fbpx

Titik-Titik Terang Dari 2018

Cerita-cerita baik di tahun 2018.

Mari bicara realita, bahwa seperti hal nya tahun 2018, tidak ada kurun waktu yang benar-benar baik. Sejak tahun ini legenda Aretha Franklin, Stan Lee, hingga Anthony Bourdain hanya akan jadi kenangan. Bersama mereka yang juga pergi di usia muda, seperti Mac Miller dan Avicii.

Selain kabar kehilangan masa hidup, tahun ini kita juga kehilangan sengitnya kompetisi satu liga antara Christiano Ronaldo dan Lionel Messi. Yang ada justru pertandingan Final Piala Dunia yang tidak begitu diharapkan. Raksasa Eropa, Perancis berhadapan dengan peserta medioker, Kroasia. Untuk penantian empat tahun, pertandingan tidak seimbang tersebut terbilang antiklimaks.

Lalu apa lagi yang buruk dari 2018? Sederet hal-hal konyol yang jadi viral? Penyebaran hoax yang tidak terkontrol? Ah, banyak pokoknya.

Tapi toh 2018 juga tidak benar-benar buruk. Ada film horror depresif Hereditary yang super keren, Kendrick Lamar dapet Pulitzer Prize, sampai ditemukannya zat kimia dimethylpolysiloxane pada kentang goreng fast food yang dapat menyehatkan rambut (jadi lumayan lah ya, ada efek baiknya).

Berhubung tim Frekuensi Antara tidak suka makan fast food dan lebih memilih makanan yang bernutrisi tinggi, kami menganggap ada banyak hal lain yang lebih hebat di tahun 2018. Hal-hal yang terjadi di sekitar kami, tentunya. Yang cerita baiknya di tahun 2018 kami anggap sebagai titik terang yang siap memeriahkan jalan nya tahun 2019.

 

 

Koordinat Tinggi Hip hop Nusantara

Gunung kejayaan telah berhasil ditaklukan para pelaku musik Hip hop Indonesia angkatan muda. Mereka tidak naik ke atas sendiri-sendiri, melainkan saling berpegangan. Hingga saat serentak mata mengadah ke-atas, didapatkan banyak sekali orang di atas sana. Mereka saling merangkul, mendukung, dan dengan caranya sendiri mereka juga bersenang-senang. Orang-orang itu membentuk suaka yang kuat.

2018 adalah tahun yang mengejutkan untuk Hip hop Nusantara. Penghargaan musik Indonesia paling akbar bahkan untuk pertama kalinya memberi banyak kursi nominasi atas karya-karya hip hop. Salah satunya, Ariel Nayaka, malahan menjadi nominator di kategori Album terbaik.

Popularitas ini sebetulnya jelas merupakan akibat dari trend dunia hari ini atas budaya hip hop yang terintegrasi. Mulai dari tingginya angka peningkatan jumlah rapper hingga sandang ber-label street wear yang merajalela.

Namun yang paling menarik dari membicarakan hip hop kita hari ini adalah suasana hangatnya yang seperti keluarga. Entah apa yang ada dipikiran, tapi jelas yang muncul dari bibir dan gestur adalah damai dan dukungan yang penuh. Ramainya proyek kolaborasi yang dihasilkan di sepanjang tahun 2018 bisa jadi tolak ukurnya.

 

Resolusi 2019: Hip hop bukan hanya tentang yang besar menjadi semakin besar. Tapi harus bisa melihat ke bawah dan turut mendukung mereka yang terinspirasi karena kalian.

 

Musik Dansa Dengan Muatan Lokal

Di tahun 2018 nama Diskoria ternyata masih lalu lalang di berbagai pentas musik. Popularitas DJ duo pengusung lagu-lagu Indonesia ini justru semakin melejit tak terkendali. Boleh dibilang rezeki nya pun menyambar para musisi senior yang karya-karya nya kerap dibawakan. Seperti Fariz RM, Potret, The Groove, hingga Reza Artamevia yang sekarang jadi semakin sering berpentas.

Kini bukan hanya Diskoria yang meramaikan lantai dansa dengan lagu-lagu berbahasa Indonesia. Bangkit dari redupnya, Barakatak pun kembali dan bergoyang again. Raksasa konten vcd bajakan yang telah tertidur selama kurang lebih 15 tahun itu mengadakan pertunjukan reuni nya di gelaran Netaudio Festival 3.0, Jogja, bulan Agustus kemarin.

