fbpx

SENSORIA Membuka Jalur Di BAIA

Mengambil alih BAIA bukanlah perkara mudah.

Lebih tepat disebut sebuah ruang alternatif jika digabungkan satu paket dengan main room Colloseum Club. BAIA kabarnya dibuat untuk menjangkau penikmat dance music sidestream ibukota. Dengan misi menyuguhkan musik yang berbeda dengan suara yang kita kenal sebagai identitas pusat kota. Jumat, 14 Desember kemarin ruang kecil yang dipenuhi laser merah yang membelah badan ini menyelenggarakan SENSORIA, sebuah club night yang berkolaborasi bersama Dekadenz.

BAIA dikenal karena epic opening mereka, sebuah party 45 jam nonstop. Bekerja bersama 17 kolektif musik sebagai delegasi ranah skena musik elektronik Jakarta. Mengambil alih BAIA bukanlah perkara mudah, crowd BAIA tetaplah crowd club pusat kota yang biasa dimanjakan dengan trance atau musik big room lain pada umumnya. Untuk Dekadenz yang dikenal dengan music mereka yang bernuansa gelap dengan dorongan synth yang kuat, unsur etnis, dan gaungan gaungan distorsi strings, gig di BAIA ini merupakan kunjungan kedua yang penting.

Datang dengan kekuatan penuh, Dekadenz secara lengkap secara line-up dengan Jonathan Kusuma, Aditya Permana, dan Ridwan Susanto. Jonathan Kusuma yang kerap disebut Ojon, hadir meskipun residency-nya di Council, Singapore. Bermain secara rolling bergantian, dibuka oleh Jonathan Kusuma dengan suara dark disco andalan. Pelanjutan tongkat estafet kepada Aditya Permana pada pukul satu pagi bersama dengan kedatangan crowd familiar pengikut Dekadenz dan lantai dansa mulai penuh dengan orang orang bergaya urban warna pakaian dominasi hitam.

Foto oleh Moses Sihombing

Lanjut semakin subuh, suara acid mulai terdengar dengan Ridwan Susanto bermain berbeda dari unsur tribal kuat yang seperti biasa kita kenal. Crowd pun tambah bergoyang dibawah sinaran lampu merah khas BAIA. Pukul tiga pagi tongkat estafet kembali dilanjutkan kepada Jonathan Kusuma dengan sound industrial dengan dentuman EBM khasnya.

Mereka bertiga Jonathan Kusuma, Aditya Permana dan Ridwan Susanto terlihat main tidak lepas malam itu. Terasa dari sturuktur set yang tidak seperti party khas Dekadenz. Mungkin kurang percaya diri dengan unsur music tribal dan synth yang padat, malam itu terasa berbeda. BAIA memang telah membuka pintu mereka untuk kolektif-kolektif musik elektronik sidestream Ibukota, tapi berkunjung ke BAIA tetap seperti berkunjung ke club kota selazimnya.

Dekadenz mebuktikan bahwa music sidestream juga dilirik oleh club-club besar sebagai alternatif dari music club pada umumnya. Dekadenz bermain di BAIA menunjukan bahwa music sidestream juga bisa dimainkan dalam skala yang lebih besar. Harapannya BAIA konsisten dalam upayanya, sebagai ruang ekpresi bermusik yang terus memperkenalkan varasi dance music ke pendengar yang lebih luas dan ke skala lebih besar.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Perbandingan Visual Cerita Sukses Joey Alexander & Rich Brian

Dalam rangka ngabuburit, kami meluangkan waktu "stalking" akun instagram musisi ...

Dominate Jakarta dan Akar Akar Musikalnya

Berbicara dengan Dominate mengenai roots mereka di musik.

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha Okokan Brahma Diva dan Bali Extreme Drummer

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...

Katalis Kota: Sepenggal Sejarah Budaya Dance Music di Jakarta

Musik itu angin, partynya fokus, DJ itu udah kayak foto model dan mungkin Jakart...