fbpx

Roll Fujifilm Naik 30%

Ini saatnya untuk para vendor Tokopedia.

Fujifilm Corporation Jepang mengumumkan sebuah kenaikan harga untuk sejumlah produk film fotografi-nya. Mengikuti hilangnya beberapa roll film Fujifilm dari pasaran sejak tahun lalu—akibat pemangkasan produksi, kenaikan harga ini nampaknya langkah terbaru Fujifilm untuk mundur dari pasar analog fotografi. Kabarnya, kenaikan harga sebanyak 30% ini akan dilanjutkan dengan pemutusan berlanjut untuk beberapa brand roll film dan kamera disposable juga.

Sejak Frank Ocean memamerkan sebuah Contax T3 saat Met Gala 2017, kami semua sudah memprediksi kenaikan harga yang akan terjadi pada peralatan di medium ini. Budaya foto analog sudah menjadi mainstream dan kami enggak harus memberikan kalian hyperlink ke artikel tambahan lagi untuk membuktikan kenapa. Tapi dengan tambahnya permintaan ke hobi yang lumayan niche ini, industri masal belum cukup pede untuk mengakomodirnya.

“Dengan kenaikan harga bahan mentah dan biaya distribusi untuk film foto, Fujifilm telah berusaha untuk meresap biaya dengan meningkatkan efisiensi produksi dan pengurangan biaya untuk menyuplai film foto kualitas tinggi secara stabil ke pasar,” dalam sebuah statement oleh Fujifilm, dilansir dari DP Review.

Pengumuman ini dilanjutkan dengan sebuah penjelasan bahwa konsumen juga harus bantu nalangin harga produksinya juga, lantas harga naik. Walau terlihat seperti sebuah upaya terakhir penyelamatan produksi produk foto analog, ini bukan pertama kali untuk Fujifilm mengambil langkah mundur. Sejak 2018 pemangkasan produksi sejumlah produk sudah dilaksanakan, dan untuk menemukan roll-roll seperti Industrial 400 atau Neopan Acros 100 semakin sulit. Ditemani dengan harga reseller sadis di e-commerce tercinta tanah air, roll Fujifilm akan kelak menjadi sebuah rare item.



“Dengan naiknya harga film, takutnya makin banyak yang takut mencoba bermain film,” jelas Wahyu dari Impossible Project ID. “Sekarang ini yang main analog sudah regenerasi. Pemain analog tahun lalu sudah banyak yang tidak main lagi. Berganti dengan orang-orang baru yang mana mereka baru mencoba lagi mulai dari roll murah seperti Kodak ColorPlus dan Fujfilm C200.”

Akan tetapi Impossible Project ID, salah satu entitas penjual roll film di Indonesia masih pede bahwa kenaikan harga dari Fujifilm tidak akan menurunkan animo pasar terhadap fotografi analog. Jelasnya, walaupun ada kenaikan harga dari sisi peralatan dan bahan medium seni ini; dampaknya belum memperlambat adanya pengadopsi baru. Dan perihal gerakan Fujifilm, hanya mengakibatkan pergeseran dari jenis jumlah roll film yang tersedia di pasaran lokal, mungkin banyaknya nanti Black & White.

“Selama masih banyak pilihan roll film lain kayaknya enggak bakal ngaruh kok,” jelas Wahyu.

Kabarnya Fujifilm Indonesia sudah memotong adanya pemasokan roll film kedalam Indonesia, hal ini memaksa vendor dalam negeri untuk mengimpor stok dari distributor regional. Tetapi dengan kenaikan harga ini, terbukti oleh Impossible Project ID bahwa distributor luar pun sudah membatasi jumlah pasokan roll film dalam stock mereka. Jika kalian salah satu orang yang merasa kehilangan saat Fuji Natura 1600 hilang, paniklah sekarang.


Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Peristiwa Menonton dengan Semangat Kolektivitas: Café Society

Menghidupi apresiasi film dengan Ruang MES56, Bakudapan, dan Forum Film Dokument...

Berasa Model Peringatan Kesehatan, Dadang Minta Royalti

“Saya yakin itu foto saya meski banyak yang meragukannya,” kata Dadang Mulya...

Angsa Hitam yang Menggabungkan Musik dan Custom Automotive

Melihat penetrasi elemen musik kolaborasi Thrive dan Kimo Rizky di website custo...

Memperingati May Day Sebagai Buruh Kreatif

Memperingati May Day bersama Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk De...