Lagu-lagu mereka yang merupakan kombinasi dangdut dan house music tanah Sunda sudah lama melegenda. Beberapa DJ bahkan pernah membawakan karya-karya nya yang sarat dengan lirik-lirik nyeleneh namun relevan bagi sebagian budak pesta.

Selain Barakatak, hadir juga Prontaxan, kelompok musik penggubah lagu-lagu musisi indie Tanah Air. Muda-muda dari kota Jogja ini me-rekomposisi nomor-nomor tersebut menjadi track funky kota berkecepatan tinggi. Lewat internet, keunikannya lantas menyabet perhatian banyak penikmat musik. Tidak hanya di rumahnya di Jogja, namun hingga seantero tanah Jawa.

 

Resolusi 2019: Tidak hanya untuk nostalgia dan lucu-lucuan. Lagu dansa dengan lirik berbahasa Indonesia seharusnya juga bisa terlihat benar-benar keren. Dark disco dengan vokal berbahasa Minang mungkin? Kayaknya seru.

 

Skena Pesta After Hours Naik Kelas

Jika hasrat untuk berpesta tidak juga padam di pukul empat pagi, harus lanjut kemana lagi? Satu bulan sekali di Jakarta, tancap gas ke area Kota jadi jawabannya. Paling tidak sejak tahun 2015, dimana Enter the Void (ETV), gelaran pesta after hours rutin digelar di The Void Room, Colosseum Club.

Cukup mengejutkan ketika di tengah tahun 2018 serial ETV berlanjut tanpa para resident DJ nya. Menimbulkan pertanyaan berikut kekecewaan; satu-satunya tempat yang sanggup menampung nazar kita untuk lanjut berpesta tidak lagi sama. Bahkan kabar tidak enak datang menyusul- 27 Juli 2018 diadakan The Void Room Finale, pesta terakhir di ruang yang penuh kenangan itu.

Rupanya manajemen Colosseum bersama NVB sudah menyusun agenda lain. Sebuah ruangan pengganti telah disiapkan, Baia namanya. Yang dengan kapasitas lebih besar serta sistem suara berkualitas tinggi siap menampung kaki-kaki yang masih ingin menari hingga pagi.

Estafet panjang penampilan DJ-DJ terpilih dihelat sebagai pesta pembukaan. Tidak tanggung-tanggung, 17 nama bergantian tampil dalam kurun waktu 45 jam. Kapan lagi bisa masuk club setelah makan siang?

Kini ETV kembali rutin digelar di Baia. Bergeser hanya sejauh langkah-langkah kaki, kota Jakarta kembali bisa menikmati gemerlap pagi. Bahkan semakin meriah dengan didatangkannya para bintang tamu internasional.

 

Resolusi 2019: Semoga Baia bisa menawarkan musik yang semakin beragam. Serta menjadi ekosistem after hours party yang lebih nyaman dan aman. Siapa tahu bisa bikin banyak investor tergoda juga untuk membuat after hours club tandingan.

Dokumentasi oleh ledscontrol.com

 

Panggung Yang Tepat Untuk Para Musisi Elektronik Eksperimental

Paradigma umum yang muncul terhadap musik elektronik seringkali tentang keterhubungannya dengan dance music. Meskipun jelas bahwa keduanya merupakan dua hal yang berbeda. Ada begitu banyak pentas-pentas musik elektronik yang tidak sedikitpun mencerminkan variabel-variabel dance music. Beberapa yang berjaya di tahun 2018 antara lain adalah Alur Bunyi dan Nusa Sonic.

Setelah Goethe-Institut Indonesien rutin mementaskan musisi-musisi elektronik lintas format sejak tahun 2017. Perbendaharaan penikmat musik akan sosok-sosok dalam negeri yang berkarya pada konteks elektronik semakin meluas.

Lewat presentasi musik yang pastinya tidak akan sering didapatkan di pertunjukan-pertunjukan lain nya, publik mulai belajar dan terlatih untuk melihat dan menikmati musik lewat spektrum yang lebih luas. Sesuai dengan latar belakangnya, Alur Bunyi awalnya merupakan rangkaian pertunjukan musik Anders Hören, yang mengasah audiens untuk mendengar dengan cara berbeda.

