personil Rollfast tampak sedang memeriksa semua peralatan akan bekerja dengan baik. Sebuah proyektor menengadah memandang langit-langit dan beberapa kamera terpasang diatas tripod, berdiri di setiap sudut ruangan dengan arah lensa menatap instrumen musik yang disusun melingkar.

Waktu menunjukkan sekitar jam 8 malam ketika pihak penyelenggara mengumumkan berbagai aturan dan proses penukaran tiket, sebelum akhirnya satu-persatu penonton memasuki ruang galeri.

Agha berdiri dibelakang mikrofon, menyapa penonton yang hadir, mempersilahkan untuk mencicipi minuman dan mencari tempat senyaman mungkin untuk menikmati pertunjukan malam itu. Dua gitaris duduk dengan memangku gitar masing-masing. Bayu Krisna duduk membelakangi penonton dan memilih untuk menatap rekan-rekannya sementara Ayrton, sang drummer, dan Aan Triandana, sang bassist, duduk sejajar di belakang.


Sebenarnya tidak ada depan belakang pada susunan panggung yang dengan sengaja dibuat satu level dengan penonton. Penonton bisa menikmati pertunjukan hampir dari segala macam sudut bahkan mereka bisa melihat secara dekat dan intim aksi Rollfast malam itu.

Gung Wah Bramantia memulai malam itu dengan dengan gitarnya. Kemudian direspon oleh personil lain dengan instrumen masing-masing. Kalimat, “Nikmati pagimu,” diucapkan secara berulang-ulang, seolah ingin memulai malam itu dengan pagi, dengan komposisi pagi.

Setelah pagi bergerak, suara instrumen semakin menurun. Pukulan Ayrton, sang drummer, menjadi semakin jelas, menjadi penanda mereka sedang bergerak memasuki komposisi ke-2, siang. Suara synthesizer menjadi aksen dominan mengimbangi pukulan drum Ayrton. Sementara rekaman orang-orang bicara, suara kendaraan yang diikuti dengan raungan sirine muncul diantara bunyi-bunyi instrumen mereka. Percakapan “Uli dije ci?”; (“Kamu tinggal dimana?”) dan jawaban “Cang nak lokal ne.” (“Aku anak lokal nih.”) muncul samar. Siang di Denpasar tentu saja padat dengan berbagai suara yang dihasilkan oleh gerakan yang menghuninya.


Sementara, seorang pemuda mengganti dupa yang telah mulai habis. Kalimat, “Melali [jalan-jalan – ed] ke Nusa Dua,” muncul ditengah-tengah ruangan, diulang oleh sang vokalis diikuti dentuman drum yang kian turun, seperti matahari yang terus bergerak. Petikan gitar Bayu Krisna mengantar pengunjung malam itu menuju sore hari yang ditunggu penghuni kota. Sore yang menjadi pertanda untuk kembali pulang, meninggalkan pekerjaan untuk sementara waktu.

Malam menyelinap datang ketika senja sore berhasil membuai indra. Aan Triandana, sang bassist, menjadi personil yang bertanggung jawab menterjemahkan malam kedalam sebuah komposisi untuk dibawakan di ruang Cush Cush malam itu. Menerjemahkan gemerlap lampu yang menghiasi jalanan protokol kota Denpasar.

Malam kian larut. Waktu berderap menuju kearah Agha, sang vokalis; menghadirkan subuh ke telinga penonton yang hadir malam itu. Subuh sebagai sebuah pembagian waktu yang sering kali terlewat akibat tubuh begitu nyenyak menikmati istirahat. Mantra puja trisandya ikut dihadirkan sebagai penanda pagi akan terbit dan setiap penghuni kota diharapkan segera bersiap untuk melangkah ke luar rumah.


Bayu Krisna, gitaris Rollfast, saat dihubungi melalui aplikasi pesan WhatsApp menjelaskan bahwa melalui Operasi SenSar mereka “trying to make sense of Denpasar,”—mencoba mengkaji Denpasar lewat pembagian waktu; pagi, sore, siang, malam dan subuh. Lima pembagian waktu tersebut kemudian dibagi kepada semua personil, sehingga setiap personil memiliki tanggung jawab menterjemahkan pembagian waktu yang menjadi bagian mereka.

