fbpx

Sebuah Pengalaman Musikal Epik di Spasial

Subtractive, sebuah acara yang digagas oleh Spasial, Sorge Records, Hema Records dan Orange Cliff Records.

Set di Spasial pada malam itu tampak seperti sebuah katedral bagi para pemuja instrumen-instrumen bebunyian yang aneh dan juga non konvensional. Stompbox, drum pad, pedalboard yang penuh, noise box, theremin hingga grand piano. Seolah-olah penempatan instrumen-instrumen tersebut memberikan statemen bahwa acara ini tidak akan terdengar (dan juga terlihat) biasa-biasa saja! Penempatan alat-alat tersebut yang dibiarkan menyemut di tengah gudang tentara juga memberikan kesan intim, membiarkan penonton bebas berkeliaran mengelilingi set. Penggunaan cahaya lampu yang minim namun cukup berwarna juga memberikan efek dramatis dalam kadar yang pas. Tak perlu banyak gimmick. Cukup musik yang berbicara pada malam itu.

Nama acaranya Subtractive. Sebuah acara yang digagas oleh Spasial, Sorge Records, Hema Records dan Orange Cliff Records. Ada Deathless, Logic Lost, Tesla Manaf dan Gardika Gigih + Tomy Herseta yang bermain pada malam itu. Dan bagi yang sudah tahu nama-nama tersebut, akan segera tahu bahwa acara ini memang akan menyuguhkan pentas yang secara musikal, memberikan pengalaman yang intens.

Beberapa penonton sudah terlihat mengantri di depan pintu masuk saat Deathless sedang melakukan check sound. Hal ini cukup menandakan bahwa acara ini memang sudah ditunggu-tunggu oleh cukup banyak orang. Entah karena konsepnya, atau mungkin karena Gardika Gigih yang memang cukup memiliki penggemar di Bandung.

Sebuah Pengalaman Musikal Epik di Spasial

Gate sudah dibuka dan Tesla Manaf langsung membuka set dengan bebunyian glitch noise yang dipadukan dengan permainan drum brengsek dari Rio Abror. Sebenarnya masih agak aneh jika melihat Tesla menjadi akrab dengan musik noise. Maklum, jika mendengar nama Tesla Manaf pasti akan selalu mengasosiasikannya dengan musik Jazz/Neo-Classical music. Tapi memang ada kerumitan yang sama antara memainkan musik noise/avantgarde dengan jazz. Dan sepertinya Tesla mencoba melakukan pendekatan yang sama, tentu dengan kerumitan yang sama. Tapi intinya, permainan Tesla pada malam itu cukup intens sekaligus menghentak. Cocok untuk menjadi pembuka acara malam itu; seolah menaikan tensi acara di malam yang cukup dingin itu. Kudos juga untuk permainan drum dari Rio Abror yang beberapa kali membikin penonton berkata kasar karena terkesima.

Deathless lalu muncul menjadi penampil kedua. Rembo, otak dari bebunyian gelap nan basah dari Deathless pada malam itu dibantu oleh Alyuadi (Heals/Collapse/Fuzzy) dan Imung. Perpaduan antara musik yang kelam, ambient dan raungan gitar yang kenob pedal distorsi, reverb dan delay-nya diputar hampir full itu entah bagaimana memberikan efek yang mencekam dan kadang terdengar menenangkan. Rasanya seperti kita terbangun dari mimpi buruk, mencoba menarik nafas dan menenangkan pikiran sambil mencoba tidur lagi, namun mimpi buruk itu masih saja menghantui. Analogi yang aneh memang. Tapi rasanya kalian mengerti apa maksudnya. Bagi kalian yang tidak bisa mengerti, coba saja bayangkan kalian mendengarkan Prurient, Godspeed You Black Emperor! Dan roster-roster Blackest Ever Black bermain bersama. Ada sedikit techno disana, ada drone/shoegaze sound juga, dan tentunya dark ambient yang menjadi menu utama dari set Deathless pada malam itu.

Sebuah Pengalaman Musikal Epik di Spasial

Setelah cukup dengan suguhan musik kelam dan basah dari Deathless, LogicLostcukup memberikan penyegaran dengan buaian musiknya yang cukup hangat, lembut dan juga rapuh. Roster dari Orang Cliff yang baru saja merilis albumnya ini sedikit mengingatkan saya pada musik ambient/downtempo dari Evenings, Submerse hingga Purity Ring. Selain alunan pad/synth yang lembut, suara vokal yang ringkih dan beats yang rapuh namun juga Dylan terkadang memberikan bebunyian-bebunyian yang liar dan complex. Dan semua perpaduan itu memberikan sebuah pengalaman musikal yang cukup intens. Masih jarang sepertinya kita disuguhi musik ambient/downtempo yang cukup berkualitas seperti ini. Kita sepertinya harus berterima kasih kepada Dylan Amirio yang sudah berbaik hati menyuguhkan musik yang indah pada malam itu.