Setelah sebelumnya dikurasi olek Aksan Sjuman, di tahun 2018 bangku kurator diisi oleh seniman musik muda, Gerald Situmorang. Untuk tampil di panggung Alur Bunyi sepanjang tahun 2018, diundanglah nama –nama seperti Gardika Gigih, Tomy Herseta, Random Brothers, A Fine Tuning Creation, Uwalmassa, dan masih banyak lagi.

Masih dari inisiatif pusat kebudayaan Goethe-Institut, namun kali ini dari ranah Asia Tenggara- diadakan sebuah festival bertajuk Nusasonic. Yang diadakan pada tanggal 2-13 Oktober 2018 di Yogyakarta, Indonesia.

Nusasonic dimulai dengan laboratorium dimana musisi ditandemkan, sebuah hacklab, dan sekelompok sonic wilderness bermain bersama serta mencipta karya, ide dan kemungkinan musikal baru. Pada penghujung minggu, festival ini mempertunjukkan hasil kerjasama tersebut dalam sebuah program yang mencakup konser, klub malam, acara outdoor gerilya serta program diskusi, panel dan lokakarya.

Berbagai seniman yang turut memeriahkan Nusasonic antara lain; Setabuhan (Indonesia), Opium Hum (Jerman), AGF (Finlandia), Jogja Noise Bombing (Indonesia), Mobile Girl (Jerman), Sote (Iran), dan lain-lain.

 

Resolusi 2019: Agar lebih banyak pertunjukan dengan konsep kuratorial serupa. Guna membuka mata dan telinga audiens akan begitu banyaknya seniman musik canggih yang mungkin belum banyak dikenal. Hal ini tentunya juga akan memantik inspirasi bagi gelombang seniman musik berikutnya.

 

Arsip Sejarah Skena Musik Kita

Selalu menarik untuk melihat sejarah dari hal-hal yang kita gemari, dan alangkah baiknya jika kita mementingkan hal tersebut. Jelas tujuannya bahwa cerita-cerita di masa lalu dapat membuat kita semakin menghargai apa yang kita gemari, lakukan, dan pertahankan. Yah, Jasmerah gitu deh.

Seperti hal nya skena dance music di Indonesia. Yang pastinya memiliki sejarah panjang di masing-masing kota nya. Di tahun 2018 Frekuensi Antara mencoba merangkum artefak-artefak tersebut untuk disusun dan diceritakan ulang lewat serial dokumenter Katalis Kota.

Bukan nya gede rumangsa (ge-er) nih, tapi tim Frekuensi Antara seneng banget loh kalau lewat Katalis Kota kami bisa jadi bagian dari pengarsipan informasi tentang dance music scene dari dulu hingga hari ini. Harapan nya bisa menginspirasi kalian untuk lebih lagi terlibat pada perkembangan ekosistem musik kita.

Tapi dalam hal ini Frekuensi Antara tidak sendiri. Di tahun 2018, beberapa pihak lain juga semakin aktif menggali informasi perihal tumbuh kembang skena musik lokal. Seorang DJ senior bahkan dikabarkan tengah menggarap proyek serupa. Yang hebatnya, dokumenter tersebut sepertinya akan memulai cerita dari titik waktu yang lebih jauh lagi di belakang.

 

Resolusi 2019: The Medium is the message. Tidak harus dalam bentuk video, tapi semoga semakin banyak yang dapat mengakses dan berbagi cerita seru tentang skena generasi sebelumnya.

 

Be the first to comment.

You must be logged in to leave a comment.

Related News

Memetakan Arus Bawah: Dari Budaya Berbagi, Perform...

Indonesia Netaudio Festival hadir kembali setelah absen selama empat tahun.

Xeroxed 5×2: Pasukan Cetak yang Mulai Menggeliat

Belakangan ini, dunia percetakan dan penerbitan kelompok kecil kembali bermuncul...

Visualisasi Lagu dengan Fotografi bersama Bikin Ru...

Bikin Ruang menggelar pameran foto dengan tema visualisasi lagu, berkolaborasi d...

Garapan Kolaborasi “Bali Project” oleh Sekeha ...

Pada saat itu hujan lebat, gelap gulita, kilat, dan petir bersamaan dengan suara...