fbpx

Sirkuit Terakhir Y2K18 Live Looping Asia

Napak tilas Live Looping Asia, berawal dari tahun 2000 silam saat Randolf dan Loopers Delight, sebuah komunitas Live Looping asal Amerika, menjalin hubungan perama mereka melalui myspace.

Pada laman facebook Live Looping Asia, terlampir surat singkat oleh Randolf Arriola, sebuah manifesto kecil kelompok tersebut. Diawali dengan salam hangat untuk publik yang beragam, Randolf menceritakan betapa renjana hatinya untuk saling bahu-membahu mengembangkan, mengeksplorasi, kalau perlu merancang ulang ide-ide tentang konsep, teknologi, maupun metode dalam ranah musik, terutama yang erat dengan musik elektronik, looping. Betapa riuh semangatnya untuk selalu mengusahakan bentuk-bentuk kolaborasi atau setidaknya pertemanan baru,  dari situ diharapkan lahirnya jembatan yang mengantarkan kita kepada keberagaman budaya dari dunia yang saling terhubung. Juga mencoba untuk melewati batas-batas motif transaksional yang ekonomis dalam berbagi, dan akhirnya menciptakan hal-hal baik atas lingkaran-lingkaran kecil kolektifitas yang saling bertautan satu dengan lainnya.

 

Sudah bisa diasumsikan dari nada-nada ambisius dalam suratnya, Randolf Arriola merupakan penggagas utama Live Looping Asia. Musisi dari Singapura ini, setidak-tidaknya sudah 30 tahun menjalani hidup dalam bermusik, baik melakoni maupun mengorganisasi sebuah pertunjukan, rekaman, produksi, maupun distribusi. Tidak lepas juga untuk menaruh keprihatian dan entusiasmenya atas perkembangan teknologi dalam industri. Karya-karya Randolf sendiri merupakan bentuk pemalgamangan sonik yang menguap dari suasana organik, dibentuk dan dilakukan dari rangkaian pikiran, tergambar melalui suara gitar dan vokal yang saling terlapisi hingga menjadi rajutan fraktal. Kiasan dari yang akrab dan abstrak, sederhana hingga kompleks, minimal dalam memadat. Semuanya terjalin dalam sebuah interaksi dengan momen, ruang, dan keadaan. Rangkaian padanan atas bangunan harmonik yang merangkul dan juga memperluas melampaui era, budaya, afiliasi, dan budaya.

 

Napak tilas Live Looping Asia, berawal dari tahun 2000 silam saat Randolf dan Loopers Delight, sebuah komunitas Live Looping asal Amerika, menjalin hubungan perama mereka melalui myspace. Pada saat itu, Randolf merasa tidak banyak ruang di negaranya, apalagi ketika melihat latar belakang keluarga Randolf sebagai etnis Indo-Filipina yang dilihat sebagai kaum, sehingga ia harus mencari kemungkinan yang lain. Bisa dikatakan kemungkinan-kemungkinan lain itu tercipta, tahun 2007 Randolf berkolaborasi dengan Loopers Delight di salah satu negara bagian Amerika. Kemudian ketika semangatnya mulai tidak terbentung untuk memberanikan dan merangkul musisi-musisi di sekitar tempat kelahirannya, pada tahun 2014, Randolf membentuk Live Looping Asia.

 

Sudah 4 tahun Live Looping Asia tumbuh, pada tahun 2018 ini, berbarengan dengan agenda (International) Loopers Delight untuk merangkai kolaborasi dalam 57 kota di 21 negara di seluruh dunia. Bersama kurang lebih 70 pelaku kreatif lainnya Looping Asia,  menrangkul sebagian cakupan dari agenda itu, di mana terdapat 15 kota dalam 7 Negara. Setelah Saigon, Hua Hin, Yangon, Bangkok, Penang, Lumut, Malacca, Kuala Lumpur, Petaling Jaya, Johor Bahru, Singapura, Pagsanjan, Manila, dan Bali, tiba perhelatan terakhir Live Looping Asia yaitu Yogyakarta.

Di Yogyakarta, Yes No Klub hadir sebagai rekan koordinasi acara untuk kemudian membagi pertunjukan ke dalam 2 hari, dari 7 Desember dan berakhir pada 8 Desember 2018. Di samping beberapa nama yang familiar di skena musik bising jogja, musik tekno maupun performance art yang turut meramaikan, seperti Indra Menus, Latex, dan Willem Christiawan. Ada juga Bram Triat Mojo (IDN), Mahamboro (IDN), Harith Redzuan (SNG), Kai Lam (SNG), James Sidlo (USA), Evan Keith (AUS), Ikbal Lubys (IDN), Hideki Nakanishi (JPN), dan Randolf Arriol sendiri.

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...