Sebuah Pengalaman Musikal Epik di Spasial

Kebanyakan penonton yang hadir pada malam itu, rasanya datang dengan niatan awal ingin menonton penampilan dari Gardika Gigih yang pada malam itu berkolaborasi dengan seniman suara, Tomy Herseta. Kolaborasi ini cukup menarik karena berhasil mendobrak sekat antara musik konvensional dengan non konvensional. Gardika Gigih dengan jari-jari ajaibnya seolah-olah menari menekan tuts demi tuts grand piano yang terlihat paling stand out di Spasial malam itu, berkelindan dengan bebunyian ambient dari alat-alat aneh yang Tomy Herseta gunakan. Perpaduan bunyi tersebut secara ajaib berhasil menciptakan sesuatu yang terkesan magical. Rasanya seperti terjadi perselingkuhan antara Eluvium dengan Mozart, atau seperti roster dari Phinery Records yang mencoba berkolaborasi dengan Makoto Nomura untuk mengerjakan soundtrack dari film Ghibli.

Tak ada penonton yang berbicara atau mengeluarkan suara pada saat Gardika Gigih dan Tomy Herseta memainkan komposisi improvisasinya. Rasanya juga tak ada orang bodoh yang ingin merusak kekudusan bunyi-bunyi yang tercipta pada malam itu. Seperti Doa Rosario yang dilantunkan untuk merenung; untuk berkontemplasi, rasanya penampilan Gardika Gigih dan Tomy Herseta pada malam itu juga memberikan pengalaman yang sama. Tak banyak yang bisa ditulis mengenai penampilan mereka selain analogi-analogi diatas, karena rasaya semua orang di Spasial pada malam itu cukup terbuai masuk kedalam dunia yang lain.

Sebuah Pengalaman Musikal Epik di Spasial

Set Gardika Gigih dan Tomy Herseta berakhir, dan malam itu semua orang cukup puas disuguhi berbagai macam musik dan sebuah pengalaman yang berbeda. Banyak senyum-senyum yang muncul pada malam itu. Meskipun set belum sepenuhnya berakhir.

“Sebelum menutup acara, akan ada sebuah kolaborasi dari semua penampil yang telah bermain pada malam ini,” ujar Tomy setelah memberikan penutup dari setnya bersama Gardika Gigih. Dan inilah kejutan lainnya: semua penampil kembali menuju instrumennya masing-masing dan melakukan set kolaborasi. Edan! Tesla Manaf, Deathless, Logic Lost, Gardika Gigih dan Tomy Herseta berada dalam satu panggung dan akan menampilkan set improvisasi dengan gaya masing-masing? Tentu ini menarik! Dan benar saja. Semuanya berkelindan menghasilkan bebunyian yang epik. Harmoni dan disharmoni bersatu menciptakan aura yang rasanya tak mampu untuk dituliskan kedalam satu paragraf saja. Dan lagipula, rasanya juga tak ada kata-kata yang bisa mendeskripsikannya. Meskipun jujur, ending dari set kolaboratif ini agak kentang, tapi setidaknya, seperti adagium kuno yang paling terkenal, “hasil akhir itu tak begitu penting, yang penting adalah prosesnya.” Dan itu benar adanya. Tesla Manaf, Deathless, Logic Lost, Gardika Gigih dan Tomy Herseta telah memberikan kita sebuah proses penciptaan yang meskipun tak bisa dibilang baru, tetapi telah memberikan sebuah pengalaman yang begitu epik. Dan lebih dari itu, mereka telah memberikan proses edukatif bahwa penciptaan musik itu bisa dilakukan dengan banyak cara, apapun instrumennya.

Oh ya, acara ini juga akan hadir di Jakarta dengan penampil yang sama.

Sebuah Pengalaman Musikal Epik di Spasial

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Peristiwa Menonton dengan Semangat Kolektivitas: Café Society

Menghidupi apresiasi film dengan Ruang MES56, Bakudapan, dan Forum Film Dokument...

Melihat Ata Ratu Live di Bali

Sang Ratu Jungga yang sudah lebih dari 40 tahun berkarya, menyanyikan lagu-lagu ...

Memadai Pendengar Psytrance di Jakarta dengan Natura

Lantunan suara bass dan kick konstan berdegup cepat seperti gemuruh suara kaki k...

KOLEKSI: Lagu Indonesia Langka dalam Koleksi Merdi Diskoria, Indo Cosmic hingga Guruh Anti Narkoba.

Untuk seorang kolektor vinyl seperti Merdi Simanjuntak, berbagai ragam bentuk pe...