Lebih lanjut Bayu menyampaikan, pagi dikomposisi oleh Gung Wah, siang oleh Aryon, sore oleh Bayu sendiri, Aan mengkomposisi malam, dan Agha untuk subuh. Jadi, setiap personil memiliki tanggung jawab lead masing-masing sesuai dengan pembagian waktu tersebut. Kemudian, sampai di venue, tinggal jamming dan saling respon. Malam itu mereka tampil dengan eksperimental set (set diluar album dan biasanya). Set yang sengaja disiapkan untuk membawa suasana Denpasar sekarang berdasarkan apa yang personil Rollfast rasakan; suasana pro dan kontra serta berbagai pergeseran histori dan kultur yang juga dialami Denpasar sebagi sebuah ibu kota provinsi dari pulau Bali yang menggunakan budaya sebagai ikon jualan pariwisata.


Rollfast tidak hanya menyajikan penerjemahan pembagian waktu dalam bentuk komposisi eksperimental yang disuguhi untuk telinga penonton yang hadir malam itu. Indra-indra lain penonton pun coba ‘diganggu’. Indra penciuman melalui aroma dupa dan bom kentut, indra perasa lewat arak yang malam itu disajikan oleh warung Pan Tantri, indra peraba dengan penggunaan bubble wrap yang malam itu bergantungan menjadi tirai, dan indra penglihatan dengan proyektor yang ditembakkan ke langit-langit bangunan—menampilkan visual Denpasar tempo dulu dan sekarang.

“Kami juga kangen bermain set eksperimental dan panggung yang intim, rapat, dan tanpa jarak,” sang gitaris menambahkan obrolan singkat melalui melalui media sosial.

Kenyamanan dan keintiman tergambar jelas dalam ruangan remang-remang malam itu. Salah seorang penonton yang hadir bahkan merespon musik dengan membuat gerakan membuka peta Denpasar, kemudian menggelarnya dilantai sebelum meluncur dengan kedua lututnya meninggalkan peta yang telah digelarnya. Kenyamanan di mana setiap hadirin bebas untuk melakukan apa saja.


Melihat Rollfast tenggelam dalam eksperimen bebunyian mereka sendiri bukan pengalaman pertama. Setidaknya sekitar empat tahun lalu mereka pernah melakukannya di Art Point Sanur dalam sebuah kolaborasi dengan penari Ninus dan Ari Rudenko. Dan, penampilan malam itu seolah mengobati kerinduan untuk ikut larut dalam eksperimen bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat mereka. Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu keunikan dari Rollfast adalah keberanian mereka memainkan komposisi eksperimental.

Bahkan, dalam penampilan kali ini, Rollfast berani membungkus eksperimen musik mereka dalam konsep “Trying to make sense of Denpasar”; mengekspresikan perspektif mereka mengenai Denpasar hari kekinian melalui komposisi bebunyian yang mereka hasilkan. Bahkan, bisa jadi komposisi eksperimental yang mereka mainkan seolah merupakan bentuk pemaknaan ulang dari Denpasar versi musisi muda, yang tumbuh dan berkembang dan menyaksikan bagaimana dinamika dari kota Denpasar.


Sentuhan visual yang ditampilkan dilangit-langit ruangan juga tidak bisa diabaikan. Visual warna yang bergantian dengan Denpasar tempo dulu seolah menggambarkan dinamika kota ketika berbagai tradisi coba dipertahankan di tengah serbuan kemajuan jaman. Belum lagi pemaparan terkait bagaimana pemaknaan arak, minuman lokal yang tetap bertahan di tengah serbuan berbagai alkohol impor, semakin terdesak karena ketidakberpihakan regulasi lokal. Namun, masih setia menemani pemuda dan orang-orang kota melewati masa muda dan masa-masa melelahkan melihat berbagi kontradiksi yang terjadi serta menghadapi laju perubahan yang tidak kenal kompromi.

Seolah dipicu lokasi penyelenggaraan acara malam itu, yang dilaksanakan di sebuah galeri yang sudah memajang karya-karya milik seniman yang sedang terlibat berpameran dalam pergelaran DenPasar, Rollfast memamerkan ekspresi mereka dalam eksperimental bebunyian. Sebuah karya sound art dibuat malam itu dan hanya disajikan di hadapan kurang lebih 50 orang (estimasi berdasarkan jumlah tiket).

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...