fbpx

Sunmantra: sang Discobilly

Bagaimana jadinya jika rockabilly bertemu dengan dark disco?

Kabar perihal kolaborasi lintas genre selalu menarik untuk diperhatikan. Apalagi ketika yang dipertemukan adalah dua aliran yang tidak terpikirkan sebelumnya. Seperti dark disco dan rockabilly yang telah berhasil diupayakan Sunmantra dan The Hydrant. Hingga menghasilkan satu nomor kolaboratif bertitel ‘Trans Europe Ramblers’ yang baru saja dirilis.

Sebelum berangkat ke Bali dalam agenda penampilan perdana kolaborasi tersebut di konser Franz Ferdinand, saya bertemu dengan ke-tiga personel Sunmantra untuk ngobrol-ngobrol santai perihal persekutuan nya dengan The Hydrant. Mereka adalah Jojo (J), Fritz (F), dan Omar (O).

 

Bagaimana cerita awalnya? tentang ide kolaborasi dan proses penulisan lagu ‘Trans Europe Ramblers’.
F  :                 Jadi setelah kita pernah nge-remix satu lagu The Hydrant, ada waktu dimana mereka dateng ke Jakarta. Disitu kita ngobrol-ngobrol, lempar wacana untuk bikin satu lagu bareng. Dan ternyata mereka punya satu demo lagu  yang belom dirilis. Akhirnya setelah mereka kirimin lagunya, kita isi-isi deh tuh. Tapi rasanya kayak masih ada yang kurang, harus di-take ulang biar puas.

J  :                 Yoi, jadilah gue berangkat ke Bali buat rekaman di sana. Dan emang hasilnya jadi beda banget dari demo version nya. Hanya beberapa unsurnya yang dipertahankan, kayak harmonika, beberapa part lead organ, sama liriknya.

 

Setelah me-remix lagu the hydrant, kenapa kembali memilih berkolaborasi dengan unit musik yang sama?

J  :                 Simple nya gara-gara kita suka rockabilly aja sih. Kayak misalnya lo dengerin rilisan kita sebelumnya yang ‘When You Bite My Lips’. Disitu kan permainan gitarnya jelas banget ngebawa nuansa surf dan rockabilly.

F :                 Akhirnya kita mikir, daripada cuma bikin lagu pakai gaya rockabilly, sekalian aja deh ajak band nya.

 

Memang sejauh apa kalian suka dengan rockabilly? Sampai-sampai kalian bilang kolaborasi ini adalah mimpi kolosal.

J :                 Gue memang awal nya start dengerin musik dari folk sama country. Jadinya gue juga udah kena sama rockabilly sih dari kecil. Begitu juga pas gue sama Koni (Fritz) mulai-mulai ngeband pas SMP, kita selalu ke rumah temen kita yang emang sering puterin lagu-lagu rockabilly (tertawa).

F :                 Apalagi pas waktu itu kan di tahun 2002 sapai 2005 musik yang ngetop kayak The Brandals atau The Sigit. Jadi ya kita ngulik-ngulik deh roots mereka tuh sebenarnya dari mana sih.

 

Dalam konteks komposisi nya, ada enggak sih relasi yang kalian temukan dari dance music dan rockabilly?

J :                 Yang pasti keduanya sama-sama punya elemen yang bisa bikin orang joget sih

F :                 Sekarang juga ada loh beberapa produser dengan beat four by four yang pakai tangga nada rockabilly atau psychobily.

J  :                 Iya, contohnya kayak Curses tuh.

 

Apakah kolaborasi ini merupakan satu agenda khusus agar Sunmantra bisa meraih audiens yang lebih luas? Seperti penikmat music indie rock misalnya.

F :                 Tujuannya lebih ke arah eksplorasi sama edukasi sih. Kita pengen kasihtau ke orang-orang kalau ternyata musik yang kayak gini bisa digabungin sama jenis musik lain yang enggak kepikiran sebelumnya.

 

Kenyataannya belakangan banyak  penikmat live music gigs yang juga mulai suka datang ke acara-acara musik dalam format party. Bagaimana pandangan kalian mengenai hal ini?

