fbpx

Sedikit Cerita Tentang CTM Festival 2019

Delegasi Indonesia menggila.

Sejak diadakan pertama kali di tahun 1999, pada 25 Januari hingga 3 Februari kemarin CTM festival kembali dihelat untuk merayakan gelaran ke-20 nya. Festival seni lintas disiplin ini memuat program-program berbasis musik yang dilengkapi dengan lokakarya, instalasi seni, diskusi panel, pemutaran dan presentasi, yang menggambarkan perkembangan terkini perihal artistik, teknologi, ekonomi, budaya, dan media. CTM festival mencoba menampilkan aliran musik terbaru dengan latar belakang teknologi canggih, seni modern, perspektif sejarah, dan masalah sosial.

Tahun ini CTM festival diselenggarakan selama 10 hari, yang artinya 10 kali popping marathon bagi mereka  pencinta musik kontemporer yang (mayoritas) bersifat gelap serta intense. Tidak tanggung-tanggung, kelab Techno legendaris di Berlin, Berghain diplot jadi arena keseruan CTM Festival.

Turut senang, sederet seniman musik Indonesia juga terlibat sebaga penampil pada gelaran kemarin. Diantaranya adalah Setabuhan, Wok The Rock(Yogyakarta), Tarawang Sawelas (Bandung), dan  Sarana (Samarinda), Gabber Modus Operandi (Bali), Adythia Utama (Jakarta), Andreas Siagian (Yogyakarta), Bhakti Prasetyo (Yogyakarta), Raberto Agozalie (Yogyakarta),dan Sodadosa (Yogyakarta). Keberangkatan mereka terealisasi akibat kerjasama CTM Festival dengan pihak Festival Nusasonic 2018 silam, di Yogyakarta.


 


Rasa penasaran tentang seperti apa penampilan teman-teman dari Indonesia beraksi di Berghain awalnya seperti tidak bisa terjawab. Maklum, sudah menjadi rahasia umum bahwa Berghain, tempat penyelenggaraan CTM Festival tidak mengizinkan adanya dokumentasi berupa video ataupun foto.

Lucunya, salah satu dokumentasi tentang keseruan CTM Festival kemarin justru hadir dalam bentuk cerita yang dibagikan oleh Michail Stangl melalui account Facebooknya. Sebagai penikmat musik kelas tinggi, sosok di balik serial Boiler Room ini mengungkapkan bahwa pementasan duo asal Bali, Gabber Modus Operandi adalah penampilan paling punk yang pernah ia saksikan dalam satu dekade terakhir.

Alasan nya? adalah aksi Ican Harem sang vokalis yang muntah di atas panggung, dan lalu menggunakan cairan tersebut untuk merosot dari satu sisi panggung ke sisi lain nya. Pada unggahan tersebut Stangl bahkan menyebut apa yang dilakukan Ican Harem sebagai bentuk hybrid dari Michael Jackson & GG Alin.

Tidak hanya Gabber Modus Operandi, Stangl juga menuliskan pujian atas penampilan Zoo yang digawangi oleh Rully Shabara. Ia menilai tinggi kepiawaian Rully dan penampil-penampil asal Indonesia lain nya dalam menciptakan penampilan yang bersifat menghipnotis, radikal, dan keras.


 

I would like to write a lengthy review of all the amazing things that happened over the last few days at CTM Festival…

Dikirim oleh Michail Stangl pada Sabtu, 02 Februari 2019

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...