J :                 Bagus banget dong. Let’s say gue dateng ke acara Dekadenz pake baju Black Flag. Yaa gue emang suka sama dua-duanya. Dan menurut gue hal itu nunjukin gue punya progres soal ngedengerin musik, karena kan makin luas. Begitu juga orang-orang lain yang kayak gue.

O :                 Gue sendiri sebagai performer ngeliat crowd makin diverse makin seru sih. Ini menurut gue kemajuan buat scene.

F :                 Menurut gue dengan begini bisa menghasilkan banyak hal baru sih, musik-musik baru. Kayak kalau kita Tarik ke zaman dulu pertama kalinya ada Rammstein misalnya, yang masukin unsur elektronik ke format band. Dari situ kan akhirnya malah kebentuk satu jenis musik yang baru.

Mana yang lebih menarik bagi Sunmantra? Tampil di gelaran live music gigs atau party? Kenapa?

F :                 Dua-duanya punya energi yang beda sih.  Selama spirit nya kena ya asik-asik aja. Kayak pas kita tampil di Jaya Pub dengan drum set yang pastinya bikin powernya beda. Kita lihat orang-orang enjoy kitanya juga jadi asik aja sih.

J :                 Tapi emang challenging sih. Sebelum main tuh kita selalu mikirin dulu acaranya kayak gimana, dan dari situ juga kebayang warna musik kayak apa yang mau kita bawain. Jadi Sunmantra tuh bisa dibilang setiap kali main set nya beda.

 

Sunmantra sekarang tergabung dalam kolektif Pon Your Tone yang diprakarsai Dipha Barus. Bagaimana ceritanya awalnya?

J :                 Pon Your Tone untuk rilisan terbaru kita ini bertindak sebagai label. Tapi memang dari dulu kita udah temenan dan saling support sama anak-anak PYT. Karena Sunmantra dan PYT punya visi yang sama, memperkenalkan musik yang baru ke industri musik Indonesia.

 

Citra PYT sendiri kan selama ini lekat dengan musik hip hop, Rnb, sampai trap. Enggak merasa canggung ada ditengah-tengah ekosistem yang berbeda?

J:                 Crowd PYT sekarang mungkin emang buka crowd nya Sunmantra. Dan setelah tampil di PYT kita juga enggak langsung dapet engagement yang signifikan. Tapi yang paling penting adalah gimana Dipha lewat PYT tuh punya visi yang sama kayak kita. Yaitu tadi, buat ngasih tau kalau musik elektronik tuh banyak jenisnya.

Emang yang salah adalah stigma kebanyakan orang aja sih yang melihat PYT cuma khusus bawain trap dan hip hop. Lo coba deh ngobrol sama Dipha, sebenarnya visi dia tuh bukan itu lagi. Dipha sendiri juga berangkat dari musik-musik kayak deep house kok.

 

Banyak orang beranggapan kalau musik elektronik semuanya bisa dikerjakan dan ditampilkan secara mandiri/solo. Apa pertimbangan Sunmantra yang justru memutuskan untuk menambah satu personel lagi? Emang nambah alat aja enggak cukup?

F :                 Pastinya nambah personel nambah warna baru lagi yang enggak bisa sekedar digantiin sama alat. Kita emang punya kemiripan sama Omar, tapi gimanapun dia bisa kasih warna nya tersendiri di Sunmantra.

J :                 Dia di sini juga kan ngisi posisi drum machine sama percussion. Jadi pastinya bikin Sunmantra bisa tampilin sound yang lebih rich.

O :                 Gue juga mau join karena ngerasa musik gue cocok sama mereka. Sound gue pun juga terwakilkan di Sunmantra. Kalo bukan karena itu mah gue jadi crew mereka aja mendingan (tertawa).


 

Track ‘Trans Europe Ramblers’ telah dirilis hari ini, 30 November 2018 via label Pon Your Tone. Penasaran seperti apa hasil kolaborasi Sunmantra dengan The Hydrant? silahkan simak lagunya di bawah ini

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...